Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 20 September 2026
Gong Bali Iringi Imlek di Klenteng Singaraja
BERITABALI.COM, BULELENG.
Perayaan Tahun Baru Imlek di TITD Ling Gwan Kiong Singaraja, Selasa (17/2), diwarnai lantunan gong khas Bali yang dibawakan Sekaa Gong Lingkungan Taman Sari. Iringan gong tersebut menjadi bagian dari puncak perayaan Imlek 2577 Kongzili.
Lantunan gong Bali mengiringi prosesi upacara sebagai simbol kuatnya akulturasi budaya Hindu dan Tionghoa yang telah lama tumbuh dan terjaga di Kabupaten Buleleng. Kehadiran gong Bali dalam perayaan Imlek mencerminkan harmonisasi budaya lokal dan Tionghoa di wilayah Bali Utara.
Koordinator Sekaa Gong Lingkungan Taman Sari, Gede Budi Astawa, mengatakan kelompoknya hampir setiap tahun diundang untuk ngayah mengiringi perayaan Imlek di klenteng tersebut. Sebanyak 20 orang anggota sekaa gong dilibatkan untuk membawakan tabuh yadnya sejak Senin (16/2) hingga Selasa (17/2).
“Ini bentuk akulturasi budaya dan hubungan baik. Di Pura Taman Sari juga ada pelinggih bernuansa Tionghoa, jadi setiap tahun kami diminta ngayah,” ujarnya.
Sekaa Gong Lingkungan Taman Sari sendiri berasal dari Lingkungan Taman Sari, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Buleleng. Hubungan antara sekaa gong dengan komunitas Tionghoa di Singaraja telah terjalin sejak lama dan diwariskan secara turun-temurun.
Sementara itu, Humas TITD Ling Gwan Kiong, Gunadi Yetial, menuturkan tradisi menghadirkan gong khas Bali saat perayaan Imlek telah berlangsung sejak lama. Bahkan sejak ia kecil, suara gong selalu menjadi bagian dari perayaan Tahun Baru Imlek di klenteng tersebut.
“Orang tua dulu bilang, kalau Imlek harus ada bunyi-bunyian. Kalau memungkinkan ada tarian. Kalau tidak ada nuansa budaya Tionghoa, bisa pakai budaya lokal,” jelasnya.
Menurut Gunadi, dalam perayaan Tahun Baru Imlek, unsur musik menjadi bagian penting untuk menciptakan suasana yang meriah dan penuh sukacita.
“Tahun baru ini harus disambut dengan rasa bahagia dan gembira. Selain sebagai hiburan untuk umat, juga persembahan bagi dewa-dewi,” tambahnya.

Lebih lanjut, Gunadi menyebut keterlibatan Sekaa Gong Lingkungan Taman Sari juga memiliki latar belakang sejarah. Sekaa gong tersebut berkaitan erat dengan kisah masuknya pedagang Tiongkok ke wilayah Buleleng pada masa lalu.
Berdasarkan cerita turun-temurun, dahulu sebuah kapal pedagang Tiongkok mengalami musibah gelombang saat hendak berlabuh di pesisir Buleleng. Sang saudagar kemudian memohon keselamatan kepada dewa laut agar kapalnya dapat berlabuh dengan selamat.
"Akhirnya kapal tersebut berhasil berlabuh. Saudagar Tiongkok tersebut kemudian memberikan sumbangan untuk pembangunan Pura Taman Sari. Sehingga sampai saat ini di Pura tersebut terdapat pelinggih Dewa Cina," tandas Gunadi.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rat
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 7849 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5635 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3532 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2388 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan