Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 29 Oktober 2026
Senjata Berusia 3.000 Tahun di Swiss Terungkap Berbahan dari Luar Bumi
beritabali.com/cnnindonesia.com/Senjata Berusia 3.000 Tahun di Swiss Terungkap Berbahan dari Luar Bumi
BERITABALI.COM, DUNIA.
Analisis terbaru dari para peneliti di Swiss mengungkap sebuah anak panah berusia 3.000 tahun dibuat dari bahan yang berasal dari luar angkasa.
Pada akhir tahun 1800-an, para arkeolog menemukan sebuah mata panah di wilayah pemukiman Zaman Perunggu di Mörigen, Swiss. Sejak saat itu, artefak berusia 3.000 tahun tersebut menjadi bagian dari koleksi di Museum Sejarah Bern.
Sekarang, sebuah analisis baru yang diterbitkan dalam Journal of Archaeological Science edisi September mengungkapkan benda tersebut bukanlah mata panah biasa. Benda tersebut dibuat dari meteorit yang jatuh ke Bumi 3.500 tahun yang lalu.
"Dari luar, benda ini terlihat seperti mata panah biasa yang dilapisi karat," kata Beda Hofmann, penulis utama studi yang juga kepala dan kurator mineralogi dan meteorit di Museum Sejarah Alam Bern, dikutip dari LiveScience.
Analisis tersebut juga menunjukkan bahwa masih banyak logam yang diawetkan.
Beberapa metode termasuk tomografi sinar-X (pencitraan terkomputerisasi) dan spektrometri gamma (proses yang mendeteksi bahan radioaktif yang memancarkan gamma), menunjukkan mata panah seukuran telapak tangan itu mengandung isotop aluminium-26 yang secara alami tidak ada di Bumi.
Selain itu, ada pula jejak paduan besi dan nikel yang konsisten dengan meteorit.
Dalam sebuah pernyataan, para peneliti menjelaskan bekas gerinda yang tersisa dari saat meteorit dibentuk menjadi mata panah, dan sisa-sisa tar, yang kemungkinan besar digunakan untuk menempelkan ujungnya pada batang panah.
Melacak meteorit
Pada awalnya, para ilmuwan mengira artefak tersebut terkait dengan situs meteorit Twannberg yang berusia 170.000 tahun, yang berjarak sekitar 8 kilometer dari tempat tinggal tersebut.
Namun, penelitian lebih lanjut mengungkapkan konsentrasi nikel dan germanium dalam mata panah tidak cocok.
"Itu bukan berasal dari meteorit yang saya duga," kata Hofmann tentang artefak yang beratnya 2,9 gram dan panjang lebih dari 3 sentimeter tersebut.
Hofmann dan rekan-rekannya kemudian mencoba mencocokkan senjata tersebut dengan situs meteorit Kaalijarv di Estonia yang berjarak lebih dari 2.250 kilometer dari lokasi penemuan.
Kandungan meteorit di situs tersebut ternyata mengandung logam yang mirip dengan artefak tersebut dan mata panah ini berasal dari meteorit seberat 1.800 kilogram.
Hal ini membuat para ilmuwan menyimpulkan mata panah tersebut kemungkinan besar pernah diperdagangkan.
"Telah didokumentasikan dengan baik bahwa perdagangan telah terjalin dengan baik dalam jarak yang sangat jauh selama Zaman Perunggu," kata Hofmann.
"Orang-orang awal ini kemungkinan besar tahu bahwa ketika terjadi tumbukan di sana pada tahun 1500 SM, materialnya sangat berharga dan memiliki nilai," tambahnya.
Mata panah meteorit sangat jarang ditemukan bahkan hingga saat ini. Total hanya 55 benda semacam ini yang pernah ditemukan di Eurasia dan Afrika di 22 lokasi.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5976 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4665 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2650 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2306 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2233 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan