Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Tidak Hanya Bernutrisi, Pepaya Juga Bisa Jadi Bahan Bakar Masa Depan
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Pepaya termasuk buah tropis yang memiliki kepentingan komersial karena nilai nutrisi dan pengobatannya yang tinggi.
Biji dan kulit pepaya yang sering dibuang ternyata mengandung nutrisi penting yang bermanfaat baik bagi manusia maupun hewan. Limbah buah papaya misalnya dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan bioetanol melalui proses fermentasi dan destilasi.
“Pepaya adalah sumber bahan gula dan menjadi salah satu limbah buah yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan bioethanol. Pilihan bahan baku yang cocok, melimpah dan murah sangat penting karena biaya bahan baku merupakan bagian utama dari biaya produksi,” kata akademisi Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa (FP-Unwar), I Nengah Muliarta, ketika dikonfirmasi di Denpasar pada Senin (16/10).
Menurutnya, produksi etanol dari hasil pertanian berupa buah-buahan dapat ditingkatkan dengan menggunakan strain ragi yang direkayasa secara genetik sehingga mampu mengubah banyak gula menjadi etanol. Kadar dan volume bioethanol yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh lamanya fermentasi.
Muliarta menyebutkan ragi merupakan mikroorganisme paling umum yang digunakan dalam produksi bioethanol dan memainkan fungsi penting dalam memfermentasi gula menjadi etanol. Ragi dapat langsung memfermentasi gula sederhana menjadi etanol sedangkan bahan baku jenis lain harus diubah menjadi gula yang dapat difermentasi sebelum dapat difermentasi menjadi etanol.
Ia memaparkan bioetanol adalah bahan bakar cair yang dapat digunakan sebagai pengganti bensin. Pemanfaatan kulit pepaya sebagai bahan bakar masa depan tidak hanya membantu mengurangi emisi karbon, tetapi juga menciptakan peluang baru dalam pengembangan industri bioetanol yang berkelanjutan.
Pria kelahiran Klungkung tersebut mengungkapkan secara teknis bioetanol dapat digunakan sebagai pengganti bahan bakar bensin, mengingat sifat fisika bioetanol yang mendekati sifat fisika bahan bakar bensin. Namun yang masing menjadi permasalahan harga jual terkadang masih lebih rendah dari biaya produksi, sehingga akan mempengaruhi layak atau tidaknya penerapan substitusi bensin dengan bioetanol.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5902 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4629 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2593 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2239 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2210 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan