Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Jejak Hidup I Wayan Sugita, Legenda Drama Gong Bali yang Tutup Usia
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Dunia seni pertunjukan Bali dan pendidikan Hindu berduka. Seniman drama gong legendaris asal Samplangan, Gianyar, sekaligus Guru Besar Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Prof. Dr. Drs. I Wayan Sugita, M.Si, tutup usia pada Rabu (7/1/2026) malam di RSU Wangaya, Denpasar.
Kepergian Prof. I Wayan Sugita meninggalkan duka mendalam bagi kalangan seniman dan pegiat budaya Bali. Sosok yang dikenal luas lewat perannya sebagai Patih Agung dalam sendratari drama gong di panggung Art Center Denpasar itu mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 19.30 WITA, setelah berjuang melawan komplikasi penyakit.
Almarhum diketahui memiliki riwayat penyakit jantung sejak 1998 dan sempat mengalami stroke pada 2017. Kondisinya kembali menurun setelah mengalami stroke berulang pada 22 Desember 2025.
Putra almarhum, Tilem Pastika, mengungkapkan bahwa ayahnya sempat menjalani perawatan intensif akibat infeksi paru-paru dan menunjukkan perkembangan hingga diperbolehkan pulang ke rumah pada 2 Januari 2026.
“Namun di rumah kondisinya tiba-tiba drop. Kemarin sore kembali dilarikan ke IGD karena penumpukan lendir di tenggorokan yang masuk ke paru-paru. Terjadi henti napas dan henti jantung, dan beliau dinyatakan meninggal dunia di IGD RSU Wangaya,” ujar Tilem Pastika.
Hingga Kamis (8/1/2026), jenazah Prof. I Wayan Sugita masih berada di ruang pemulasaraan RSU Wangaya. Suasana rumah duka di Samplangan, Gianyar, tampak sepi. Pelaksanaan upacara adat dan rangkaian prosesi masih menunggu keputusan keluarga bersama desa adat setempat.
Prof. I Wayan Sugita lahir di Banjar Bukit Batu, Samplangan, Gianyar, pada 8 Mei 1965. Namanya mulai dikenal luas pada 1984 setelah meraih penghargaan pemeran pria utama terbaik dalam Festival Drama Gong Remaja se-Bali. Pada tahun yang sama, ia tampil bersama Sekaa Drama Gong Saraswati mewakili Kabupaten Gianyar dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) dan meraih Juara II.
Dari perjalanan tersebut, Sugita kemudian menghimpun para pemenang festival dan mendirikan Panjamu Asrama, yang menjadi tonggak penting kiprahnya di dunia seni pertunjukan Bali. Perannya sebagai Patih Agung, tokoh antagonis yang kuat dan berkarakter, melekat erat dalam ingatan penikmat drama gong lintas generasi.
Dalam pengabdiannya, almarhum tercatat membina dan bergabung dengan berbagai sekaa drama gong ternama, seperti Wira Bhuana, Kerthi Bhuana, Bintang Remaja Gianyar, hingga Bandana Budaya. Bersama Bintang Remaja Gianyar, ia berhasil meraih Juara I PKB 1993. Setahun kemudian, Bandana Budaya yang dibinanya meraih Juara II PKB 1994, serta mengantarkan sekaa drama gong duta Kota Denpasar meraih Juara I PKB 1995.
Selain berkarya di dunia seni, Prof. I Wayan Sugita juga mengabdikan diri di dunia akademik sebagai dosen di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dan meraih gelar Guru Besar pada Oktober 2023.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5920 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4640 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2611 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2267 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2216 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan