Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Didukung BRImo dan KUR BRI, Perajin Tedung di Paksebali Bertahan di Tengah Kelangkaan Bahan Baku

Sabtu, 20 Juni 2026, 11:20 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/dok BRI/Didukung BRImo dan KUR BRI, Perajin Tedung di Paksebali Bertahan di Tengah Kelangkaan Bahan Baku.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, KLUNGKUNG.

Usaha pembuatan tedung upacara di kawasan Puri Satria Kanginan, Desa Paksebali, Kabupaten Klungkung, masih mampu bertahan di tengah tantangan sulitnya memperoleh bahan baku dan tenaga kerja. Tradisi kerajinan yang menjadi bagian dari kebutuhan upacara adat Bali ini terus berjalan karena tingginya permintaan pasar, terutama menjelang hari raya keagamaan.

Salah satu perajin tedung, Anak Agung Gede Anom Suwastika, mengaku usaha yang kini digelutinya merupakan warisan keluarga yang telah dirintis sejak lama. Pria berusia 56 tahun tersebut sebelumnya bekerja di sektor perhotelan sebelum akhirnya kembali melanjutkan usaha keluarga setelah pensiun sekitar empat tahun lalu.

“Dari kecil memang sudah lihat ibu membuat tedung. Jadi basic-nya memang dari keluarga,” ujarnya.

Di rumah produksinya yang berada di lingkungan Puri Satria Kanginan, proses pengerjaan tedung saat ini lebih banyak difokuskan pada tahap menjahit dan merangkai. Sebagian bahan dan rangka tedung telah dipersiapkan oleh pekerja lain sehingga proses produksi dapat berjalan lebih efisien.

Dalam kondisi normal, Suwastika mampu memproduksi sekitar 20 tedung ukuran satu meter setiap hari. Namun menjelang Hari Raya Galungan, permintaan meningkat tajam sehingga produksi bisa mencapai 40 hingga 50 tedung per hari.

“Kalau mendekati Galungan biasanya kewalahan karena permintaan naik terus. Kadang terkendala bahan baku,” katanya.

Tedung yang diproduksi tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari 90 sentimeter, satu meter hingga satu seperempat meter. Harga jualnya pun bervariasi, yakni Rp65 ribu untuk ukuran 90 sentimeter kualitas halus, Rp85 ribu untuk ukuran satu meter, dan Rp125 ribu untuk ukuran satu seperempat meter.

Menurut Suwastika, ukuran satu meter dengan kualitas halus menjadi produk yang paling banyak diminati konsumen. Selain model standar, pihaknya juga memproduksi tedung agung yang memiliki ornamen lebih rumit dan memerlukan keterampilan khusus dalam proses pembuatannya.

Pasar utama tedung produksi Paksebali mencakup sejumlah pasar tradisional di Denpasar dan sekitarnya, seperti Pasar Sanglah, Pasar Kreneng, hingga Pasar Kumbasari. Dalam situasi normal, pesanan mencapai sekitar 200 unit setiap dua hingga tiga minggu dan dapat meningkat hingga dua kali lipat saat musim hari raya.

Meski permintaan terus tumbuh, para perajin masih menghadapi kendala dalam memperoleh bahan baku. Kayu dan bambu yang digunakan sebagai rangka tedung semakin sulit ditemukan, terutama saat musim hujan. Jenis kayu yang digunakan umumnya berasal dari pohon buah-buahan seperti durian dan wani.

“Kalau musim hujan lebih susah lagi cari bahan,” ujarnya.

Usaha pembuatan tedung di kawasan Puri Satria Kanginan saat ini menjadi sumber penghidupan bagi banyak warga. Tercatat sekitar 20 pelaku usaha tergabung dalam Klaster Tedung Paksebali. Selain memproduksi tedung, sebagian warga juga membuat prada dan ider-ider untuk kebutuhan upacara adat Bali.

Untuk menjaga kelangsungan produksi, Suwastika memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI senilai Rp100 juta. Dana tersebut digunakan untuk menambah stok bahan baku sehingga produksi tetap berjalan ketika permintaan meningkat.

“Bantuan KUR sangat membantu untuk modal beli bahan dulu sebelum diputar kembali,” katanya.

Selain dukungan pembiayaan, digitalisasi layanan perbankan juga mulai memberikan kemudahan bagi pelaku usaha. Saat ini sebagian besar transaksi dengan pelanggan dilakukan secara non tunai melalui aplikasi BRImo.

Menurut Suwastika, sistem pembayaran digital mempermudah proses transaksi karena banyak pelanggan yang melakukan pembayaran uang muka sebelum barang dikirim.

Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, mengatakan BRI terus mendorong perkembangan usaha tradisional masyarakat Bali agar tetap tumbuh dan mampu memberikan dampak ekonomi yang luas.

“Melihat potensi permintaan yang selalu ada, terutama di Bali, aktivitas ekonomi seperti ini harus terus didorong karena mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan,” ujarnya.

Ia menambahkan, layanan digital seperti BRImo membantu pelaku usaha dalam melakukan transaksi pembayaran, pembelian bahan baku, hingga pencatatan keuangan usaha yang lebih tertata.

Menurutnya, penggunaan mobile banking kini menjadi kebutuhan penting seiring berkembangnya digitalisasi dan meningkatnya penggunaan transaksi non tunai oleh masyarakat.

“Dengan catatan transaksi yang lebih rapi, pelaku usaha nantinya juga lebih mudah mengakses kredit perbankan,” katanya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/adv



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami