Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 31 Oktober 2026
Mengapa Menguap Itu Bisa Menular?
Rabu, 6 September 2017,
06:05 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DUNIA.
Beritabali.com, London. Anda mungkin ikut menguap hanya dengan membaca tulisan ini karena menguap itu menular. Saat ini, para peneliti mempelajari apa yang terjadi di otak kita yang memicu respons itu.
Mengutip BBC, sebuah tim peneliti dari University of Nottingham, Inggris, menemukan respons itu terjadi di bagian otak yang mengatur fungsi motorik.
[pilihan-redaksi]
Korteks motor utama juga berperan dalam beberapa kondisi seperti sindrom Tourette.
Para peneliti mengatakan bahwa dengan memahami mengapa menguap menular, publik dapat memahami gangguan-gangguan tersebut.
Menguap yang menular adalah bentuk umum dari echophenomena --meniru secara otomatis kata-kata atau tindakan orang lain.
Echophenomena juga terdapat pada sindrom Tourette, dan juga kondisi lain, termasuk epilepsi dan autisme.
Untuk menguji apa yang terjadi di otak selama fenomena tersebut, para peneliti memonitor 36 sukarelawan saat mereka menyaksikan yang lain menguap.
Dalam penelitian yang telah dipublikasikan di jurnal ilmiah ini, sebagian diberi tahu bahwa tidak masalah untuk menguap sedang yang lainnya diberi tahu untuk menahan dorongan itu.
Dorongan untuk menguap tergantung bagaimana korteks motor utama setiap orang bekerja --bagaimana itu 'dapat dirangsang'.
Dan, menggunakan stimulasi magnetik transkanial (transcranial magnetic stimulation/TMS) eksternal, memungkinkan untuk meningkatkan 'rangsangan' di korteks motor dan dengan demikian kecenderungan orang menularkan menguap.
Prof Georgina Jackson, pakar neuropsikologi kognitif yang meneliti hal ini, mengatakan bahwa temuan ini dapat digunakan lebih luas.
"Pada Tourette, jika kita dapat mengurangi rangsangannya maka kita mungkin dapat mengurangi sindromnya, dan itu yang sedang kami kerjakan," katanya.
Sementara, Prof Stephen Jackson, yang juga ikut meneliti, menambahkan: "Jika kita dapat mengerti bagaimana perubahan di rangsangan kortikal meningkatkan gangguan saraf maka kita berpotensi membaliknya."
"Kami sedang mencari potensi di luar obat-obatan, perawatan yang dirancang bagi setiap individu, menggunakan TMS yang mungkin efektif dalam memodulasi ketidakseimbangan di jaringan otak," imbuhnya.
Dr Andrew Gallup, seorang psikolog di State University of New York at Albany, yang sudah meneliti hubungan antara empati dengan menguap, mengatakan bahwa menggunakan TMS adalah 'pendekatan baru' di penelitian menguap yang menular.
Dia menambahkan, "Kita masih mengetahui relatif sedikit tentang mengapa kita menguap. Berbagai penelitian telah menyatakan hubungan antara menguap yang menular dan empati, namun penelitian yang mendukung hubungan ini bercampur dan tidak konsisten."
"Temuan baru-baru ini menyediakan bukti lanjutan bahwa penularan kuap mungkin tidak berhubungan dengan pengolahan empati," jelasnya. [bbn/idc/wrt]
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 6039 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4707 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2672 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2365 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2253 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026