Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 30 Juli 2026
Bertemu Xi Jinping, Macron Ajak Eropa 'Lepaskan Diri' dari AS
BERITABALI.COM, DUNIA.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan Eropa harus mengurangi ketergantungannya pada Amerika Serikat (AS) dan menghindari terseret ke dalam konfrontasi antara Cina, AS, atas Taiwan.
Dalam perjalanan pulang usai bertemu selama enam jam dengan Presiden Cina Xi Jinping, Macron menekankan teori "otonomi strategis" untuk Eropa, yang mungkin dipimpin oleh Prancis, untuk menjadi negara adikuasa ketiga.
Dilansir Politico, Minggu (9/4/2023), dia mengatakan risiko besar yang dihadapi Eropa adalah "terjebak dalam krisis yang bukan milik kita, yang mencegahnya membangun otonomi strategisnya."
Xi Jinping dan Partai Komunis Cina dengan antusias mendukung konsep otonomi strategis Macron dan pejabat Cina terus-menerus merujuknya dalam urusan mereka dengan negara-negara Eropa.
Para pemimpin partai dan ahli teori di Beijing yakin Barat sedang mengalami kemunduran dan Cina sedang naik daun dan melemahnya hubungan transatlantik akan membantu mempercepat tren ini.
"Paradoksnya adalah, diliputi kepanikan, kami yakin kami hanyalah pengikut Amerika," kata Macron.
"Pertanyaan yang perlu dijawab oleh orang Eropa... apakah kepentingan kita untuk mempercepat [krisis] di Taiwan? Tidak. Hal yang lebih buruk adalah berpikir bahwa kita orang Eropa harus menjadi pengikut topik ini dan mengambil petunjuk dari agenda AS dan reaksi berlebihan Cina," katanya.
Hanya beberapa jam setelah penerbangannya meninggalkan Guangzhou menuju kembali ke Paris, Cina meluncurkan latihan militer besar-besaran di sekitar pulau Taiwanyang diklaim Cina sebagai wilayahnya.
Latihan tersebut merupakan tanggapan atas tur diplomatik 10 hari Presiden Taiwan Tsai Ing-wen ke negara-negara Amerika Tengah yang mencakup pertemuan dengan Ketua DPR AS dari Partai Republik Kevin McCarthy saat dia transit di California.
Orang-orang yang akrab dengan Macron mengatakan dia senang Beijing setidaknya menunggu sampai dia keluar dari wilayah udara Cina sebelum meluncurkan simulasi latihan pengepungan Taiwan.
Adapun, Beijing telah berulang kali mengancam untuk menginvasi dalam beberapa tahun terakhir dan memiliki kebijakan untuk mengisolasi pulau demokrasi dengan memaksa negara lain untuk mengakuinya sebagai bagian dari "satu Cina."(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3896 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2964 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2053 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2026 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1812 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun