Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




De Gadjah Panen Bersama Petani Jembrana, Dorong Pertanian Organik dan Jaga Ketahanan Pangan Bali

Minggu, 30 Agustus 2026, 07:08 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/De Gadjah Panen Bersama Petani Jembrana, Dorong Pertanian Organik dan Jaga Ketahanan Pangan Bali.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, JEMBRANA.

Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Bali, Made Muliawan Arya atau De Gadjah, mengikuti panen raya padi organik bersama para petani di Subak Brawantangi, Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Sabtu (29/8/2026).

Mengenakan atribut HKTI, De Gadjah turun langsung ke sawah dan ikut memanen padi varietas MRCL 219 pada lahan demplot seluas empat hektare yang dikelola bersama 149 anggota Subak Brawantangi.

Kehadirannya sebagai Ketua DPD HKTI Bali, menurut De Gadjah, merupakan bentuk dukungan kepada para petani yang terus berupaya menjaga produktivitas sekaligus mulai mengembangkan sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

“Saya datang untuk melihat dan mendengar langsung petani kita. Bagi saya, HKTI harus hadir sebagai mitra dan pelayan petani, peternak, dan nelayan. Karena dari tangan merekalah pangan untuk masyarakat dihasilkan,” ujar De Gadjah.

Menurutnya, pertanian bukan hanya persoalan produksi, tetapi juga menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat, ketahanan pangan, serta masa depan generasi berikutnya.

Ia turut mengingatkan pesan Presiden Prabowo Subianto mengenai besarnya jasa petani dan nelayan dalam memenuhi kebutuhan pangan bangsa.

“Seperti yang selalu disampaikan Bapak Presiden Prabowo, petani dan nelayan adalah pahlawan pangan kita. Mereka bekerja setiap hari untuk memastikan masyarakat bisa mendapatkan pangan. Karena itu, sudah sepatutnya kita hadir, mendengar, dan memperjuangkan kesejahteraan mereka,” katanya.

Jaga Sawah, Jaga Masa Depan Bali

De Gadjah menyoroti tantangan pertanian Bali, khususnya tekanan terhadap lahan pertanian akibat alih fungsi lahan.

Menurutnya, persoalan tersebut perlu menjadi perhatian bersama. Kebutuhan ekonomi masyarakat dan perkembangan pembangunan merupakan realitas yang tidak dapat diabaikan, namun keberadaan lahan produktif juga harus tetap dijaga agar Bali memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan pangannya.

Karena itu, ia mendorong kolaborasi antara petani, pemerintah, organisasi pertanian, dunia usaha, akademisi, serta seluruh pihak terkait untuk mencari jalan keluar yang seimbang.

“Kita tentu memahami kebutuhan pembangunan dan kebutuhan ekonomi masyarakat. Tetapi sawah juga harus kita jaga. Kalau pertanian kita kuat, ketahanan pangan kita juga kuat. Yang paling penting adalah bagaimana petani bisa hidup layak dan bangga dengan pekerjaannya,” ujarnya.

De Gadjah berharap keberhasilan yang dikembangkan di Subak Brawantangi dapat menjadi inspirasi bagi subak-subak lainnya di Bali, tentunya dengan menyesuaikan kondisi dan karakter masing-masing wilayah.

Menurutnya, sistem subak merupakan kekuatan Bali yang tidak hanya memiliki nilai pertanian, tetapi juga mengandung semangat kebersamaan, gotong royong, serta kearifan lokal yang telah diwariskan lintas generasi.

“Pertanian organik adalah salah satu jalan menuju pertanian yang lebih berkelanjutan. Dari sini kita belajar, ketika tanah kita rawat dengan baik, tanah juga akan memberikan kehidupan kepada kita. Semoga apa yang dilakukan petani Subak Brawantangi membawa manfaat dan bisa menginspirasi daerah lainnya,” katanya.

Ia menegaskan HKTI Bali ingin hadir sebagai mitra yang dekat dengan petani, bukan sekadar organisasi yang bergerak dalam urusan administratif.

“HKTI harus turun ke bawah, mendengar apa yang menjadi kesulitan petani dan bersama-sama mencari jalan keluarnya. Tidak semua persoalan bisa selesai dalam sehari, tetapi paling tidak petani tahu bahwa mereka tidak berjalan sendiri,” tegas De Gadjah.

Pemkab Jembrana Apresiasi Panen Raya

Panen raya padi organik tersebut turut mendapat apresiasi Pemerintah Kabupaten Jembrana. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jembrana, Putu Eka Arta, yang mewakili Bupati Jembrana Made Kembang Hartawan, mengatakan panen raya bukan sekadar momentum menikmati hasil pertanian, tetapi juga wujud rasa syukur atas kerja keras petani dan kolaborasi berbagai pihak.

“Momentum panen ini bukan sekadar memetik hasil, tetapi wujud syukur atas kerja keras petani dan simbol kolaborasi dalam mendukung pembangunan sektor pertanian di Jembrana,” ujarnya.

Ia mengatakan sektor pertanian merupakan salah satu kekuatan penting Kabupaten Jembrana karena masih menjadi sumber penghidupan bagi banyak masyarakat.

Namun, pertanian ke depan juga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, efisiensi biaya produksi, keterbatasan tenaga kerja hingga kebutuhan penerapan teknologi.

Karena itu, modernisasi dan inovasi pertanian dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas tanpa meninggalkan karakter dan kearifan lokal masyarakat.

Pertanian Organik Dorong Produktivitas

Pendamping petani Subak Brawantangi dari Yayasan Dibia Amerta, Kade Sudiana, mengatakan penerapan pertanian organik menjadi bagian dari upaya membangun pertanian yang lebih berkelanjutan.

Ia memperkenalkan semangat PETANI – Pertahanan Ekonomi Tanah Air Negara Indonesia, sebagai pengingat bahwa petani memiliki posisi strategis dalam menjaga swasembada dan ketahanan pangan. Hasil ubinan di lahan Subak Brawantangi menunjukkan peningkatan produktivitas setelah penerapan pupuk organik.

Sebelumnya, produktivitas gabah berada pada kisaran 6,5 hingga 7 ton per hektare. Melalui penerapan pupuk organik dengan komposisi 50:50, produktivitas ditargetkan meningkat menjadi sekitar 8 hingga 9 ton per hektare.

Menurut Kade Sudiana, peningkatan tersebut tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga pada upaya memperbaiki unsur hara dan kondisi tanah setelah penggunaan pupuk non-organik dalam jangka panjang.

Ia juga mendorong gagasan pembentukan Bank Tani di Kabupaten Jembrana yang diharapkan dapat membantu kebutuhan petani dari proses pengolahan lahan hingga pascapanen, sekaligus mendorong semakin banyak generasi muda tertarik terjun ke sektor pertanian.

Panen raya di Subak Brawantangi akhirnya bukan sekadar tentang berapa banyak padi yang berhasil dipanen. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi sektor pertanian Bali, kegiatan tersebut membawa pesan sederhana: menjaga petani berarti menjaga pangan, menjaga tanah, dan menjaga masa depan. Bagi De Gadjah, semangat itu pula yang ingin terus dibawa HKTI Bali.

“Petani tidak perlu banyak janji. Mereka perlu kita dengar, kita dampingi, dan kita perjuangkan bersama. Karena ketika petani sejahtera, pangan kuat dan masyarakat pun ikut kuat,” pungkasnya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: Gerindra Bali



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami