Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Jokowi, Politik Angsa Hitam, dan KPK yang Kelam
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Presiden Jokowi didesak publik untuk menyelamatkan KPK. Hanya mereka yang pander yang bilang tidak ada kriminalisasi KPK. Masyarakat melihat KPK bakal hancur atau lumpuh layu kalau tidak diselamatkan oleh Presiden.
Bagaimanapun, kehadiran Jokowi merupakan fenomena langka, dan dia dianggap sebagai ''black swan'' (angsa hitam) dalam blantika politik Indonesia yang kelam. Sehingga peran Jokowi untuk menyelamatkan KPK sangat diharapkan publik. Maukah?
Jokowi harus sadar bahwa fenomena dirinya dalam perspektif politik elektoral bisa dikategorikan sebagai ''black swan''. Dan fenomena black swan (angsa hitam) dalam perspektif ilmu sosial adalah fenomena kelangkaan atau mendekati kemustahilan untuk hadir.
Angsa hitam adalah fenomena yang sangat langka, dimana dengan probabilitas yang kecil, tapi ketika muncul berdampak spektakuler, seraya mendorong semua pihak memberi tafsiran baru bagi fenomena tersebut.
Kini tafsiran itu beragam, dalam arti interpretasi publik atas peran dan langkah Jokowi dalam konteks penyelamatan KPK menimbulkan multi interpretasi dan tanda tanya.
Dalam kaitan ini, Istana Jokowi tentu tahu bahwa KPK sudah berada dalam sasaran tembak. Sebab, KPK telah begitu banyak menjerat penyelenggara negara (eksekutif, legislatif, dan yudikatif, termasuk penegak hukum) yang korup.
Jokowi juga tahu negeri ini seperti mengalami pembusukan akut. Aparat kotor seringkali tak ditangkap, bahkan mampu membangun jejaring rekan sejenis.
Jokowi juga tahu bahwa KPK dibentuk karena Polri dan Kejagung tidak mampu menuntaskan korupsi. Seharusnya mereka berterima kasih kepada KPK karena KPK-lah yang mengerjakan tugas-tugas yang gagal diemban Polri dan Kejagung.
Dalam hal ini, fenomena black swan (angsa hitam) Jokowi itu, ungkap peneliti ekonomi-politik Andi Irawan, menjadi kehilangan relevansinya kalau ternyata kehadirannya sebagai RI-1 tidak bisa berkontribusi besar menghadirkan black swan (kemustahilan) yang sangat dibutuhkan negara bangsa kita dewasa ini, yakni negara yang bersih dari korupsi. Jokowi tengah diuji, imbuh Ray Rangkuti, aktivis antikorupsi.
Dalam upaya membasmi korupsi itu, Jokowi tidak sendirian dan pertemuannya dengan Prabowo Subianto dan BJ Habibie, tim independen, dan tentunya arus besar rakyat kita, menunjukkan Presiden tidaklah sendirian.
Kini, KPK di ujung tanduk. Serangan balik pada KPK pun sangat kuat, dan nyaris tak terbantahkan. Dalam politik, seperti halnya dalam laga bola, serangan balik bisa sangat mematikan. Sebab, kekuatan total dikonsentrasikan dalam serangan balik itu. Rezim Jokowi musti menyadari hal ini.
Rakyat mendesak ada tindakan cepat dan tegas dari Presiden Joko Widodo dan itu sangat dinanti. Di antara konflik dan serangan balik ini, Presiden Jokowi tak boleh lengah dan mengalah. Presiden harus hadir dan kuat serta menunjukkan kedigdayaannya. Nah, sejarah akan mencatat apakah Presiden Jokowi itu digdaya, menjadi penyelamat KPK ataukah malah jadi pecundang dan penghancur KPK?
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5943 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4656 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2629 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2283 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2222 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan