Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 Juli 2026
Krisis 2023 Yang Diramal Sri Mulyani Sangat Berat
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, ketidakpastian ekonomi global membuat krisis pangan di tahun depan akan semakin berat. Hal tersebut disampaikan Sri Mulyani dalam seminar nasional Badan Keahlian DPR RI, Rabu (19/10/2022).
"Di dalam pertemuan G20 diprediksikan krisis pangan tahun depan mungkin akan jauh lebih berat," ujarnya.
Perang Rusia dan Ukraina yang masih terus terjadi menjadi salah satu penyebab krisis pangan di 2023 kemungkinan akan lebih berat dibandingkan tahun ini.
Sri Mulyani bilang, Ukraina sebagai pemasok terbesar kebutuhan pangan dan pupuk untuk dunia, membuat saat ini harga pangan juga sudah melambung tinggi.
"Karena akses terhadap pupuk yang sekarang ini sangat-sangat terkendala akan mempengaruhi jumlah dari bahan pangan, tidak hanya tahun ini tapi justru tahun depan. Ini yang perlu kita waspadai," kata Sri Mulyani lagi.
Harga pangan seperti kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) serta gandum juga saat ini terus mengalami gejolak. Gejolak harga komoditas pangan ini pula yang menyebabkan inflasi di sejumlah negara.
Seperti di Amerika Serikat (AS) di mana inflasi pada September 2022 menyentuh level 8,2 persen, Uni Eropa 9,1 persen, Inggris Raya 9,9 persen. Sementara Indonesia masih terjaga pada kisaran 5,9 persen pada September 2022.
"Kita bicara 40 tahun di mana inflasi hari ini di Amerika, Inggris, Eropa ini adalah yang tertinggi. Ini berarti 4 dekade di benua Amerika, Inggris dan Eropa. Itu mereka belum pernah mengalami inflasi yang setinggi ini," jelas Sri Mulyani.
Dalam meredam inflasi yang tinggi tersebut membuat Bank Sentral di Inggris, AS, dan Eropa harus menaikkan suku bunga secara agresif, kenaikannya bahkan sebesar 75 basis poin (bps) dalam setiap keputusan moneternya.
Hal tersebut, kata Sri Mulyani akan menyebabkan pengetatan likuiditas, terutama hard currency dalam hal ini Dolar AS maupun Euro juga akan semakin menekan perekonomian.
"Nah kombinasi high inflation terutama karena komoditas dikombinasikan dengan high interest rate, yang akan memukul agregat demand ini akan menjadi salah satu fokus dari risiko yang terbesar," jelas Sri Mulyani.(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3883 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2808 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2032 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1983 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1802 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun