Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 Juli 2026
Erdogan Telepon Putin Minta Rusia Habisi Kurdi Imbas Bom Istanbul
BERITABALI.COM, DUNIA.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meminta Presiden Rusia Vladimir Putin membersihkan pasukan Kurdi dari Suriah Utara, yang dianggap bertanggung jawab atas ledakan bom di Istanbul pada November lalu. Pernyataan itu muncul saat Erdogan telepon Putin pada Minggu (11/12).
Baca juga:
Putin Beraksi, Rusia Ancam AS Hingga Jepang">'Saudara Kembar' Putin Beraksi, Rusia Ancam AS Hingga Jepang
"Penting untuk membersihkan (milisi Kurdi) dari perbatasan hingga setidaknya 30 kilometer," kata Erdogan, seperti dikutip Times of Israel.
Ia menegaskan tindakan itu adalah prioritas. Dalam percakapan tersebut, Erdogan juga mengancam akan melancarkan serangan darat ke Suriah utara untuk mengusir pasukan Kurdi. Beberapa pasukan Kurdi berada di daerah di bawah kendali militer Rusia.
Selain itu, Erdogan menuduh Rusia gagal menindaklanjuti kesepakatan tersebut. Turki dan Rusia terlibat dalam perjanjian 2019. Kesepakatan ini berisi penetapan zona aman dan mengakhiri serangan lintas batas dari wilayah Suriah.
Sementara itu, Kremlin mengonfirmasi perjanjian 2019 juga dibahas dalam pembicaraan Erdogan-Putin.
"Pertahanan dan layanan luar negeri kedua negara akan mempertahankan kontak dekat untuk hal ini," demikian pernyataan resmi Kremlin.
Moskow dan Ankara telah bekerja sama secara erat menyoal Suriah. Beberapa bulan terakhir, Rusia juga mendorong rekonsiliasi antara Turki-Suriah.
Rusia juga dianggap sebagai pemain kunci dalam konflik Suriah yang mendukung Presiden Bashar Assad.
Pada 14 November lalu, bom meledak di Istanbul. Imbas kejadian ini, enam orang meninggal.
Pemerintah Turki menyalahkan Partai Pekerja Kuristan (PKK) dan afiliasinya di Suriah Utara, Unit Perlindungan Rakyat (YPG), sebagai dalang serangan tersebut. Namun, kelompok Kurdi menyangkal serangan di Istanbul.
Sejak 20 November, Turki meluncurkan artileri dan serangan pesawat tak berawak di dekat perbatasan Kurdi sebagai respons ledakan bom.
PKK kerap mengobarkan pemberontakan melawan Turki selama 38 tahun. Organisasi ini terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.
Namun, Uni Eropa dan AS tak menetapkan YPG sebagai kelompok teror.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3883 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2764 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2026 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1962 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1799 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun