Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 28 Mei 2026
3 Dampak Buruk Hubungan FWB di Mata Seksolog
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Istilah friends with benefits (FWB) bukan lagi menjadi hal yang asing di era sekarang. Bahkan, saat ini banyak orang yang merasa nyaman menjalani hubungan FWB atau teman tapi mesra (TTM) karena merasa tidak perlu berkomitmen dan terus terikat.
Baca juga:
Sedang Viral Hubungan Seks FWB, Apa Itu?
Padahal di sisi lain, hubungan FWB tidak lepas dari berbagai kerugian yang mungkin dialami salah satu atau kedua belah pihak. Seksolog klinis Zoya Amirin, MPsi, FIAS menguraikan pandangannya.
Dia menyebut, setidaknya ada tiga risiko dampak buruk hubungan friends with benefits.
1. Sulit mengelola perasaan
Risiko pertama bagi para pelaku FWB adalah kesulitan mengelola perasaan. Mereka yang terlibat dalam hubungan FWB tidak akan mampu melarang teman kencannya untuk mengembangkan perasaan cinta.
Pasalnya, tidak ada satu pun yang dapat mengantisipasi kapan dan bagaimana benih-benih cinta itu tumbuh.
Tak usah dengan teman dekat, terkadang kita juga dapat mengembangkan perasaan romantis dengan seseorang yang mungkin selama ini menjadi "musuh bebuyutan".
Apalagi dengan teman dekat. Oleh karena itu, akan lebih baik jika kita menjelaskan niat melakukan hubungan FWB sejak awal kepada teman tersebut. Juga, tidak menutup kemungkinan apabila perasaan romantis berkembang seiring hubungan FWB berjalan. Ketika itu terjadi, kita membutuhkan waktu untuk menentukan sikap kepada teman itu.
2. Risiko infeksi seksual dan hamil di luar nikah
Risiko pelaku FWB untuk mengalami infeksi menular seksual menjadi lebih tinggi daripada mereka yang tidak menjalani hubungan ini. Fakta itu tidak lepas dari keengganan "sex buddy" menggunakan alat kontrasepsi ketika bercinta karena bermodalkan rasa saling percaya.
Di samping infeksi menular seksual, dan penyakit HIV/AIDS, hubungan FWB juga rentan akan kehamilan di luar nikah. Rasa saling percaya ini merupakan hal yang konyol, karena mereka tidak mempertimbangkan risiko yang timbul.
Berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan, sekitar 7-8 dari 10 pasien dengan infeksi menular seksual adalah pasien yang menerapkan hubungan FWB. Maka, baik kepada pelaku FWB --maupun mereka yang terlibat dalam hubungan berkomitmen-- untuk rutin memeriksakan kesehatan seksual, serta menggunakan alat kontrasepsi saat berhubungan intim.
3. Merusak hubungan pertemanan
Hubungan FWB biasanya dilakukan oleh dua orang yang baru saling mengenal dan belum memiliki kedekatan. Rata-rata orang yang sudah berteman lama enggan mencoba FWB.
Mereka lebih memilih untuk menjaga pertemanan mereka, atau justru benar-benar berkencan. Namun ada pula kasus di mana dua orang yang sudah lama mengenal memutuskan untuk "mencicipi" hubungan FWB.
Alhasil, hubungan pertemanan menjadi canggung. Apalagi, kedua pelaku FWB tersebut sama-sama memiliki kekasih di luar hubungan mereka.
Pada akhirnya kedua orang ini sudah menikah dengan orang lain pilihan mereka. Pertemanan mereka pun rusak dan tidak dapat diperbaiki.
Jadi, jika sedari awal kita ingin mencari komitmen serius, maka sebaiknya tidak mencoba memulai hubungan FWB. Sebab hubungan FWB sulit berhasil.(sumber: kompas.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pengendara Scoopy Tewas Terlindas Mobil di Mengwi Badung
Dibaca: 2216 Kali
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 2100 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1556 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 1442 Kali
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli