Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Evaluasi KLH: Sampah ke TPA Suwung Turun 50 Persen

Rabu, 8 April 2026, 10:53 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Evaluasi KLH: Sampah ke TPA Suwung Turun 50 Persen.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Di tengah gejolak persoalan penanganan sampah pascapelarangan pembuangan sampah organik ke TPA Suwung, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) melakukan rapat evaluasi pengelolaan Sampah Badung dan Denpasar (7/4/2026).

Hasil evaluasi pengelolaan sampah di TPA Suwung menunjukkan progres yang baik. Inspektur Utama Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Irjen Pol. Winarto menyebut rapat evaluasi ini dilakukan karena munculnya gejolak di masyarakat pasca pelarangan pembuangan sampah organik ke TPA Suwung.

"Hal ini menjadi teguran kementerian. Kemarin ada gejolak yang menjadi perhatian pak menteri. Seperti respons para pengangkut sampah swakelola yang masih mengangkut sampah campur," sebut Winarto.

Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan sejak 1 April hanya boleh membawa sampah residu ke TPA Suwung, kini jumlah truk ke TPA  sudah semakin berkurang.

"Sebelumnya sampah yang tercampur datang ke TPA Suwung biasanya hampir 500 truk per hari. Sekarang sudah berkurang hingga 50% rata-rata," jelas Koster usai rapat.

Koster mengungkap juga kondisi para pengangkut sampah residu oleh swakelola sudah mulai menyadari soal pemilahan. Sekarang kondisinya sudah mulai kondusif.

"Awalnya ribut karena truknya disetop tidak boleh membawa sampah organik karena dilarang, harus balik, sekarang sudah tidak ada kejadian seperti itu. Ini sudah kemajuan," tambah Koster.

Menindaklanjuti persoalan ini, Wali Kota Denpasar dan Bupati Badung menggerakkan jajarannya melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat untuk pemilahan sampah di rumah tangga.

Progresnya saat ini Kota Denpasar dan kabupaten Badung tengah gencar merekrut tenaga untuk TPS3R dan TPST. Pemaparan Koster, tindakan lain yang juga diambil untuk pengelolaan sampah dari masyarakat adalah memperbanyak TPS3R dan teba modern. Terkhusus Kota Denpasar saat ini sedang mencapai pembagian bag composter sebanyak 176 ribu unit untuk masyarakat Kota Denpasar. Namun saat ini baru mendapatkan 40 ribu unit bag composter.

"Kalau ini bisa dicapai targetnya maka pengolahan sampah di Banjar akan lebih cepat," susul Koster.

Kini kondisi masyarakat yang sudah semakin kondusif bagi Gubernur Koster, akan bisa memperlancar target penutupan total TPA Suwung pada 1 Agustus 2026.

Masyarakat masih bisa membawa sampah residu ke TPA Suwung dari 1 April hingga 31 Juli 2026. Setelah itu TPA suwung ditutup total.

"Itu yang menjadi arahan inspektur utama," tambah Koster.

Koster menyebut partisipasi warga semakin tinggi kesadarannya untuk memilah. Meskipun belum 100% masyarakat terbiasa memilah. Sementara untuk mengatasi sampah yang masih tercampur bisa membawa ke TPS3R untuk dipilah.

Namun Koster berekspektasi jika semua Banjar sudah bisa memilah, maka di TPS3R hanya akan digunakan sebagai tempat pencacahan sampah organik.

Sementara sisi lain ekspektasi Koster dalam skenario terdekat itu, proses pemeriksaan sampah yang masuk ke TPA Suwung terus berjalan.

Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, I Made Dwi Arbani, menyatakan saat ini sudah ada 2 titik  pemeriksaan di pintu masuk TPA Suwung. Tim pemeriksa ini dari DKLH Provinsi Bali, LH Kota Denpasar, Badung, Pol PP, Polri dan Kementerian LHK. 

Saat ini ada sebanyak 12 checker yang bertugas secara shift. Menurutnya, pemeriksaan ini rata-rata memerlukan waktu 3-5 menit tergantung volume sampah.

"Di awal pemeriksaan memang tidak efektif. Tapi sekarang sudah sangat efektif. Di awal-awal sampahnya penuh, tapi sekarang isinya kan setengah truk. Artinya pemilahan itu sudah jalan," kata Dwi.

Saat ini waktu operasional TPA Suwung dibuka dari jam 6 pagi-6 sore. Dwi mengevaluasi perlu adanya pengawasan untuk tim pemeriksa ini. Saat ini check poinnya hanya 2, ada kemungkinan akan ditambah agar lebih pemeriksaan lebih cepat. 

"Sebagai bentuk pengawasan bisa pasang CCTV di titik pemeriksaan sehingga pak Walikota bisa tetap mengawasi kerja checkernya tanpa harus setiap hari ke TPA," Saran Arbani.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/jun



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami