Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 26 Oktober 2026
Dampak Konflik Timur Tengah, Tiket Penerbangan ke Bali Berpotensi Naik
bbn/ilustrasi/dok beritabali/Dampak Konflik Timur Tengah, Tiket Penerbangan ke Bali Berpotensi Naik.
BERITABALI.COM, DUNIA.
Industri penerbangan global mulai merasakan dampak signifikan dari konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Gangguan wilayah udara memaksa maskapai internasional mengalihkan rute penerbangan, yang berimbas langsung pada waktu tempuh dan biaya operasional.
Sejumlah maskapai kini menghindari jalur udara di sekitar Iran dan wilayah sensitif lainnya demi alasan keamanan. Akibatnya, penerbangan harus menempuh jalur lebih panjang, meningkatkan konsumsi bahan bakar serta memperpanjang durasi perjalanan.
Mengutip Nation Thailand, Senin (23/3/2026), pembatasan ketat di sebagian besar wilayah udara Timur Tengah menyebabkan puluhan ribu penerbangan dibatalkan atau dialihkan sejak konflik memanas pada 28 Februari. Kondisi ini turut mengganggu jalur utama penerbangan Asia-Eropa dan berdampak pada sektor pariwisata, termasuk di Bali.
Baca juga:
Konflik Timur Tengah Ganggu Penerbangan, Imigrasi Denpasar Beri Izin Tinggal Darurat untuk WNA
Dampak gangguan ini kini mulai dirasakan langsung oleh penumpang. Laporan Reuters menyebutkan maskapai di kawasan Asia dan Eropa telah menyesuaikan tarif tiket, termasuk menambahkan biaya bahan bakar serta mengubah jadwal penerbangan.
Lonjakan harga bahan bakar jet dan rute yang lebih panjang menjadi faktor utama kenaikan biaya. Situasi ini berpotensi menekan minat perjalanan jarak jauh, terutama bagi wisatawan yang sensitif terhadap harga.
Sejumlah analis industri penerbangan menilai Bali menjadi salah satu destinasi yang paling berisiko terdampak jika kondisi ini berlanjut. Ketergantungan tinggi terhadap wisatawan Eropa membuat Bali rentan terhadap gangguan jalur penerbangan jarak jauh.
Baca juga:
Perang Timur Tengah: 5 Penerbangan di Bandara Ngurah Rai Cancel, Ribuan Penumpang Terdampak
Selain Bali, Thailand juga menghadapi tantangan serupa. Waktu tempuh yang lebih lama, keterbatasan kapasitas kursi, serta kenaikan harga tiket diprediksi akan memengaruhi jumlah kunjungan wisatawan, khususnya saat musim liburan.
Berbeda dengan Bali dan Thailand, Malaysia dinilai memiliki ketahanan lebih baik terhadap dampak langsung. Hal ini karena kontribusi wisatawan Eropa terhadap total kunjungan relatif kecil.
Meski demikian, pembatalan penerbangan tetap terjadi. CNA mencatat sedikitnya 200 penerbangan menuju Timur Tengah dari Bandara Internasional Kuala Lumpur telah dibatalkan sejak konflik berlangsung.
Namun, pasar wisata dari Asia Timur, India, dan Asia Tenggara dinilai mampu menutup potensi penurunan wisatawan dari Eropa. Program Visit Malaysia 2026 juga diperkirakan akan memperkuat sektor pariwisata negara tersebut.
Di balik tantangan, muncul peluang strategis bagi sejumlah negara di Asia. Bandara di kawasan seperti Thailand, Singapura, Hong Kong, dan Malaysia berpotensi menjadi titik transit alternatif yang lebih aman bagi penerbangan menuju Eropa.
Malaysia Airlines bahkan mulai meningkatkan kapasitas penerbangan ke sejumlah kota di Eropa, termasuk London dan Paris, guna mengantisipasi perubahan kebutuhan perjalanan selama masa gangguan. (sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5842 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4600 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2565 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2209 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2193 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan