Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 25 Mei 2026
Hama Lalat Buah Ancam Panen Jeruk di Desa Buahan Kaja Gianyar
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Serangan hama lalat buah kini menjadi ancaman serius bagi petani jeruk di Desa Buahan Kaja, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar.
Hama tersebut disebut menjadi penyebab utama menurunnya produktivitas pertanian jeruk hingga menggagalkan hasil panen petani setiap musimnya.
Kepala Desa Buahan Kaja, I Wayan Wirtama, mengungkapkan serangan lalat buah menjadi persoalan paling merugikan dibandingkan kendala pertanian lainnya.
“Lalat buah menjadi penyebab utama gagalnya hasil panen petani. Fase penyebab kegagalannya memang paling dominan karena lalat buah,” ujarnya saat menyampaikan keluhan para petani.
Menurutnya, dampak serangan hama tersebut cukup besar karena mampu menurunkan hasil produksi jeruk hingga 20 sampai 30 persen dalam setiap musim panen.
“Yang menyebabkan hasil panennya berkurang itu bisa sampai 20 hingga 30 persen setiap panen,” jelasnya.
Wirtama menambahkan, kerusakan akibat lalat buah jauh lebih parah dibandingkan gangguan lain seperti pembusukan pada batang atau cabang tanaman jeruk. Jika pembusukan hanya terjadi pada sebagian tanaman, petani masih dapat melakukan pemangkasan agar muncul cabang baru yang lebih produktif.
“Kalau busuknya sebagian masih bisa dipotong, nanti akan muncul cabang baru. Dengan pemeliharaan yang bagus tanaman masih bisa berbuah kembali,” katanya.
Karena itu, pihak desa berharap adanya keterlibatan akademisi untuk membantu petani menemukan solusi pengendalian hama lalat buah melalui inovasi teknologi maupun pendampingan budidaya pertanian.
Program Studi Agroteknologi Universitas Warmadewa diminta turun tangan membantu menciptakan metode pengendalian lalat buah yang lebih efektif. Selain pengendalian hama, petani juga membutuhkan tambahan pengetahuan terkait pengolahan pupuk, teknik pemupukan yang benar, serta pemeliharaan tanaman agar hasil produksi meningkat.
“Karena ini hama yang paling dominan menyerang, kalau bisa dikendalikan tentu akan berdampak besar terhadap peningkatan pendapatan petani,” tegas Wirtama.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Program Studi Agroteknologi Unwar, I Gusti Bagus Udayana, menekankan pentingnya perubahan pola pemeliharaan tanaman jeruk oleh petani. Ia menyoroti kebiasaan sebagian petani yang masih menggunakan kotoran ternak secara langsung tanpa proses fermentasi terlebih dahulu.
“Harus difermentasi dulu. Jangan langsung menuangkan kotoran ternak ke tanaman karena respons tanaman akan lambat,” ujarnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Pengendara Scoopy Tewas Terlindas Mobil di Mengwi Badung
Dibaca: 2109 Kali
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1952 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1441 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 1324 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah