Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 25 Oktober 2026
Hama Lalat Buah Ancam Panen Jeruk di Desa Buahan Kaja Gianyar
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Serangan hama lalat buah kini menjadi ancaman serius bagi petani jeruk di Desa Buahan Kaja, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar.
Hama tersebut disebut menjadi penyebab utama menurunnya produktivitas pertanian jeruk hingga menggagalkan hasil panen petani setiap musimnya.
Kepala Desa Buahan Kaja, I Wayan Wirtama, mengungkapkan serangan lalat buah menjadi persoalan paling merugikan dibandingkan kendala pertanian lainnya.
“Lalat buah menjadi penyebab utama gagalnya hasil panen petani. Fase penyebab kegagalannya memang paling dominan karena lalat buah,” ujarnya saat menyampaikan keluhan para petani.
Menurutnya, dampak serangan hama tersebut cukup besar karena mampu menurunkan hasil produksi jeruk hingga 20 sampai 30 persen dalam setiap musim panen.
“Yang menyebabkan hasil panennya berkurang itu bisa sampai 20 hingga 30 persen setiap panen,” jelasnya.
Wirtama menambahkan, kerusakan akibat lalat buah jauh lebih parah dibandingkan gangguan lain seperti pembusukan pada batang atau cabang tanaman jeruk. Jika pembusukan hanya terjadi pada sebagian tanaman, petani masih dapat melakukan pemangkasan agar muncul cabang baru yang lebih produktif.
“Kalau busuknya sebagian masih bisa dipotong, nanti akan muncul cabang baru. Dengan pemeliharaan yang bagus tanaman masih bisa berbuah kembali,” katanya.
Karena itu, pihak desa berharap adanya keterlibatan akademisi untuk membantu petani menemukan solusi pengendalian hama lalat buah melalui inovasi teknologi maupun pendampingan budidaya pertanian.
Program Studi Agroteknologi Universitas Warmadewa diminta turun tangan membantu menciptakan metode pengendalian lalat buah yang lebih efektif. Selain pengendalian hama, petani juga membutuhkan tambahan pengetahuan terkait pengolahan pupuk, teknik pemupukan yang benar, serta pemeliharaan tanaman agar hasil produksi meningkat.
“Karena ini hama yang paling dominan menyerang, kalau bisa dikendalikan tentu akan berdampak besar terhadap peningkatan pendapatan petani,” tegas Wirtama.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Program Studi Agroteknologi Unwar, I Gusti Bagus Udayana, menekankan pentingnya perubahan pola pemeliharaan tanaman jeruk oleh petani. Ia menyoroti kebiasaan sebagian petani yang masih menggunakan kotoran ternak secara langsung tanpa proses fermentasi terlebih dahulu.
“Harus difermentasi dulu. Jangan langsung menuangkan kotoran ternak ke tanaman karena respons tanaman akan lambat,” ujarnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/gnr
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5748 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4589 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2550 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2196 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2185 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan