Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 31 Oktober 2026
Buat Citra Negatif, Keberadaan Kafe di Delodberawah juga Tidak Menyumbang PAD
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Adanya kafe di Desa Delodberawah menjadi sorotan Pemkab Jembrana. Pasalnya selain membuat citra destinasi wisata terstigma negatif, juga tidak memberikan manfaat dari segi pendapatan atau PAD ke pemerintah daerah.
Satu-satunya yang memberi kontribusi hanya dari kolam renang air laut yang dikelola oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana.
Dari segi pengelolaan, semua kafe yang ada di Desa Delodberawah berada di bawah Desa Adat.
"Mengenai kafe di Delodberawah pengelolaannya di desa," kata Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Jembrana I Komang Wiasa belum lama ini.
Pendapatan dari Desa Delodberawah, selama ini dari kolam renang air laut. Sedangkan dari kafe atau tempat hiburan malam, memang belum ada retribusi atau pajak yang masuk menjadi PAD ke daerah.
"Kolam renang saja yang masuk," ujarnya.
Mengenai penjualan minuman beralkohol yang dijual di setiap tempat hiburan tersebut, pihak pemerintah kabupaten tidak berhak memungut pajak. Karena pajak mengenai minuman beralkohol itu merupakan kewenangan pusat.
Sementara itu, Perbekel Desa Delodberawah I Made Rentana mengatakan, mengenai pengelolaan kafe yang ada di desanya dikelola oleh Desa Adat. Sehingga tidak ada yang masuk ke desa dinas dalam bentuk retribusi pajak.
Bendesa Adat Delodberawah mengatakan, kafe tempat hiburan malam dikelola oleh desa adat. Setiap bulan pengelola kafe dipungut sebesar Rp 200 ribu. Pungutan desa adat tersebut, merupakan hasil dari keputusan desa adat dalam bentuk perarem.
Kafe di Delodberawah saat ini yang aktif sebanyak 12 kafe. Itupun, tidak semua membayar secara rutin, ada beberapa yang menunggak pembayaran.
"Kalau kafe banyak, tapi yang aktif hanya 12 kafe. Karena kondisi, banyak yang tidak buka," jelasnya.
Sedangkan jumlah kafe keseluruhan di wilayahnya sekitar 20 kafe. Karena situasi saat ini, banyak yang belum buka lagi. Selain dari kafe, perarem desa adat juga memungut ke penginapan dan kedai yang ada di wilayah Desa Adat Delodberawah.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 6020 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4692 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2664 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2351 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2244 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan