Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 31 Agustus 2026
Kesedihan yang Terus Hidup dari Rasa Kehilangan dan Kerinduan untuk Dicintai
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Seorang perempuan berusia 22 tahun, berisial KYR datang karena kesedihan yang dirasakan semakin berat dalam satu bulan terakhir. Ia merasa memikul banyak beban seorang diri dan kesulitan menceritakan masalahnya kepada orang lain.
Tekanan terutama berasal dari hubungan yang kurang harmonis dengan ibunya, masalah ekonomi, pekerjaan, kehidupan rumah tangga, serta tuntutan dalam menjalani peran sebagai ibu.
Sejak kecil, ia merasa kurang memperoleh kasih sayang dan dukungan emosional dari ibunya. Ia merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Ia mengatakan sejak kecil ibunya lebih banyak sibuk dengan urusan pekerjaan dan hubungan pribadinya, sehingga merasa dirinya kurang diperhatikan dan tidak menjadi prioritas. Kini ia juga tertekan karena ibunya sering meminta uang, sedangkan kondisi keuangannya terbatas.
Di tempat kerja, perkataan tante suaminya yang menyebutnya malas dan tidak mampu mengurus anak membuatnya merasa gagal, tidak berharga, dan semakin rendah diri. Kesedihannya juga berkaitan dengan kehilangan anak pertamanya tiga tahun yang lalu akibat kelainan paru-paru. Anak tersebut meninggal pada usia dua bulan setelah dirawat di Neonatal Intensive Care Unit (NICU).
Setelah kejadian tersebut ia malah disalahkan oleh keluarga suami sebagai penyebab kematian anaknya. Pengalaman itu meninggalkan kesedihan, rasa bersalah, dan ketakutan bahwa anak keduanya yang kini berusia dua tahun akan mengalami kekurangan kasih sayang seperti dirinya.
Dalam sebulan terakhir, ia merasa mudah lelah, kurang merawat dirinya dan anaknya, sulit berkonsentrasi, kehilangan nafsu makan, serta mengalami gangguan tidur dan mimpi buruk. Namun ia masih dapat menikmati bepergian ke tempat baru. Saat tertekan, ia mengalami serangan panik berupa gemetar, berdebar, sesak, tegang, dan keringat dingin. Ketika emosinya tidak tertahankan, ia menangis, membenturkan kepala ke dinding, atau menggores tangan dengan cutter.
Ia pernah mengalami kesedihan berat dan keinginan mengakhiri hidup setelah kematian anaknya, tetapi tidak mencari pertolongan. Riwayat masa kecilnya diwarnai dengan kehidupan bersama ayahnya yang mengalami gangguan jiwa pernah mengancam membunuhnya. Ia juga merasa hampa, takut ditinggalkan pasangan, hubungan yang tidak stabil, serta ledakan amarah yang impulsif.
Luka yang berbalut kesedihan dan rasa cemas
Kasus KYR mengingatkan kita bahwa kesedihan manusia tidak pernah berdiri sendiri. Ia tumbuh di dalam sejarah kehidupan, hubungan keluarga, kondisi ekonomi, pengalaman kehilangan, serta nilai budaya yang menentukan bagaimana seorang perempuan seharusnya menjadi anak, istri, pekerja, dan ibu. Kesedihannya tidak menghilang karena sumber tekanannya bukan satu peristiwa yang telah selesai.
Ia hidup dalam akumulasi luka yang terus diperbarui. Adanya pengabaian emosional sejak kecil, ancaman dari ayah yang mengalami gangguan jiwa, hubungan penuh tuntutan dengan ibu, kehilangan anak pertama, tuduhan dari keluarga suami, kesulitan ekonomi, kritik di tempat kerja, dan ketakutan gagal mengasuh anak kedua menjadi rangkaian tanpa akhir.
Dalam kerangka stress-vulnerability model, kerentanan lama bertemu dengan stresor baru hingga kemampuan psikologisnya untuk beradaptasi menjadi kewalahan. Pengalaman maltreatment pada masa kanak-kanak berhubungan dengan kemungkinan terjadinya gangguan depresi pada masa dewasa sekitar 2,5 kali lebih tinggi dari kondisi tanpa adanya maltreatment. Hal ini menunjukkan hubungan risiko, bukan takdir ataupun hubungan sebab-akibat tunggal.
Kehilangan anak pertamanya tampaknya juga belum memperoleh ruang aman untuk diproses. Ia bukan hanya kehilangan bayi, tetapi juga kehilangan harapan, identitas sebagai ibu bagi anak tersebut, dan bayangan masa depan yang telah dibangun. Ketika keluarga suami justru menyalahkannya, duka berubah menjadi disenfranchised grief, dimana penderitaannya tidak diakui, tidak divalidasi, bahkan diberi muatan kesalahan moral.
Terjadinya kehilangan anak tetap berkaitan dengan kerentanan gejala depresi orang tua, walaupun kekuatan hubungannya dipengaruhi faktor ekonomi dan sosial. Orang tua yang kehilangan anak juga merupakan kelompok yang rentan mengalami prolonged grief disorder, tetapi diagnosis tersebut baru dapat dipertimbangkan apabila terdapat kerinduan atau preokupasi menetap terhadap anak yang meninggal, gangguan fungsi, dan gejala yang melampaui norma budaya.
Kritik bahwa dirinya malas dan tidak mampu mengurus anak bukan sekadar perkataan yang menyakitkan. Kritik itu menyentuh keyakinan terdalam yang terbentuk sejak kecil, bahwa “Saya tidak cukup berharga”, “Saya tidak layak disayangi”, dan “Semua yang buruk adalah kesalahan saya.” Akibatnya, peristiwa hari ini terasa seperti pembuktian atas luka masa lalu. Tubuhnya pun tetap berada dalam keadaan siaga. Jantung berdebar, gemetar, sesak, tegang, dan keringat dingin merupakan ekspresi sistem alarm tubuh yang bereaksi seolah-olah bahaya sedang terjadi kembali.
Gejala selama satu bulan yang ditandai dengan kesedihan menetap, gangguan tidur, kehilangan nafsu makan, kelelahan, sulit berkonsentrasi, rasa tidak berharga, penurunan perawatan diri, dan perilaku menyakiti diri, cukup kuat untuk mencurigai suatu episode depresif dengan kecemasan yang bermakna.
Kemampuannya menikmati bepergian ke tempat baru tidak meniadakan kemungkinan depresi, namun hal itu justru menunjukkan bahwa kapasitas merasakan kesenangan belum sepenuhnya hilang dan dapat menjadi modal pemulihan. Serangan panik belum otomatis berarti gangguan panik, sedangkan mimpi buruk perlu ditelusuri sebagai bagian dari spektrum trauma. Membenturkan kepala dan menggores tangan juga tidak boleh dianggap mencari perhatian. Perilaku tersebut dapat menjadi cara darurat untuk mengalihkan nyeri emosional, menghukum diri, atau mengakhiri keadaan batin yang tidak tertahankan.
Memahami proses trauma secara menyeluruh
Dari perspektif attachment, anak membangun gambaran tentang dirinya dan orang lain melalui respons pengasuh. Ketika ibu tidak tersedia secara emosional dan ayah justru menjadi sumber ancaman, KYR mungkin membentuk internal working model bahwa orang terdekat tidak selalu aman, sedangkan dirinya tidak cukup penting untuk dilindungi. Pada masa dewasa, pola ini dapat muncul sebagai rasa takut ditinggalkan, sangat peka terhadap penolakan, sulit mempercayai dukungan, tetapi sekaligus memendam kebutuhan agar tidak kembali dikecewakan.
Ia mungkin tidak cukup memperoleh holding environment, yaitu relasi yang membantu seorang anak merasa aman, dipahami, dan mampu mengenali emosinya. Perasaan yang tidak pernah diberi nama akhirnya lebih mudah dilakukan melalui tubuh daripada dipikirkan melalui kata-kata. Ketika kemampuan mentalnya runtuh dalam tekanan tinggi, kesedihan menjadi tangisan yang tidak terkendali, kemarahan menjadi ledakan impulsif, dan rasa bersalah berubah menjadi serangan terhadap tubuh sendiri.
Dalam gagasan Freud tentang mourning and melancholia, kemarahan akibat kehilangan atau penolakan dapat berbalik menyerang diri, sehingga suara keluarga yang menyalahkan lama-kelamaan menjadi suara batin yang berkata, “Aku memang ibu yang gagal.”
Rasa hampa, ketakutan ditinggalkan, hubungan tidak stabil, ledakan amarah, dan perilaku menyakiti diri memang menyerupai ciri kepribadian ambang.
Namun iagnosis gangguan kepribadian ambang tidak boleh ditegakkan hanya berdasarkan krisis satu bulan. Polanya harus menetap sejak awal masa dewasa, hadir di berbagai situasi, serta dibedakan dari gangguan depresi, PTSD kompleks, duka berkepanjangan, dan respons terhadap kekerasan relasional.
Namun terjadi kondisi tumpang tindih yang besar antara trauma, depresi, PTSD, dan gejala kepribadian ambang. Pemberian label diagnosis yang tergesa-gesa justru dapat mengulangi pengalamannya merasa kembali didefinisikan oleh orang lain sebelum sungguh-sungguh didengarkan.
Secara psikososial, penderitaannya terdapat pada beberapa lapisan. Pada tingkat keluarga, ia mengalami tuntutan finansial, kurangnya dukungan, dan penyalahan atas kematian anak. Pada tingkat pekerjaan, terdapat penghinaan terhadap kompetensinya. Pada tingkat struktural, ia harus menjalankan banyak peran dengan sumber daya ekonomi dan pengasuhan yang terbatas. Adanya pelabelan, stereotip, pemisahan, kehilangan status, dan ketimpangan kekuasaan dapat menghasilkan perasaan terdiskriminasi. Secara interseksional, posisi sebagai perempuan muda, ibu, pekerja, menantu, dan individu dengan keterbatasan ekonomi dapat membuat berbagai tekanan tersebut saling memperkuat.
Dalam budaya Indonesia yang komunal, keluarga dapat menjadi sumber perlindungan, tetapi juga sumber pengawasan moral. Stigma di Indonesia sangat erat berkaitan dengan budaya malu, kewajiban berkontribusi bagi kepentingan kolektif, menjaga nama baik keluarga, dan memenuhi peran gender. Dengan demikian, sebutan ibu yang malas bukan hanya kritik perilaku, melainkan ancaman terhadap personhoodnya, dimana haknya untuk dipandang sebagai perempuan dan ibu yang bernilai menjadi terancam. Perspektif budaya tidak digunakan untuk menyalahkan budaya, melainkan untuk mengenali bagian budaya yang menekan sekaligus mengaktifkan bagian yang menyembuhkan, seperti solidaritas keluarga, ritual berduka, spiritualitas, dan gotong royong.
Ketakutan bahwa anak keduanya akan kekurangan kasih sayang memperlihatkan dimensi trauma antargenerasi. Pola tersebut paling mungkin diteruskan melalui cara keluarga mengasuh, mengelola konflik, membicarakan emosi, dan memaknai harga diri. Mekanisme epigenetik pada sistem stres saat ini sedang diteliti, tetapi bukti pada manusia masih berupa korelasional dan sulit dipisahkan dari genetika, pola pengasuhan, serta kemiskinan yang diwariskan. Karena itu, trauma antargenerasi bukan kutukan biologis. Pola yang dipelajari dapat dihentikan melalui relasi baru yang aman.
Secara neurobiologis, stres kronis dapat mengganggu sumbu hipotalamus–hipofisis–adrenal, regulasi kortisol, proses inflamasi, tidur, dan plastisitas hipokampus. Bersamaan dengan itu, amigdala menjadi lebih peka terhadap ancaman, sedangkan kendali prefrontal atas respons emosional melemah ketika arousal sangat tinggi. Aktivasi sistem saraf simpatis menjelaskan rasa berdebar, gemetar, dan keringat dingin.
Sedangkan gangguan konsolidasi memori emosional dapat berkontribusi terhadap mimpi buruk, dan perubahan jaringan motivasi dapat menurunkan energi dan perawatan diri. Kondisi ini bukan sekadar kekurangan serotonin, melainkan interaksi dinamis antara otak, tubuh, pengalaman relasional, dan lingkungan sosial.
Bangkit menghadapi tekanan hidup
Bangkit bagi KYR tidak boleh dimulai dengan nasihat agar lebih bersyukur atau lebih kuat. Langkah pertama adalah keselamatan. Perilaku menggores tangan dan membenturkan kepala, ditambah riwayat keinginan mengakhiri hidup, mengharuskan penilaian segera mengenai ide bunuh diri saat ini, rencana, niat, akses terhadap alat, penggunaan zat, kemampuan mengendalikan impuls, dan faktor pelindung. Bila terdapat niat atau rencana yang aktif, ia tidak boleh dibiarkan sendiri dan perlu dibawa ke IGD atau layanan psikiatri. Cutter dan sarana berbahaya lain perlu diamankan dengan persetujuan dan keterlibatan orang yang dipercaya. Perlu ada safety planning multikomponen yang disertai dukungan dan tindak lanjut, bukan sekadar janji bahwa pasien tidak akan menyakiti diri.
Pemulihan selanjutnya perlu berlangsung bertahap. Fase awal berfokus pada stabilisasi tidur, makan, serangan panik, dan kemampuan bertahan saat emosi memuncak. Pelatihan mindfulness, toleransi terhadap distres, regulasi emosi, dan efektivitas interpersonal sangat relevan untuk menggantikan tindakan menyakiti diri dengan strategi yang lebih aman. Setelah cukup stabil, terapi dapat memasuki pemrosesan trauma dan duka melalui psikoterapi berfokus trauma, terapi interpersonal, CBT berfokus duka, terapi psikodinamik singkat, atau pendekatan kejiwaan yang sesuai kebutuhan.
Pengobatan menggunakan obat antidepresan dapat dipertimbangkan berdasarkan diagnosis, derajat keparahan, preferensi pasien, kemungkinan kehamilan, kondisi medis, dan penilaian psikiater. Obat tidak menggantikan kebutuhan memperbaiki lingkungan relasional.
Dalam psikiatri komunitas, bukan hanya KYR yang diminta berubah. Lingkungan pun harus belajar menjadi lebih terapeutik. Suami perlu dilibatkan sebagai sekutu keselamatan dan pengasuhan. Pertemuan keluarga dapat digunakan untuk menghentikan tuduhan mengenai kematian anak, membagi tanggung jawab merawat anak kedua, dan membangun batas yang sehat terhadap tuntutan keuangan ibunya. Puskesmas dapat menjadi pusat pemantauan, dengan jejaring psikiater, psikolog, pekerja sosial, kader, layanan perlindungan perempuan, dukungan pengasuhan, dan komunitas. Pendampingan harus sensitif budaya dan memberi ruang bagi ritual atau praktik spiritual yang bermakna bagi KYR, bukan yang dipaksakan kepadanya.
Akhirnya, bangkit bukan berarti melupakan anak yang meninggal atau menjadi ibu yang sempurna. Bangkit berarti mengubah hubungan penuh luka, dari sesuatu yang diam-diam menguasai kehidupan menjadi pengalaman yang dapat dikenali, diceritakan, dan diberi makna. Kemampuannya menikmati perjalanan ke tempat baru adalah tanda bahwa di dalam dirinya masih ada rasa ingin tahu dan kapasitas untuk melanjutkan kehidupan.
Kekhawatirannya terhadap anak kedua pun menunjukkan kasih sayang, bukan bukti kegagalan. KYR sedang menjalani dua tugas sekaligus, mengasuh anaknya dan belajar menjadi figur pengasuh yang dahulu ia butuhkan. Ia tidak harus menyelesaikannya seorang diri. Ketika keluarga, layanan kesehatan, tempat kerja, dan komunitas bersedia ikut memikul beban, pemulihan tidak lagi menjadi tuntutan individual, melainkan proses sosial untuk mengembalikan rasa aman, martabat, dan harapan. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4753 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2560 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 2195 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1821 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1244 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun