Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 30 Oktober 2026
Mengenal Diffuse Axonal Injury yang Diderita David Usai Dianiaya Mario Dandy
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Anak pengurus GP Ansor yang menjadi korban penganiayaan, David (17), hingga kini masih belum sadarkan diri. Ia dihajar pada Senin (20/2/2023) di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, oleh anak pejabat pajak, Mario Dandy Satriyo (20), yang kini sudah ditetapkan sebagai tersangka.
Terbaru, anggota Bidang Cyber dan Media PP GP Ansor yang juga rekan ayah korban, Ahmad Taufiq, mengatakan bahwa menurut dokter, David terkena diffuse axonal injury.
Kondisi ini, lanjutnya, disebabkan oleh benturan keras di kepala korban yang memicu adanya trauma pada otak.
Lantas, apa itu diffuse axonal injury yang diderita David? Seberapa besar pengaruhnya terhadap kesehatan sang pengidap? Seperti apa pula proses penyembuhannya? Simak informasi selengkapnya berikut ini.
Mengenal diffuse axonal injury
Kondisi diffuse axonal injury atau DAI adalah cedera otak karena trauma dan menjadi salah satu yang paling akut. Biasanya terjadi saat otak bergeser dengan cepat pada tengkorak yang cedera. Hal ini menyebabkan akson (serat penghubung otak) terpotong.
DAI seringkali menyebabkan adanya cedera di hampir seluruh bagian otak dan membuat penderitanya kerap mengalami koma. Kehilangan kesadaran ini biasanya berlangsung beberapa jam sampai minggu tergantung tingkat keparahannya.
Penyebab cedera kepala traumatis paling umum adalah karena kecelakaan lalu lintas yang berkecepatan tinggi. Namun, kondisi ini juga dapat terjadi setelah jatuh dari ketinggian atau menerima benturan yang sangat keras di bagian kepala.
Membahas soal gejalanya, yang paling utama adalah kehilangan kesadaran. Lalu, ada gejala lainnya, seperti sakit kepala, mual hingga muntah, kelelahan, sulit tidur atau tidur lebih lama, pusing, hilangnya keseimbangan, serta kebingungan.
Pengobatan DAI
Tindakan yang diperlukan untuk mengobati DAI adalah mengurangi pembengkakan di dalam otak dengan serentetan steroid. Jika tidak, hal ini bisa membuat otak semakin rusak. Lalu, pasiennya juga harus menjalani sejumlah program pemulihan.
Biasanya program ini meliputi terapi berbicara, terapi fisik, terapi rekreasi, dan pemberian dukungan. Kemudian, perawatan lain pun dibutuhkan dalam proses penyembuhan. Diantaranya, memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi serta diberikan obat-obatan.
Berisiko kematian
Jika tingkat DAI tergolong parah, banyak pasiennya yang tidak bisa selamat. Namun, diffuse axonal injury yang ringan hingga sedang, bisa diobati dengan rehabilitasi. Sayangnya, pasca melakukan cara ini, akan ada masalah jangka panjang.
Kebanyakan orang yang selamat dari DAI akan koma dan bahkan tidak pernah sadar kembali. Namun, sebagian penderitanya ada juga yang berhasil sadar, meski dirinya akan mengalami gangguan neurologis, seperti cacat seumur hidup.
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 6005 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4687 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2663 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2328 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2241 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan