Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Ketika Tuhan Terasa Tidak Adil: Sebuah Upaya Menemukan Makna dan Harapan

Minggu, 23 Agustus 2026, 22:10 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/ilustrasi/Ketika Tuhan Terasa Tidak Adil: Sebuah Upaya Menemukan Makna dan Harapan.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Seorang laki-laki berusia 34 tahun, berinisial TH datang dengan rasa sedih yang mendalam. Ia merasa Tuhan tidak adil karena pengalaman buruk masa lalu kini mengancam masa depannya. 

Selama lebih dari enam bulan ia mengalami kecemasan, tetapi kondisinya memburuk dalam tiga minggu terakhir setelah calon istrinya mengetahui bahwa ia pernah mengalami pelecehan seksual dan melakukan seks oral dengan sesama pria. Pernikahan yang semula direncanakan dua bulan lagi akhirnya ditunda.

Sejak itu, ia menarik diri, menonaktifkan media sosial yang sebelumnya ia sukai, serta berhenti mengajar dan berbicara tentang agama. Ia takut orang lain dapat melihat kecemasannya, mengetahui masa lalunya, lalu menilai dirinya sebagai orang yang memalukan. Ia juga membayangkan calon istrinya akan terus mengungkit kejadian tersebut setelah menikah. 

Pikiran-pikiran ini memicu jantung berdebar, napas berat, nyeri lambung, keringat dingin, sulit tenang, gangguan tidur, dan perilaku menghindar. Ia merasa rendah diri, mudah lelah, sulit berkonsentrasi, kehilangan nafsu makan, terbangun dua jam lebih awal, dan kesedihannya paling berat pada pagi hari.

Perjalanan hidupnya penuh kehilangan dan perjuangan. Ketika kelas tiga SD, ayahnya meninggal setelah diracun oleh sahabatnya. Keluarganya jatuh miskin, sedangkan kakak laki-lakinya kerap melakukan kekerasan dan mengambil hasil kerjanya untuk berjudi. Ia pernah berhenti sekolah, mengalami perundungan, lalu kembali belajar berkat bantuan keluarga temannya. Dengan bekerja sejak dini, ia akhirnya lulus SMA, merantau ke Bali, dan menyelesaikan S1 serta S2 agama.

Seorang pendeta yang membantu pendidikannya kemudian memanfaatkan ketergantungan dan ketakutannya. Ia menuruti tindakan seksual karena takut kehilangan tempat tinggal dan kesempatan belajar. Kini, ketika pengalaman itu terbongkar, rasa malu, takut ditolak, dan luka lama seakan hadir kembali. Meski tanpa gejala psikotik atau disosiatif, ia merasa masa depannya suram dan lebih memilih memendam penderitaannya seorang diri. Di balik semua itu, ia tetap menyimpan harapan untuk pulih, memahami dirinya tanpa menyalahkan diri, dan membangun kembali kehidupan serta hubungan yang lebih aman sehat.

Memaknai jeritan jiwa

Kisah TH tidak boleh dipadatkan menjadi daftar gejala. Di hadapan kita ada seorang laki-laki yang sejak kecil berkali-kali kehilangan perlindungan, tetapi tetap bekerja, belajar, merantau, menyelesaikan pendidikan tinggi, mengajar, dan membangun rencana pernikahan. Sebagai psikiater, saya tidak memiliki kewenangan untuk mengadili keadilan Tuhan. 

Namun, saya berkewajiban mendengarkan pertanyaan itu secara utuh. Kalimat Tuhan tidak adil pada TH bukan otomatis tanda lemahnya iman, apalagi waham. Ia adalah bahasa penderitaan eksistensial dan pergumulan spiritual, bagaimana seorang yang berusaha hidup dalam agama justru dieksploitasi oleh orang yang membawa otoritas agama? Adanya eksploitasi seksual oleh rohaniwan dapat merusak kesehatan psikologis, relasi, rasa aman, dan hubungan seseorang dengan Tuhan. Kepatuhan yang lahir dari ketergantungan serta ketakutan tidak dapat disamakan dengan free will.

Jawaban klinis yang manusiawi bukanlah buru-buru mengatakan, “Tuhan pasti punya rencana.” Kalimat itu mungkin dimaksudkan untuk menghibur, tetapi dapat terasa seperti penolakan terhadap kenyataan dan mengulangi penyalahgunaan bahasa agama. Saya lebih memilih berkata kepada TH, “Saya tidak mengetahui mengapa semua ini harus terjadi, tetapi saya mengetahui bahwa perbuatan itu tidak adil, bukan salah Anda, dan Anda tidak pantas menanggung malu pelaku”. Ketidakadilan yang dapat kita identifikasi ialah penyalahgunaan kuasa oleh pendeta, kegagalan orang dewasa dan lingkungan melindungi seorang yang rentan, serta stigma yang memindahkan tanggung jawab dari pelaku kepada korban.

Dalam logoterapi, manusia tidak diwajibkan menyebut penderitaan sebagai sesuatu yang baik. Penderitaan yang dapat dicegah harus dilawan. Makna hidup dicari bukan di dalam kekerasan, melainkan dalam cara seseorang menjawab kenyataan tanpa menyerahkan seluruh kebebasannya kepada masa lalu. Terapi berpusat pada makna dapat menurunkan depresi dan kecemasan serta memperkuat makna hidup. Dengan demikian, pertanyaan TH boleh tetap terbuka. Keraguan dapat menjadi bagian dari iman yang sedang terluka, bukan bukti bahwa ia ditinggalkan Tuhan.

Ketidakadilan tidak selalu memiliki alasan yang dapat diterima, tetapi manusia masih dapat membangun makna dari pengalaman tersebut. Memaknai bukan berarti menganggap penderitaan sebagai sesuatu yang baik, membenarkan pelaku, atau mengatakan bahwa kekerasan terjadi karena rencana Tuhan. Pelecehan tetaplah pelecehan, pengkhianatan tetaplah pengkhianatan, dan penyalahgunaan kuasa tetap merupakan kesalahan pelaku. Makna bukan terletak pada kejahatan yang dialami, melainkan pada bagaimana seseorang merebut kembali hidupnya setelah kejahatan itu terjadi.

Pertanyaan “Mengapa Tuhan tidak adil?” sering kali sesungguhnya menyimpan pertanyaan yang lebih dalam, bahwa “Mengapa saya tidak dilindungi?”, “Apakah saya masih berharga?”, dan “Apakah masa depan saya telah berakhir?” Pertanyaan tersebut bukan tanda lemahnya iman. Ia merupakan bahasa penderitaan ketika pengalaman manusia terasa terlalu berat untuk dijelaskan. Dalam keadaan seperti ini, seseorang tidak membutuhkan nasihat agama yang terburu-buru, melainkan kehadiran yang mampu berkata, “Apa yang terjadi pada Anda memang tidak adil, tetapi Anda tidak harus menanggungnya seorang diri.”

Mengapa trauma itu kembali?

Kematian ayah secara tragis, kemiskinan, kekerasan kakak, perundungan, putus sekolah, dan kerja sejak dini membentuk dunia batin tempat kasih sayang selalu berdekatan dengan kehilangan. Dalam bahasa teori kelekatan, figur yang seharusnya menjadi tempat aman berkali-kali tidak tersedia atau justru mengancam. 

Ketika seorang pendeta kemudian menawarkan tempat tinggal dan pendidikan, ia hadir sekaligus sebagai penolong, figur ayah, otoritas moral, dan penjaga masa depan. Ketergantungan ini menciptakan ketimpangan kuasa yang besar. Respons menuruti tindakan seksual karena takut kehilangan perlindungan lebih tepat dipahami sebagai strategi bertahan berupa freeze, submit, atau fawn dan bukan persetujuan seksual yang bebas.

Secara psikodinamik, pengalaman tersebut dapat tertanam sebagai keyakinan tidak sadar bahwa, “Agar diterima dan diselamatkan, saya harus menyerahkan diri”, “Jika orang mengetahui diri saya yang sebenarnya, saya akan ditinggalkan”, dan “Yang buruk terjadi karena ada yang salah dalam diri saya.” Suara pelaku dan stigma sosial kemudian diinternalisasi menjadi superego yang menghukum. Ini beririsan dengan konsep core belief tentang ketidakberhargaan, learned helplessness, serta betrayal trauma dimana pengkhianatan paling merusak ketika pelaku adalah figur yang menjadi sumber keselamatan.

Terbukanya pengalaman itu kepada calon istri mengaktifkan kembali konfigurasi lama. Sekali lagi TH merasa masa depan, tempat aman, dan penerimaan berada di tangan orang lain. Penundaan pernikahan dibaca sistem emosinya bukan hanya sebagai perubahan rencana, tetapi sebagai ancaman pengusiran psikologis. 

Ketakutannya bahwa calon istri akan terus mengungkit masa lalu menjadi antisipasi akan hukuman yang tidak berakhir. Menghindari mengajar, berbicara di depan umum, media sosial, dan pergaulan memang menurunkan cemas sesaat namun berdasarkan teori belajar, kelegaan ini menjadi penguat negatif yang mempertahankan kecemasan dan mempersempit hidupnya.

TH hidup dalam pertemuan beberapa sistem makna mulai dari maskulinitas yang menuntut laki-laki kuat dan tidak menjadi korban, norma heteroseksual yang keliru menganggap tindakan seksual di bawah paksaan sebagai bukti orientasi seksual hingga identitas religius yang menuntut kemurnian moral dari pengajar agama. 

Padahal, perilaku seksual akibat eksploitasi tidak menentukan orientasi seksual dan tidak memindahkan tanggung jawab kepada korban. Adanya stigma publik dapat berubah menjadi rasa malu dan menyalahkan diri. Hal ini berkaitan dengan depresi, kecemasan, stres, dan gejala pascatrauma bahkan dapat lebih kuat pada laki-laki dan kelompok minoritas seksual. 

Di sinilah perspektif psikiatri budaya menjadi penting. Dada sesak, nyeri lambung, keringat dingin, dan napas berat bukan hanya pikiran, melainkan idiom penderitaan tubuh ketika emosi sulit memperoleh ruang sosial yang aman. Rasa malu bukan hanya milik individu tetapi ia diproduksi oleh tatapan yang dibayangkan, norma komunitas, respons pasangan, dan penyalahgunaan otoritas. Komunitas dapat menjadi pengganda trauma ketika menyalahkan, menyebarkan rahasia, atau memaksa pengampunan. 

Sebaliknya, komunitas dapat menjadi tempat pemulihan ketika percaya kepada penyintas, menjaga kerahasiaan, menamai penyalahgunaan kuasa, dan memulihkan haknya untuk tetap menjadi manusia yang bermartabat. Trauma masa kecil tidak merusak otak secara permanen, tetapi dapat menyensitisasi sistem pendeteksi ancaman. 

Adanya perubahan fungsi pada jejaring afektif/default mode dan jejaring eksekutif pada anak dengan riwayat trauma maka jejaring yang berhubungan dengan pemrosesan diri, stres sosial-emosional, ingatan, kejutan, dan penghindaran akan mengalami gangguan. Ketika pemicu sekarang menyerupai tema trauma lama, amigdala, insula, dan sistem saraf otonom menaikkan alarm. 

Sumbu hipotalamus–pituitari–adrenal ikut mengatur respons stres, sementara korteks prefrontal lebih sulit memberi pesan, “Bahaya itu sudah berlalu.” Hipokampus yang seharusnya menempatkan ingatan dalam waktu dan konteks dapat gagal membedakan dulu dari sekarang menjadi tidak berfungsi.

Pada PTSD, pola representasi hipokampus saat mengingat trauma berbeda dari ingatan sedih biasa, mendukung pengalaman klinis bahwa trauma dapat terasa sedang terjadi kembali, bukan sekadar dikenang. Pada TH, pertanyaan calon istri, kemungkinan penilaian publik, dan ancaman gagalnya pernikahan menjadi kunci yang membuka jejaring memori tersebut. 

Jantung berdebar, keringat dingin, gangguan lambung, dan sulit tenang adalah keluaran biologis sistem alarm, bukan kepura-puraan. Kurang tidur, hilangnya nafsu makan, isolasi, dan depresi kemudian mengurangi kemampuan regulasi emosi sehingga terbentuk lingkaran dimana ancaman, gejala tubuh, tafsir memalukan, penghindaran, rasa kesepian dan ancaman menjadi makin kuat.

Mengembalikan hak atas diri, makna dan kehidupan

Bangkit tidak berarti melupakan, memaafkan secara paksa, atau segera melanjutkan pernikahan. Langkah pertama adalah keselamatan. Karena TH mengalami keputusasaan, menarik diri, insomnia terminal, anhedonia, harga diri rendah, dan pandangan masa depan yang suram, asesmen langsung terhadap pikiran bunuh diri, niat, rencana, akses terhadap sarana, serta faktor pelindung wajib dilakukan. Formulasi sementara dapat mempertimbangkan episode depresi mayor dengan ciri melankolik, kecemasan sosial, dan gangguan terkait trauma. Diagnosis akhir memerlukan wawancara klinis menyeluruh, termasuk penilaian PTSD kompleks, komorbiditas, serta kondisi medis.

Pemulihan dapat bergerak dalam tiga tahap yang lentur, mulai dari membangun keamanan dan stabilisasi, memproses memori serta makna trauma dan menyambung kembali relasi, karya, dan komunitas. Tidur, makan, aktivitas harian, latihan grounding, dan pengobatan depresi atau kecemasan bila terindikasi perlu berjalan bersama psikoterapi. Terapi pasangan dapat dipertimbangkan bila aman, dengan tujuan membangun komunikasi, batas terhadap pertanyaan yang melukai, kerahasiaan, dan keputusan yang bebas serta bukan memaksa pernikahan berlangsung atau dibatalkan.

Teori compassion membantu memindahkan TH dari ruang sidang batin menuju ruang perawatan. Sistem ancaman yang terlalu aktif membuat kritik diri terdengar seperti kebenaran. Compassion bukan mengasihani diri, melainkan keberanian melihat penderitaan dengan kehangatan, memahami penyebabnya, dan bertindak untuk menguranginya. Praktiknya dapat dimulai dengan mengganti mengatakan “Saya memalukan” menjadi “Saya mengalami eksploitasi ketika posisi saya tidak aman, dan tubuh saya sedang berusaha melindungi saya.” 

Kita menyadari bahwa masa lalu tidak dapat dihapus, tetapi sikap dan arah hidup tetap dapat dipilih. TH telah lama menunjukkan nilai kreatif melalui belajar dan mengajar, nilai pengalaman melalui cinta dan relasi, serta nilai sikap melalui kegigihan menghadapi kemiskinan. Kini makna bukan ditemukan dengan membenarkan pelecehan, melainkan dengan merebut kembali narasinya bahwa dari orang yang tercemar menjadi penyintas yang pernah dipaksa, tetap belajar, dan berhak mencintai serta dicintai. Dukungan teman terbukti memiliki hubungan dua arah dengan pemulihan gejala trauma, karena itu, satu atau dua orang aman yang mampu mendengar tanpa mengadili dapat menjadi intervensi komunitas yang sangat bermakna. 

Kepada TH saya ingin mengatakan bahwa yang terjadi dahulu adalah bagian dari biografi Anda, tetapi bukan seluruh identitas dan bukan vonis atas masa depan. Keberanian bukan ketiadaan takut, tetapi keberanian adalah melangkah sambil tubuh masih belajar bahwa hari ini berbeda dari masa lalu. Anda berhak menentukan kapan bercerita, kepada siapa, dan seberapa banyak. 

Anda juga berhak mencari pendamping rohani yang independen, aman, dan tidak memakai ajaran untuk menyalahkan atau memaksa pengampunan. Pada akhirnya, pulih bukan ketika ingatan hilang, melainkan ketika ingatan itu tidak lagi memegang kemudi kehidupan. Mungkin pertanyaan tentang keadilan Tuhan belum selesai. Namun, perjalanan pulih dapat dimulai dari kepastian yang lebih dekat. Ketidakadilan manusia tidak boleh dibiarkan menjadi identitas korban, dan kehidupan TH masih dapat dibangun kembali dengan kebenaran, compassion, relasi yang aman, serta makna yang dipilihnya sendiri. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/tim



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami