Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 Juli 2026
Gunakan LCT Angkut Pemudik Lebaran ke Jawa
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Meski mudik lebaran masih dua bulan lagi. Syahbandar Gilimanuk, Gede Putrawan sudah bersurat kepada Dirjen Perhubungan Laut (HUBLA) terkait dengan akan digunakannya kapal Landing Craft Tank (LCT) untuk mengangkut pemudik ke Jawa. Ijin ini diperlukan karena kapal LCT tak boleh digunakan untuk angkut penumpang pada hari-hari biasa.
"Kalau tak ditunjang dengan kapal LCT untuk mengangkut penumpang, kita di Gilimanuk yang akan kerepotan. Antrian bisa panjang sampai puluhan kilometer. Kalau tak diizinkan kita tidak akan gunakan LCT untuk angkut kendaraan," ujar Putrawan.
Kapal LCT yang disiagakan untuk angkutan lebaran, biasanya bisa menampung 600 unit kendaraan bermotor. Sayangnya kapal LCT tak dilengkapi dengan standar safety yang memadai. "LCT tak dilengkapi dengan pelampung. Karena biasanya hanya digunakan untuk angkutan kendaraan barang saja," tandasnya.
Menurut Putrawan, jika cuaca buruk, pihaknya tak akan menggunakan kapal LCT sebagai kapal angkutan lebaran. Sebab, akan berisiko bagi penumpang yang menggunakan jasa pelabuhan Gilimanuk. "Kalau gelombang laut lebih dari dua meter LCT tak akan digunakan sebagai kapal angkutan lebaran," imbuhnya.
Reporter: bbn/eps
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3874 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2044 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2007 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1919 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1781 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun