Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 31 Oktober 2026
Dunia Kacau Balau, Sinyal Resesi Global 2023 Menguat
BERITABALI.COM, DUNIA.
Sinyal resesi global 2023 kian terasa kuat jelang akhir 2022. Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) mulai pasang 'kuda-kuda'.
Presiden Bank Dunia David Malpass dan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional Kristalina Georgieva memperingatkan tentang meningkatnya risiko resesi global dan mengatakan inflasi tetap menjadi masalah yang berkelanjutan setelah serangan Rusia ke Ukraina.
"Ada risiko dan bahaya nyata dari resesi dunia tahun depan," kata Malpass dalam dialog dengan Georgieva pada awal pertemuan langsung pertama kedua lembaga sejak pandemi Covid-19, Senin (10/10/2022), dikutip Reuters.
Dia mengutip perlambatan pertumbuhan di negara maju dan depresiasi mata uang di banyak negara berkembang, serta kekhawatiran inflasi yang sedang berlangsung.
Adapun, Georgieva pekan lalu mengatakan pemberi pinjaman global akan menurunkan perkiraannya untuk pertumbuhan global sebesar 2,9 persen pada 2023 ketika merilis World Economic Outlook. Menurutnya, hal itu disebabkan oleh pandemi COVID-19, invasi Rusia ke Ukraina dan bencana iklim di semua benua.
Pada Senin, dia mencatat bahwa aktivitas ekonomi melambat di ketiga ekonomi utama - Eropa, yang telah terpukul keras oleh harga gas alam yang tinggi; China, di mana volatilitas perumahan dan gangguan Covid-19 menyeret turun pertumbuhan; dan Amerika Serikat, di mana kenaikan suku bunga mulai berdampak.
Malpass dan Georgieva senada menilai perlambatan pertumbuhan di negara maju, kenaikan suku bunga, risiko iklim, dan berlanjutnya harga pangan dan energi yang tinggi sangat memukul negara-negara berkembang. Mereka pun menyerukan tindakan bersama untuk membantu pasar negara berkembang.
Georgieva, kepala IMF pertama dari ekonomi pasar berkembang, mengatakan ekonomi maju perlu mengendalikan bahaya besar dan menakutkan dari krisis utang karena itu akan memengaruhi semua negara, bukan hanya mereka yang memiliki beban utang tinggi.
Baca juga:
Sekjen PBB Kecam Serangan Rusia ke Ukraina
"Bukan gambaran yang cerah. Tetapi jika kita bergabung, jika kita bertindak bersama, kita dapat mengurangi rasa sakit yang ada di depan kita pada tahun 2023," tuturnya.
Georgieva mengatakan IMF akan mengadvokasi bank sentral untuk melanjutkan upaya mereka menahan inflasi, meskipun berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi.
Jika mereka tidak melakukan cukup, katanya, dunia akan berada dalam masalah.
Dia pun menegaskan langkah-langkah fiskal harus ditargetkan dengan baik untuk memastikan mereka tidak menambahkan lebih banyak "bahan bakar ke api inflasi."
Sementara itu, Malpass, yang mendapat kecaman bulan lalu karena menolak mengatakan apakah dia menerima konsensus ilmiah tentang pemanasan global, mengatakan para pejabat di bank tersebut bekerja keras untuk membebaskan lebih banyak dana guna mengatasi masalah iklim yang dihadapi begitu banyak negara berkembang.
Georgieva sendiri mengatakan dunia membutuhkan US$ 3 triliun hingga US$ 6 triliun yang mengejutkan untuk mengatasi perubahan iklim.(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 6011 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4692 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2664 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2342 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2241 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan