Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 20 September 2026
Mantan Pejabat Kementerian Keuangan AS Wanti-Wanti Dampak Buruk Jika Dolar AS Tak Berotot Lagi
beritabali.com/blockhainmedia.id/Mantan Pejabat Kementerian Keuangan AS Wanti-Wanti Dampak Buruk Jika Dolar AS Tak Berotot Lagi
BERITABALI.COM, DUNIA.
Mantan Pejabat Kementerian Keuangan (Kemenkeu) AS, Monica Crowley, mewaspadai dampak buruk yang terjadi jika negara-negara berkembang menjauhi dolar AS, atau melakukan dedolarisasi.
“Sangat sulit untuk melebih-lebihkan dengan tepat betapa dahsyatnya pengabaian dolar AS sebagai mata uang cadangan global dunia,” ujar Monica, dilansir dari Bitcoin News.
Monica menyoroti pembahasan dari Fox News dan CNN, soal negara-negara besar yang mulai tidak menggunakan dolar AS untuk penyelesaian transaksi internasional.
Dolar AS dan Potensi Keruntuhannya
Watcher News melaporkan, Rusia menjadi sorotan utama karena mengumumkan akan bergerak menuju dedolarisasi, beralih menggunakan yuan Tiongkok.
Langkah tersebut kemungkinan akan diikuti oleh negara aliansi ekonomi Rusia, yaitu Arab Saudi, Iran dan Tiongkok.
Monica menggarisbawahi bahwa, dolar AS telah lama dianggap sebagai safe haven, sejak akhir Perang Dunia II.
“Awalnya, itu didukung oleh emas, tetapi setelah Presiden Nixon mengeluarkan AS dari standar emas, tidak ada aset keras yang mendukung dolar selama 50 tahun terakhir. Sebaliknya, itu didukung oleh kekuatan ekonomi AS,” tambahnya.
Selain itu, Monica juga menyoroti fakta bahwa minyak mentah dunia saat ini diperdagangkan dalam mata uang AS.
Sehingga, langkah dedolarisasi oleh negara besar lain, seperti Arab Saudi, bisa dianggap menjadi akhir dari mata uang AS tersebut, menjadi ledakan total sistem ekonomi yang dapat memicu inflasi setinggi langit.
Ia pun mengatakan bahwa status sebagai cadangan mata uang dunia telah menjadi sebuah hak istimewa untuk dolar AS.
“Kami telah menyalahgunakan hak istimewa tersebut dengan kebijakan moneter dan fiskal yang sembrono selama bertahun-tahun, tentunya selama beberapa tahun terakhir, yang mana telah benar-benar mendevaluasi dolar AS,” ujar Monica.
Berkat konflik antara Rusia dan Ukraina, AS kini memiliki beberapa musuh yang dipimpin oleh Tiongkok dan membentuk blok ekonomi baru.
Selain menghadapi risiko hiperinflasi yang luar biasa, Monica juga menilai AS akan kehilangan dominasi di ekonomi global, dan bahkan kehilangan status sebagai negara adidaya.
Dan kembali mengingat saran dari Robert Kiyosaki, keruntuhan ekonomi AS dapat membawa tiga harga aset melambung tinggi, yaitu emas, perak dan Bitcoin. Mari kita saksikan.(sumber: blockhainmedia.id)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 8022 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5650 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3544 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2391 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan