Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 7 Oktober 2026
Nilai Pembiayaan Pinjaman Daring Tembus Rp105,14 Triliun hingga Juni 2026
BERITABALI.COM, BADUNG.
Industri Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) atau Pindar mencatat pertumbuhan signifikan hingga Juni 2026. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), outstanding pembiayaan Pindar telah mencapai Rp105,14 triliun.
Capaian tersebut tumbuh 25,88 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy), dengan jumlah rekening peminjam aktif mencapai 26,91 juta. Angka ini menunjukkan semakin besarnya peran pembiayaan digital dalam ekosistem jasa keuangan Indonesia.
Pertumbuhan Pindar tidak lagi hanya dipandang sebagai alternatif pembiayaan. Industri ini berkembang menjadi salah satu instrumen untuk memperluas akses keuangan, mendukung pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan outstanding yang telah menembus Rp105,14 triliun hingga Juni 2026, Pindar dinilai semakin melengkapi peran perbankan dan lembaga jasa keuangan lainnya, terutama dalam menjangkau masyarakat dan pelaku usaha yang belum memperoleh akses pembiayaan secara optimal.
Namun, pertumbuhan industri juga diikuti tantangan yang semakin kompleks. Pengembangan Pindar kini tidak hanya berkaitan dengan perluasan adopsi layanan digital, tetapi juga menyangkut penguatan tata kelola, kepercayaan publik, kolaborasi lintas sektor, serta keberlanjutan dampak ekonomi dari pembiayaan digital.
Ketua Umum AFPI Entjik S. Djafar mengatakan, industri Pindar telah memasuki fase kematangan sehingga membutuhkan pendekatan baru dalam membangun ekosistem pembiayaan digital di Indonesia.
"Industri Pindar telah berkembang menjadi salah satu pilar penting dalam ekosistem jasa keuangan Indonesia. Hari ini, tantangan yang kita hadapi bukan lagi sekadar memperkenalkan Pindar kepada masyarakat, tetapi bagaimana bersama-sama membangun ekosistem yang semakin kuat, terpercaya, dan mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas. Untuk itu diperlukan ruang kolaborasi yang mempertemukan regulator, pemerintah, industri, investor, dan seluruh pemangku kepentingan untuk menyusun arah pengembangan industri ke depan,” ujar Entjik, Jumat (21/8/2026) di Badung.
Seiring dengan pertumbuhan pembiayaan, Pindar diarahkan untuk memiliki kontribusi yang semakin besar terhadap inklusi keuangan. Peran tersebut mencakup pembukaan akses pembiayaan bagi masyarakat serta pelaku UMKM yang selama ini menghadapi keterbatasan dalam memperoleh pendanaan.
Untuk merespons perkembangan industri, AFPI menghadirkan Fintech Lending Days (FLD) 2026 dengan konsep baru sebagai strategic industry platform.
Penyelenggaraan FLD 2026 tidak lagi hanya berfokus pada edukasi dan literasi. Forum tersebut dirancang sebagai ruang dialog strategis yang mempertemukan regulator, pemerintah, pelaku industri jasa keuangan, perbankan, asosiasi, hingga mitra strategis.
FLD diselenggarakan dengan dukungan sejumlah platform Pindar, termasuk PT Info Tekno Siaga (Adapundi), PT Pintar Inovasi Digital (AsetKu), dan PT Indonesia Digital Identity (VIDA). Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mempercepat penguatan ekosistem pembiayaan digital nasional.
Mengusung tema "Advancing Indonesia's Digital Financing Ecosystem”, FLD 2026 berlangsung pada 20–21 Agustus 2026 di Bali. Forum ini diharapkan menjadi ruang lahirnya gagasan, kemitraan, serta kebijakan yang dapat memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem pembiayaan digital di kawasan.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Agusman mengungkapkan, forum seperti Fintech Lending Days dapat menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi dan sinergi sekaligus mendorong pengembangan ekosistem jasa keuangan digital di Indonesia.
Khusus bagi industri Pindar, penguatan ekosistem dinilai penting untuk membangun kepercayaan masyarakat melalui sistem keuangan yang semakin terhubung.
Sementara itu, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menegaskan pentingnya pembiayaan digital sebagai enabler pertumbuhan ekonomi nasional.
Kepastian regulasi, iklim investasi yang kondusif, serta sinergi antara pemerintah, regulator, dan industri menjadi sejumlah faktor penting untuk memperkuat pembiayaan produktif bagi UMKM dan sektor riil.
Selain strategic forum dan diskusi tingkat tinggi, FLD 2026 juga mempertemukan pelaku industri melalui business matching, networking session, penandatanganan nota kesepahaman (MoU), serta industry showcase.
Berbagai agenda tersebut diharapkan dapat melahirkan kolaborasi nyata sekaligus memperkuat ekosistem pembiayaan digital Indonesia.Dengan capaian outstanding Rp105,14 triliun hingga Juni 2026, industri Pindar memasuki fase pengembangan baru. Tantangan ke depan tidak hanya terletak pada inovasi teknologi, tetapi juga bagaimana membangun tata kelola, kepercayaan, dan kolaborasi yang mampu memastikan pembiayaan digital memberikan dampak berkelanjutan bagi UMKM, masyarakat, dan perekonomian nasional.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 1464 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1233 Kali
Konsensus Politik Tanpa Musuh Era Prabowo Subianto
Dibaca: 679 Kali
Dermaga MB 2 Diperbaiki, Antrean Gilimanuk Mengular 400 Meter
Dibaca: 571 Kali
Giliran Anggota Satresnarkoba Polresta Denpasar Terseret Kasus Senpi
Dibaca: 544 Kali
ABOUT BALI
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung