Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 24 Mei 2026
Banjir dan Badai Acak-Acak California AS, 16 Orang Tewas
BERITABALI.COM, DUNIA.
Setidaknya 16 orang meninggal dunia akibat banjir dan badai yang menerjang California, Amerika Serikat, dalam beberapa hari terakhir. Gubernur California, Gavin Newsom, mengonfirmasi jumlah korban tersebut pada Selasa (10/1).
Menurutnya, badai dan banjir ini "merenggut korban lebih banyak dari kebakaran selama dua tahun belakangan."
Beberapa kematian itu dilaporkan di sejumlah media lokal. Los Angeles Times melaporkan bahwa dua pengendara motor tewas dalam tabrakan di Bakersfield. Kecelakaan itu terjadi karena satu pohon roboh akibat badai.
Selain itu, beberapa media lokal juga memberitakan bahwa pihak berwenang menghentikan pencarian seorang anak berusia lima tahun karena aliran air begitu deras dan berbahaya bagi para penyelam penyelamat.
Fox News melaporkan bocah itu berhasil kabur ketika ia dan ibunya terjebak di dalam mobil yang terkepung banjir. Ibunya sendiri saat ini sudah diselamatkan.
Sementara tim penyelamat berjibaku mencari korban, para warga masih harus menghadapi terpaan badai dan hujan lebat yang memicu banjir di berbagai titik di California.
Akibat badai dan banjir ini, aliran listrik ke 160 ribu rumah di California terputus. Sejumlah tempat bisnis di California pun terpaksa beroperasi tanpa listrik pada Selasa (10/1).
Di tengah kekacauan ini, badai diperkirakan masih akan menerjang sejumlah kawasan utara California dengan curah hujan mencapai 18 cm.
Layanan Cuaca Nasional AS (National Weather Service/NWS) menggambarkan badai ini sebagai "penyiksaan tiada henti terhadap sungai."
Di daerah tempat rumah Pangeran Harry dan Meghan Markle berdiri, Montecito, hujan lebat juga masih terus mengguyur, memicu ancaman longsor. Pemerintah setempat lantas memerintahkan evakuasi warga.
"Karena pegunungan ada di sini, ketika hujan deras, alirannya sangat kencang. Situasi jadi berbahaya dalam waktu cepat," ucap seorang warga Montecito, Daniel DeMuyer, kepada AFP.
"Inilah harga yang harus dibayar untuk tinggal di tempat yang sangat indah. Ketika hujan seperti ini, banyak kehancuran."
Meski tinggal di kawasan dengan pemandangan indah, warga di Montecito memang hidup dalam bayang-bayang bencana alam mematikan.
Pada Januari 2018 lalu, hujan lebat menyebabkan longsor sehingga lumpur dan batu berjatuhan ke kota itu, menewaskan 23 orang. Para warga kini takut malapetaka itu terulang.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pengendara Scoopy Tewas Terlindas Mobil di Mengwi Badung
Dibaca: 2046 Kali
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1884 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1395 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 1274 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah