Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 13 Agustus 2026
Amerika Siapkan 'Senjata' Gempur Teknologi China
BERITABALI.COM, DUNIA.
Untuk mengalahkan China di bidang teknologi, Amerika Serikat (AS) menyiapkan 'senjata' atau sebuah aturan baru untuk memperkuat daya saing AS pada manufaktur semikonduktor domestik dan penelitian sains.
Presiden Joe Biden juga telah menandatangani Rancangan Undang-undang (RUU) bernama Chips and Science Act. Rencananya lewat aturan terbaru tersebut AS akan menggelontorkan miliaran dolar.
"Hari ini adalah hari untuk membangun. Hari ini Amerika berhasil," kata Biden saat upacara penandatangan, dikutip dari CNBC Internasional, Jumat (19/8/2022).
Peraturan tersebut akan mencakup lebih dari US$52 miliar (Rp 773,5 triliun) untuk perusahaan AS memproduksi chip komputer. Miliaran dolar lagi juga siap dikeluarkan untuk mendorong investasi pada manufaktur semikonduktor.
Penelitian dan pengembangan ilmiah juga akan dapat pendanaan senilai puluhan miliar dolar. Dengan begitu dapat memacu inovasi serta pengembangan teknologi lain.
Gedung Putih mengatakan perusahaan yang didorong RUU mengumumkan lebih dari US$44 miliar (Rp 654,5 triliun) dalam investasi manufaktur semikonduktor baru. Dari jumlah itu, US$40 miliar (RP 595 triliun) dari investasi Micron pada pembuatan chip memori.
Dengan inisiatif ini, Gedung Putih mengatakan akan menghasilkan 8.000 pekerjaan baru. Selain itu diharapkan dapat meningkatkan pangsa pasar AS mencapai 10% yang sebelumnya 2%.
Qualcomm dan Global Foundries juga telah mengumumkan kerja sama baru, kata pihak Gedung Putih. Salah satunya adalah produksi chip senilai US$4,2 miliar (Rp 62,4 triliun) untuk peluasan pabrikan Global Foundries di bagian utara New York.
Pasar AS memang tidak mendominasi di sektor chip dunia. AS hanya memproduksi 10% pasokan semikonduktor dunia. Asia Timur menguasai 75%, dan banyak raksasa semikonduktor memusatkan produksinya di sana.
Semikonduktor adalah bagian penting produk seperti elektronik, mobil, peralatan perawatan kesehatan dan sistem senjata. Sayang sektor ini jadi salah satu korban merebaknya Covid-19. Industri terganggu akibat chip yang langka dan kesulitan rantai pasokan.
Masalah ini juga yang membuat pejabat AS menyoroti ketergantungan negara tersebut pada produk luar negeri. Selain itu juga alasan ancaman keamanan nasional. (sumber:cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4504 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2316 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 1952 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1590 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1033 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun