Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Tari Rejang Pala Nongan Diusulkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda

Kamis, 17 September 2026, 21:22 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Tari Rejang Pala Nongan Diusulkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, KARANGASEM.

Pemerintah Kabupaten Karangasem melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) hanya mengusulkan satu warisan budaya daerah untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada 2026.

Warisan budaya yang diajukan adalah Tari Rejang Pala dari Desa Nongan, Kecamatan Rendang. Tarian sakral tersebut dinilai memiliki keunikan, nilai filosofis, serta sejarah yang kuat dalam kehidupan masyarakat setempat.

Kepala Disbudpar Karangasem, I Putu Eddy Surya Artha, mengatakan keputusan mengusulkan satu WBTb tahun ini dilakukan setelah pihaknya melakukan pengecekan dan kajian mendalam.

“Untuk tahun ini, hanya ada satu warisan budaya yang kami usulkan yaitu Tari Rejang Pala,” kata Surya Artha, Kamis (17/9/2026).

Menurutnya, pengajuan satu warisan budaya bukan berarti Karangasem hanya memiliki satu warisan budaya yang berpotensi ditetapkan sebagai WBTb. Masih terdapat sejumlah warisan budaya lainnya yang akan diajukan secara bertahap.

“Sebenarnya masih banyak warisan budaya Karangasem yang belum masuk WBTb. Nanti akan kami usulkan secara bertahap tiap tahunnya,” ujarnya.

Rejang Pala dan Tradisi Usaba Pala

Tari Rejang Pala memiliki keterikatan erat dengan kehidupan religius dan agraris masyarakat Desa Nongan. Tarian tersebut diwariskan melalui Pura Balang Tamak dan menjadi bagian dari pelaksanaan Usaba Pala.

Usaba Pala merupakan ritual yang menjadi ungkapan syukur masyarakat atas hasil pertanian dan kelimpahan hasil bumi.

Salah satu keunikan Tari Rejang Pala terlihat dari hiasan kepala yang digunakan para penari. Berbagai hasil bumi seperti rambutan, salak, jeruk, boni, kepundung dan buah-buahan lainnya dirangkai menjadi gelungan.

Penggunaan hasil bumi sebagai hiasan kepala bukan sekadar ornamen. Buah-buahan tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat terhadap hasil alam sekaligus mengandung makna religius dan filosofis.

Tari Rejang Pala dibawakan secara berkelompok oleh perempuan dalam rangkaian upacara keagamaan. Tarian ini juga menjadi bagian dari Usaba Desa di Pura Pesamuhan Agung, termasuk dalam prosesi menyambut Ida Betara Dalem.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/krs



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami