Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 12 September 2026
Bali Dinilai Belum Layak Sandang Predikat Pulau Terbaik
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Predikat Pulau Terbaik di Asia 2025 yang baru saja disandang Bali menuai tanggapan kritis dari kalangan akademisi.
Guru Besar Pariwisata Universitas Udayana (Unud), Prof. Dr. I Putu Anom, M.Par., menilai Bali belum sepenuhnya siap menyandang predikat tersebut karena masih menghadapi berbagai persoalan mendasar, terutama tata ruang dan pengelolaan sampah.
“Bali sebenarnya belum siap menyandang predikat tersebut mengingat banyaknya permasalahan-permasalahan dihadapi Bali, terutama tata kelola Bali yang masih lemah karena banyaknya permasalahan terutama masalah kemacetan lalu lintas, masalah sampah, kerusakan lingkungan yang belum ada solusi yang baik sampai saat ini,” jelas Prof. Anom, Jumat (17/10/2025) di Badung.
Menurutnya, penghargaan ini justru harus dijadikan cambuk bagi Bali agar berbenah dan tidak mengecewakan wisatawan yang berkunjung di masa mendatang.
Selain masalah tata kelola dan sampah, Prof. Anom juga menyoroti kemacetan lalu lintas yang dinilai berpotensi merusak pengalaman wisatawan di Bali.
“Kemacetan lalu lintas yang mengecewakan wisatawan karena banyak waktu yang habis diperjalanan, berakibat berkurangnya daya tarik wisata yang dapat dikunjungi. Kemacetan lalu lintas tersebut harus ditindaklanjuti dengan rekayasa lalu lintas, ke depan dengan anggaran tersedia diharapkan dapat membangun underpass, shortcut, dan lain-lain. Demikian pula harus cepat diusahakan pembenahan tata kelola sampah dengan meniru daerah lain yang sudah berhasil dalam mengelola sampah,” paparnya.
Ia juga menegaskan pentingnya ketegasan pemerintah daerah dalam menegakkan aturan tata ruang dan menertibkan pelanggaran yang merusak wajah Bali sebagai destinasi wisata dunia.
“Pemerintah Bali bersama kabupaten, kota harus tegas memberikan sanksi terhadap pelanggaran tata ruang dan harus tegas menetapkan tata ruang, yang diikuti sejak awal. Di sektor pariwisata paling urgent tentu menertibkan usaha tidak berijin alias bodong yang beroperasi menimbulkan persaingan tidak sehat dan mengurangi PAD (Pendapatan Asli Daerah),” bebernya.
Lebih lanjut, Prof. Anom menekankan bahwa pencapaian predikat bergengsi ini perlu diimbangi dengan pembenahan nyata di lapangan agar tidak menjadi sekadar prestasi simbolik.
“Memberikan image yang positif, setidaknya dibarengi dengan pembenahan-pembenahan masalah-masalah yang krusial, sehingga diusahakan secara bertahap dapat ditanggulangi permasalahan-permasalahan krusial yang dihadapi Bali saat ini,” paparnya.
Ia menambahkan agar pemerintah dan pelaku industri pariwisata tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, melainkan juga menjaga keselamatan alam, manusia, dan budaya Bali sebagai fondasi keberlanjutan pariwisata Pulau Dewata.
“Pemerintah dan pelaku pariwisata harus konsisten menjaga dan memajukan Bali, tidak semata menguntungkan dari segi ekonomi tetapi harus mewujudkan keselamatan alam Bali, manusia dan Budaya Bali,” tandasnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3313 Kali
Anak-anak Bakar Tisu, Rumah di Banyuning Buleleng Ludes Terbakar
Dibaca: 782 Kali
Desil Warga Jehem Bangli Lompat dari 2 ke 7, Ini Masalahnya
Dibaca: 724 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan