Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 27 April 2026
Dampak Konflik Timur Tengah, Tiket Penerbangan ke Bali Berpotensi Naik
bbn/ilustrasi/dok beritabali/Dampak Konflik Timur Tengah, Tiket Penerbangan ke Bali Berpotensi Naik.
BERITABALI.COM, DUNIA.
Industri penerbangan global mulai merasakan dampak signifikan dari konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Gangguan wilayah udara memaksa maskapai internasional mengalihkan rute penerbangan, yang berimbas langsung pada waktu tempuh dan biaya operasional.
Sejumlah maskapai kini menghindari jalur udara di sekitar Iran dan wilayah sensitif lainnya demi alasan keamanan. Akibatnya, penerbangan harus menempuh jalur lebih panjang, meningkatkan konsumsi bahan bakar serta memperpanjang durasi perjalanan.
Mengutip Nation Thailand, Senin (23/3/2026), pembatasan ketat di sebagian besar wilayah udara Timur Tengah menyebabkan puluhan ribu penerbangan dibatalkan atau dialihkan sejak konflik memanas pada 28 Februari. Kondisi ini turut mengganggu jalur utama penerbangan Asia-Eropa dan berdampak pada sektor pariwisata, termasuk di Bali.
Baca juga:
Konflik Timur Tengah Ganggu Penerbangan, Imigrasi Denpasar Beri Izin Tinggal Darurat untuk WNA
Dampak gangguan ini kini mulai dirasakan langsung oleh penumpang. Laporan Reuters menyebutkan maskapai di kawasan Asia dan Eropa telah menyesuaikan tarif tiket, termasuk menambahkan biaya bahan bakar serta mengubah jadwal penerbangan.
Lonjakan harga bahan bakar jet dan rute yang lebih panjang menjadi faktor utama kenaikan biaya. Situasi ini berpotensi menekan minat perjalanan jarak jauh, terutama bagi wisatawan yang sensitif terhadap harga.
Sejumlah analis industri penerbangan menilai Bali menjadi salah satu destinasi yang paling berisiko terdampak jika kondisi ini berlanjut. Ketergantungan tinggi terhadap wisatawan Eropa membuat Bali rentan terhadap gangguan jalur penerbangan jarak jauh.
Baca juga:
Perang Timur Tengah: 5 Penerbangan di Bandara Ngurah Rai Cancel, Ribuan Penumpang Terdampak
Selain Bali, Thailand juga menghadapi tantangan serupa. Waktu tempuh yang lebih lama, keterbatasan kapasitas kursi, serta kenaikan harga tiket diprediksi akan memengaruhi jumlah kunjungan wisatawan, khususnya saat musim liburan.
Berbeda dengan Bali dan Thailand, Malaysia dinilai memiliki ketahanan lebih baik terhadap dampak langsung. Hal ini karena kontribusi wisatawan Eropa terhadap total kunjungan relatif kecil.
Meski demikian, pembatalan penerbangan tetap terjadi. CNA mencatat sedikitnya 200 penerbangan menuju Timur Tengah dari Bandara Internasional Kuala Lumpur telah dibatalkan sejak konflik berlangsung.
Namun, pasar wisata dari Asia Timur, India, dan Asia Tenggara dinilai mampu menutup potensi penurunan wisatawan dari Eropa. Program Visit Malaysia 2026 juga diperkirakan akan memperkuat sektor pariwisata negara tersebut.
Di balik tantangan, muncul peluang strategis bagi sejumlah negara di Asia. Bandara di kawasan seperti Thailand, Singapura, Hong Kong, dan Malaysia berpotensi menjadi titik transit alternatif yang lebih aman bagi penerbangan menuju Eropa.
Malaysia Airlines bahkan mulai meningkatkan kapasitas penerbangan ke sejumlah kota di Eropa, termasuk London dan Paris, guna mengantisipasi perubahan kebutuhan perjalanan selama masa gangguan. (sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3734 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1675 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang