Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
700 Pekerja Migran Malaysia Disekap Kasino Milik China
BERITABALI.COM, DUNIA.
Sekitar 700 pekerja migran Malaysia disekap di kasino dan resort-hotel milik China di Laos. Mereka menjadi subjek kekerasan manajer resort.
Pihak resort juga meminta tebusan besar untuk pembebasan para pekerja.
Berdasarkan beberapa sumber Radio Free Asia, kebanyakan dari mereka menjadi korban penipuan lowongan secara virtual. Mereka dijanjikan bekerja di Zona Ekonomi Khusus (SEZ) Segitigas Emas di Provinsi Bokeo.
"Saya melihat banyak pekerja Malaysia bekerja di SEZ," kata salah satu pekerja Laos di zona Segitiga Emas kepada RFA pada 29 September.
"Sebenarnya, saya melihat banyak orang di sini berasal dari berbagai negara, termasuk Vietnam, Myanmar, dan Malaysia. Mereka bekerja di berbagai bidang, tetapi kebanyakan dari mereka yang bekerja di Segitiga Emas bekerja secara virtual sebagai penipu," lanjutnya.
Sementara itu, pekerja Laos lain menuturkan sulit bagi pekerja asing yang bekerja di SEZ untuk bisa kabur dari zona tersebut atau mendapatkan perlindungan dari kekerasan.
"Majikan China menyita paspor dan ponsel mereka, dan kebanyakan pekerja dibatasi di bangunan mereka," kata sumber kedua.
Sumber ini juga menuturkan pekerja asing memiliki sejumlah kebingungan untuk melaporkan kekerasan yang mereka terima, salah satunya karena keterbatasan bahasa.
"Ketika pekerja asing dianiaya oleh majikan China, mereka tidak tahu apakah mereka harus melaporkan kekerasan ke gugus tugas SEZ pemerintah atau ke kedutaan besar negara mereka," lanjutnya.
Sementara itu, media Malaysia New Straits Times melaporkan bahwa pekerja asing yang ditahan di SEZ mengalami kondisi mengerikan, termasuk pemukulan dan penyiksaan. Tak hanya itu, beberapa pekerja bahkan dilaporkan ditembak karena menolak menaati aturan.
"Beberapa pekerja dipercaya dijual dari satu agen ke agen lain, dari satu perusahaan ke perusahaan lain, atau lebih buruk, perdagangan antar negara," demikian laporan dari media itu.
"Sindikat penipuan itu juga meminta uang tebusan dari keluarga korban dari rentang RM50 ribu (Rp164 juta) hingga RM100 ribu (Rp328 juta) untuk merilis korban," bunyi pemberitaan itu lagi.
Di sisi lain, anggota kelompok hak asasi manusia Malaysia dan orang tua dari pekerja yang disekap melangsungkan protes di kantor Kedutaan Besar Laos di Kuala Lumpur pada 26 September.
Mereka mendesak pemerintah Laos turut membantu pengamanan pembebasan para pekerja migran itu.
Salah satu pedemo, Hishamuddin Hashim, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Organisasi Kemanusiaan Internasional Malaysia, menuturkan banyak pekerja Malaysia yang terjebak di Laos meminta bantuan dari polisi Laos tetapi tak mendapatkan respons.
Namun, seorang pejabat Laos mengaku Kedutaan Besar Malaysia di Laos telah mengontak Kementerian Luar Negeri Laos dan Interpol untuk meminta bantuan pembebasan pekerja Malaysia.
"Kementerian Luar Negeri Laos sering merespons permintaan seperti itu. Saya tidak tahu bagaimana warga Malaysia bisa bekerja di Laos, tetapi saya tahu kebanyakan dari mereka bekerja di Segitiga EMas SEZ di Provinsi Bokeo," ujar pejabat itu.
Sementara itu, pejabat Kedutaan Besar Malaysia di Laos mengaku masih melakukan riset masalah ini sebelum menjawab pertanyaan dari RFA.
Segitiga Emas SEZ sendiri merupakan pusat judi dan pariwisata untuk masyarakat China di Sungai Mekong.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5943 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4656 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2629 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2282 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2222 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan