Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 31 Oktober 2026
Edukasi Mitigasi Bencana Erupsi Gunung Agung, Didanai Jepang
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Sosialisasi pencegahan dan kesiapsiagaan bencana Gunung Agung dilakukan Tim Peneliti Kegunungapian Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerjasama dengan peneliti Mount Fuji Research Institute, Jepang di Kantor Desa Besakih, Karangasem, Bali ini yang merupakan kegiatan dalam Proyek Astungkara Giri Agung Aman (AGAA).
Proyek AGAA ini mendapatkan dana dari Japan International Cooperation Agency (JICA) dalam skema proyek akar rumput (grass root project) yang akan berlangsung hingga awal 2025," kata Dr rer nat Wiwit Suryanto, MSi, Ahli Geofisika sekaligus Dosen di Fakultas MIPA UGM di Yogyakarta, Rabu (15/2/2023).
Dijelaskan Wiwit, sosialisasi yang dilaksanakan Sabtu (11/2/2023), untuk mempersiapkan masyarakat di sekitar Gunung Agung yang pernah meletus tahun 2017. Meskipun tidak menimbulkan korban jiwa, namun letusan kala itu mengakibatkan kerugian materiil dan pariwisata Bali.
“Hal yang ditekankan adalah pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana erupsi gunung api ditanamkan sejak dini pada siswa Sekolah Dasar melalui pendidikan kebencanaan gunung api dengan pendekatan sains dan teknologi,” kata Wiwit.
Baca juga:
Jepang-NTB Jalin Kerja Sama Mitigasi Bencana
Wiwit menambahkan untuk kegiatan mitigasi selama dua tahun ke depan ini, pihaknya melibatkan Mount Fuji Research Institute di Provinsi Yamanashi dan LSM NPO Volcano di Tokyo. Selain itu, juga melibatkan Fakultas Pariwisata Udayana Bali menjadi partner untuk kelangsungan kegiatan. Udayana akan melanjutkan edukasi setelah projek ini berakhir.
“Project selama tiga tahun ini mendapatkan dana hibah sebesar 54 Juta Yen. Dana tersebut akan digunakan untuk mengirim stakeholder dan guru-guru di Bali belajar mitigasi bencana gunung api ke Jepang,” jelasnya.
Di Jepang, kata Wiwit, pemerintah negeri Sakura ini sudah memasukkan kurikulum kebencanaan di kurikulum sekolah, dari tingkat dasar, menengah hingga tingkat atas. Bahkan pihak-pihak terkait sudah terhubung dengan SOP yang jelas dan semua secara konsisten dijalankan sehingga setiap warga masyarakat sudah bersiap untuk menghadapi bencana. Tidak hanya itu, buku saku bencana tersedia dan dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat.
Sementara untuk kasus mitigasi bencana kegunungapian di Indonesia, umumnya karena warga di lereng gunungapi mempunyai mata pencaharian sebagai petani dan peternak. Sehingga berbeda dengan di Jepang pada saat terjadi erupsi. Di antaranya, upaya pengungsian tidak hanya bagi warga masyarakat tapi juga hewan ternak dan hewan piaraan yang juga harus diungsikan dahulu sebelum mengungsikan warganya.
"Jika tidak, maka pada saat kritis, masyarakat cenderung untuk kembali ke rumah yang berada di zona bahaya untuk memberi makan hewan ternak, sehingga berpotensi menjadi korban karena erupsi gunung api,” paparnya.
Menurut Wiwit, kegiatan mitigasi bencana dari pemerintah Jepang ini sudah pernah dilaksanakan di kawasan Gunung Merapi yang merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Selain itu, ada kerjasama sister province antara DIY dan Yamanashi. Ada kesamaan dengan Provinsi Yamanashi yang memiliki Gunung Fuji yang terkenal di Jepang.
“Kegiatan ini menghasilkan rumusan kegiatan mitigasi kebencanaan yang harapannya dapat masuk di kurikulum mata pelajaran IPA di Sekolah Dasar. Sehingga keberlanjutan dari program edukasi ini dapat diperluas ke gunung api lain di seluruh Indonesia,” tegasnya.
Meski masyarakat di sekitar gunung api di Indonesia selalu memiliki kearifan lokal dalam melakukan mitigasi bencana dengan melihat tanda-tanda alam, namun dalam kegiatan ini dilakukan melalui pendekatan edukasi dari sisi sains dan teknologi. Edukasi ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman masyarakat, terutama meyakinkan masyarakat bahwa teknologi sensor yang berkembang saat ini sudah dapat digunakan untuk mendeteksi aktivitas gunung api.
“Kita tahu, pada zaman dahulu di masyarakat masih mempercayai dengan perubahan sifat binatang-binatang yang ada di lereng gunungapi. Jadi sensor yang zaman dahulu dipercayakan kepada binatang atau tokoh yang memiliki ketajaman batin yang kuat. Pada masa modern ini dapat dibantu dengan menggunakan sensor-sensor canggih seperti seismometer untuk deteksi getaran maupun GPS untuk deteksi pergerakan tanah akibat naiknya magma dari dalam gunung api,” ujarnya. (sumber: republika.co.id)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 6039 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4707 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2672 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2365 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2253 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan