Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 27 Juli 2026
Insomnia dan Kecemasan akan Tempat Tidur di Malam Hari
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Seorang wanita, 55 tahun, TN, datang dengan keluhan sulit tidur yang telah dirasakan sejak sekitar satu tahun lalu dan semakin memburuk dalam satu bulan terakhir.
Keluhannya berupa sulit memulai tidur, sering terbangun di malam hari, serta merasa tubuh tidak segar saat bangun sehingga malas memulai aktivitas. Saat tidak bisa tidur, ia hanya berbaring di tempat tidur dan berbagai usaha seperti mendengarkan musik tidak banyak membantu.
Keluhan ini bermula sejak ia berhenti tidur di kamar tidurnya sendiri. Setahun sebelumnya, seorang teman yang memahami feng shui mengatakan bahwa kamar tersebut kurang baik. Awalnya ia tidak terlalu mempercayainya. Namun tidak lama setelah itu, ia mengalami vertigo dan sempat dirawat di rumah sakit.
Ketika pulang dan mencoba tidur kembali di kamar tersebut, ia terjatuh dari tempat tidur dalam keadaan tidak sadar dan harus dirawat di High Care Unit (HCU) selama sekitar satu minggu. Ia baru sadar setelah tiga hari. Pemeriksaan fisik dan penunjang, termasuk gelombang otak (EEG), menunjukkan hasil normal. Sejak kejadian itu, muncul keyakinan bahwa tidur di kamar tersebut berbahaya, sehingga ia memilih pindah tempat tidur.
Awalnya ia tidur di ruang depan, kemudian pindah ke ruang tengah karena plafon ruang depan dianggap rapuh dan sering bocor. Sejak tidak tidur di kamar lamanya, kesulitan tidur mulai dirasakan, terutama dalam memulai tidur. Dalam satu bulan terakhir, gangguan ini semakin berat dan disertai sering terbangun di malam hari.
Selain gangguan tidur, muncul kecemasan yang terutama dirasakan pada malam hari ketika rumah sepi dan suami serta anak belum pulang. Ada rasa takut jika terjadi sesuatu pada dirinya saat sendirian, yang disertai keluhan nyeri perut dan mual ringan. Kecemasan ini berkurang jika sudah mendapat kabar kepastian kepulangan keluarga. Pada siang hari atau saat beraktivitas di klenteng bersama teman-temannya, perasaan cemas hampir tidak ada.
Ia dikenal sebagai pribadi yang mudah berpikir jauh dan cenderung khawatir terhadap keselamatan diri sendiri maupun orang lain. Sejak kecil sudah terbiasa tidur dengan lampu menyala karena merasa lebih aman. Walaupun pernah diminta menambahkan cermin dan mendengar penjelasan tentang adanya penunggu rumah, ia tidak merasa gangguan tidurnya disebabkan oleh hal tersebut.
Insomnia, kecemasan, dan runtuhnya rasa aman
Dalam dunia klinis, insomnia sering disalahpahami sebagai persoalan teknis dari kurang tidur, kebiasaan tidur yang buruk, atau akibat kelelahan fisik. Padahal, pada banyak kasus, insomnia adalah ekspresi dari kegagalan sistem tubuh dalam menciptakan rasa aman. Ia bukan hanya masalah jam tidur, tetapi masalah kepercayaan tubuh bahwa lingkungan tidak cukup aman untuk beristirahat.
Pada TN, insomnia muncul bukan secara tibatiba. Ia berkembang perlahan, dimulai sejak ia berhenti tidur di kamar tidurnya sendiri. Artinya, sejak awal, gangguan tidur ini berakar pada perubahan makna psikologis sebuah ruang. Kamar yang sebelumnya netral berubah menjadi simbol ancaman. Hal ini merupakan proses conditioning dimana otak belajar mengaitkan suatu tempat dengan bahaya, meskipun ancaman fisik sudah tidak ada. Tidur di kamar itu berarti membuka pintu pada ingatan tentang jatuh tak sadar, HCU, ketidakberdayaan, dan kemungkinan kematian. Secara klinis, kondisi ini memenuhi kriteria gangguan insomnia kronis dengan komorbid kecemasan.
Namun insomnia bukan sekadar tidak bisa tidur. Ia adalah kondisi ketika sistem tubuh gagal memasuki mode istirahat. Otak tetap siaga, seolah-olah ada bahaya yang harus diwaspadai. Tubuh berada dalam keadaan siap menghadapi ancaman, bahkan ketika ancaman itu tidak nyata secara fisik.
Peristiwa jatuh tidak sadar dan dirawat di HCU menjadi titik penting. Bagi tubuh dan otak, pengalaman itu bukan hanya kejadian medis, tetapi juga peristiwa traumatis. Tanpa disadari, otak belajar bahwa tidur di kamar tersebut sama dengan menghadapi bahaya. Sejak saat itu, kamar tidur bukan lagi tempat netral, melainkan simbol ancaman. Di sinilah insomnia sering bermula yaitu bukan karena kasur atau bantal, tetapi karena rasa aman yang terganggu.
Ketika pikiran, tubuh, dan budaya bertemu
Kasus TN memperlihatkan bagaimana gangguan tidur tidak pernah berdiri sebagai fenomena tunggal. Ia merupakan pertemuan yang kompleks antara pengalaman emosional, riwayat kehidupan, sistem biologis, relasi sosial, serta makna budaya yang membingkai cara seseorang memahami keselamatan dan ancaman.
Dalam perspektif psikiatri komunitas dan budaya, justru pertemuan inilah yang menjadi inti pemahaman. Gangguan tidur tidak hanya berbicara tentang tubuh yang sulit beristirahat, tetapi tentang jiwa yang belum sepenuhnya merasa aman. Tidur menjadi cermin dari relasi seseorang dengan dunia sekitarnya, dengan tubuhnya sendiri, dan dengan pengalaman hidup yang pernah meninggalkan jejak emosional mendalam.
Dari sudut pandang psikodinamika, tidur dapat dipahami sebagai proses menyerahkan kendali. Ketika seseorang tertidur, ia memasuki keadaan di mana kesadaran menurun, kontrol terhadap lingkungan melemah, dan tubuh sepenuhnya bergantung pada rasa aman yang ia miliki. Pada TN, sejak kecil sudah terlihat bahwa rasa aman bukanlah sesuatu yang hadir secara otomatis.
Kebiasaan tidur dengan lampu menyala menunjukkan bahwa ia membutuhkan simbol eksternal untuk merasa terlindungi. Cahaya menjadi representasi pengawasan, kontrol, dan perlindungan. Dalam kerangka psikodinamika, ini mencerminkan kebutuhan yang tinggi untuk mengendalikan lingkungan agar tubuh dan jiwanya dapat merasa tenang.
Pengalaman jatuh tidak sadar dan dirawat di HCU memperdalam konflik ini. Peristiwa tersebut bukan hanya trauma fisik, tetapi juga trauma simbolik, karena TN mengalami kehilangan kendali total atas tubuh dan kesadarannya. Otak tidak menyimpan peristiwa ini sebagai kejadian yang telah selesai, melainkan sebagai ancaman yang mungkin terulang. Akibatnya, kamar tidur lama yang sebelumnya merupakan ruang istirahat berubah makna menjadi ruang bahaya.
Trauma medis pada TN memperlihatkan bahwa peristiwa kesehatan yang mengancam nyawa dapat menjadi trauma psikologis yang mendalam, meskipun sering tidak diakui secara eksplisit. Trauma kerap diasosiasikan dengan kecelakaan besar atau kekerasan, padahal pengalaman jatuh tak sadar, dirawat di HCU, dan baru sadar setelah beberapa hari juga mengandung unsur ketidakberdayaan, ketakutan akan kematian, serta kehilangan kontrol atas tubuh. Karena terjadi dalam konteks medis, pengalaman ini sering dianggap normal atau sudah tertangani, sehingga dimensi psikologisnya terabaikan.
Dari perspektif psikososial, rasa aman pada TN tampak sangat bersifat relasional. Kecemasannya meningkat ketika ia sendirian dan mereda ketika suami serta anak sudah berada di rumah. Hal ini menunjukkan bahwa rasa aman baginya sangat bergantung pada kehadiran orang lain. Dalam banyak budaya Asia, termasuk Indonesia, rasa aman memang sering bersifat kolektif.
Keluarga bukan sekadar sumber dukungan emosional, tetapi juga penyangga eksistensial. Kehadiran orang terdekat memberikan sinyal biologis dan psikologis bahwa dunia masih terkendali. Tanpa kehadiran itu, individu merasa lebih rapuh dan lebih terpapar ancaman.
Aktivitas TN di klenteng bersama teman-temannya memperkuat gambaran ini. Di sana, ia merasakan keterhubungan sosial, penerimaan, dan makna spiritual yang menenangkan. Lingkungan tersebut menjadi ruang di mana kecemasan mereda dan regulasi emosi terjadi secara alami. Hal ini menunjukkan bahwa gangguan tidur tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan spiritual tempat seseorang hidup. Dukungan komunitas dan rasa memiliki menjadi faktor protektif yang kuat terhadap kecemasan dan insomnia.
Dari perspektif budaya, feng shui tidak perlu dipahami secara harfiah sebagai penyebab langsung gangguan tidur. Ia lebih tepat dipahami sebagai bahasa psikologis untuk menjelaskan rasa tidak aman. Ketika teman TN mengatakan bahwa kamar tidurnya kurang baik, pernyataan ini memberi kerangka makna terhadap rangkaian kejadian buruk yang kemudian ia alami. Bukan feng shui yang menciptakan trauma, melainkan feng shui menyediakan narasi yang membantu TN memahami dan memberi arti pada ketakutannya.
Dalam psikiatri budaya, tugas klinisi bukanlah membantah keyakinan tersebut, melainkan memahami bagaimana keyakinan itu membantu individu membangun makna atas penderitaannya dan bagaimana makna tersebut memengaruhi kondisi psikologisnya.
Dari sudut pandang neurobiologis, insomnia merupakan kondisi hiper-arousal kronis. Sistem saraf berada dalam keadaan terlalu siaga sehingga tidak mampu menurunkan tingkat kewaspadaan saat malam tiba. Amigdala, sebagai pusat pengolahan ancaman di otak, tetap aktif. Sistem stres melalui poros hipotalamus–hipofisis–adrenal terus memproduksi hormon stres. Denyut jantung tidak melambat sebagaimana mestinya, dan pikiran tetap berputar. EEG TN yang normal menunjukkan bahwa tidak ada kerusakan struktural pada otak. Yang terganggu adalah mekanisme regulasi. Otak tidak mampu berpindah dari mode waspada ke mode istirahat.
Inilah sebabnya insomnia sering kali tidak dapat disembuhkan hanya dengan obat tidur. Obat dapat memaksa tubuh untuk tidur, tetapi tidak mengajari otak bahwa dunia sudah aman. Tanpa pemulihan rasa aman secara psikologis dan relasional, sistem saraf akan terus mempertahankan kewaspadaannya.
Menyiapkan tidur yang baik untuk merawat jiwa
Merawat insomnia tidak pernah cukup hanya dengan mengatur jam tidur. Yang sesungguhnya perlu dirawat adalah rasa aman yang menjadi fondasi tidur itu sendiri. Tidur akan datang ketika tubuh merasa dilindungi, dipahami, dan tidak sedang berada dalam ancaman. Dalam konteks TN, perawatan berarti memulihkan kembali kepercayaan bahwa malam hari bukanlah musuh. Malam hari bukan ruang yang harus diwaspadai, melainkan ruang yang seharusnya memberi kesempatan bagi tubuh untuk beristirahat dan memulihkan diri.
Kecemasan yang muncul pada TN tidak perlu dipandang sebagai kelemahan. Ia adalah sistem alarm yang bekerja terlalu sensitif. Alarm ini tidak rusak, tetapi membutuhkan kalibrasi ulang. Tubuh TN telah belajar bahwa sepi berarti bahaya, bahwa gelap berarti tidak aman, dan bahwa tidur berarti kehilangan kendali. Maka hal yang harus dilakukan bukan mematikan alarm tersebut, melainkan mengajarkan tubuh bahwa makna-makna itu tidak selalu benar, dan bahwa banyak situasi malam hari sesungguhnya aman.
Langkah pertama adalah membantu TN memahami bahwa kecemasannya dapat dimengerti. Ia bukan mengada-ada. Pengalaman jatuh tak sadar, dirawat di HCU, dan kehilangan kesadaran selama beberapa hari adalah peristiwa besar bagi sistem saraf siapa pun. Mengakui pengalaman itu sebagai trauma psikologis yang sah merupakan bagian penting dari proses pemulihan. Tanpa pengakuan ini, tubuh akan terus membawa pesan ancaman seolah peristiwa tersebut masih berlangsung hingga hari ini.
Bagi keluarga, merawat TN menjadikan mereka sebagai sumber rasa aman yang stabil. Memberi kabar tentang waktu kepulangan, menjaga komunikasi yang hangat, serta menciptakan rutinitas malam hari yang menenangkan merupakan bentuk dukungan sederhana namun bermakna bagi sistem saraf TN. Namun keluarga juga perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam pola perlindungan berlebihan. Jika setiap kecemasan TN selalu direspons dengan kepanikan atau penguatan bahwa ia memang rapuh, maka kecemasan justru akan semakin menguat. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan antara empati dan penguatan kemandirian, antara menemani dan mempercayai bahwa TN mampu menghadapi rasa tidak amannya.
Kepada TN, pesan terpenting adalah bahwa ia memiliki kapasitas untuk merasa aman, bukan hanya ketika orang lain hadir, tetapi juga ketika ia sendirian. Rasa aman tidak selalu harus datang dari luar. Ia dapat dibangun dari dalam melalui kepercayaan pada tubuh sendiri dan keyakinan bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk bertahan dan menenangkan diri. Pendekatan psikoterapi yang berfokus pada regulasi emosi, kesadaran tubuh, dan pemulihan rasa kendali menjadi sangat relevan. Tujuannya bukan menghapus kecemasan, melainkan membantu TN hidup berdampingan dengannya tanpa dikuasai.
Pendekatan biomedis yang hanya berfokus pada pemberian obat tidur berisiko mengabaikan akar persoalan. Obat mungkin membantu memaksa tidur, tetapi tidak memulihkan rasa aman. Padahal tidur sejati hanya datang ketika sistem saraf merasa bahwa lingkungan cukup aman untuk melepaskan kewaspadaan. Di sinilah psikiatri komunitas bekerja, bukan hanya mengobati individu, tetapi menata ulang relasi antara individu, keluarga, dan komunitas agar tercipta ekosistem psikologis yang lebih menenangkan. Rasa aman yang sejati tumbuh dari hubungan yang hangat, penerimaan, dan keyakinan bahwa dirinya berharga dan terlindungi.
Untuk itu tidur yang baik bukan tentang memaksa mata terpejam dan lamanya waktu yang dilalui, tetapi tentang mengundang rasa aman secara perlahan. Ia tumbuh dari kepercayaan, dari pengalaman kecil yang berulang, dan dari keyakinan bahwa tubuh tidak lagi harus selalu siaga. Tidur bukan sekadar menutup mata. Ia adalah bentuk kepercayaan paling dalam bahwa malam hari dapat dilewati, dan pagi hari masih layak disambut. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3870 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 1945 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1699 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1569 Kali
Penembakan di Klub Malam Canggu, Dua Orang Terluka, Pelaku Diburu
Dibaca: 1519 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun