Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 31 Oktober 2026
Nyoman Ritug dan Kualitas Patung Bali
Guwang
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Nyoman Ritug (82) merupakan salah satu seniman tua Bali, yang masih aktif berkarya hingga kini. Di usia yang sudah uzur ini, Ritug masih aktif mengukir dan menghasilkan ratusan bahkan ribuan karya patung berkualitas tinggi.
Ketika ditemui di rumah sekaligus "bengkel kerja"nya di Br. Sakih, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Nyoman Ritug tampak sedang mengukir sebuah patung tokoh pewayangan berukuran kecil, sekitar 15 centimeter.
Di usianya yang sudah tua ini, Ritug terus mengekpresikan jiwa seninya, meski patung yang dibuat kini sebagian besar berukuran kecil hingga sedang.
"Sejak umur 8 tahun saya sudah ke Karangasem untuk ngukir. Waktu itu masih dijajah Belanda. Awalnya saya mengukir batu padas, lalu dijual ke Denpasar,""kata Ritug membuka pembicaraan.
Ritug belajar ilmu ukir patung pada ayahnya, almarhum Nyoman Selag, yang juga seorang seniman ukir patung. Selain diajarkan ilmu ukir, Ritug kecil juga diajarkan ilmu berdagang oleh ayah serta ibunya almarhum Ni Nyoman Camplung.
"Waktu itu sekitar tahun 1930-an, saya sudah biasa menjual patung hasil karya ayah saya dan juga hasil karya saya ke daerah Sanur dan Denpasar. Waktu itu harga satu patung yang dijual ke turis sekitar 3 suku, saya yang ngukir patung dapat upah 3 talen. 1 patung ukuran tinggi 70 centimeter saya selesaikan selama 3 hari," tutur Ritug.
Dari bahan batu padas, Ritug kemudian pindah ke bahan kayu seperti kayu bentawas dan kayu bengkel. Ritug kemudian semakin produktif membuat patung. Patung yang dibuat antara lain patung berbentuk buaya, tokoh wayang, dan berbagai jenis patung lainnya.
Bersama ayah dan juga ibunya, Ritug kecil juga semakin sering diajak ke Kota Denpasar, untuk menjual hasil karya patungnya.
"Waktu itu berangkat pagi-pagi dari rumah (di Desa Guwang Gianyar), jalan kaki ke Denpasar. Jauh sekali. Saya yang masih kecil jalan kaki sampai capek sekali. Di Pengrebongan (daerah Kesiman Denpasar) kami berhenti untuk istirahat, beli tipat cantok (ketupat sayur bumbu kacang) seharga 10 kepeng. Setelah makan dan minum, baru meneruskan perjalanan," kenang pria peraih penghargaan tertinggi di bidang seni dari Gubernur Bali ini.
Menjual patung jaman itu, kata Ritug, tak semudah saat ini, meski patung yang dijual rata-rata berkualitas tinggi, baik dari segi bahan maupun proses pembuatannya,
"Waktu itu belum ada hotel-hotel maupun toko yang khusus menjual patung untuk turis. Dulu patung yang kami bawa ke Badung (sebutan untuk Kota Denpasar kini) dibawa ke beberapa penjual patung seperti Toko Ratih, Toko Karangasem, Men Rineh, dan Rapig. Sekali ke Badung, saya dan orangtua saya biasa membawa 5 patung,"jelas pria yang pada tahun 1963 mengerjakan pesanan pintu berukir dari Hotel Indonesia.
Kini, di usianya yang sudah tua, Ritug masih aktif berkarya, meski bahan kayu sebagai bahan dasar pembuatan patung sudah semakin susah dicari. Di usia tuanya, Ritug juga menyampaikan keprihatinannya terhadap kualitas patung Bali saat ini.
"Sekarang susah cari kayu bagus untuk patung, di Bali sudah jarang. Cari kayu Eben susah, mungkin sudah habis kayu itu, saya ndak tahu. Patung yang dibuat sekarang juga kurang memperhatikan kualitas, yang penting cepat laku untuk bisa beli beras. Kalo dulu ndak bisa begitu, kalau belum selesai belajar bikin patung, belum bisa dapat uang," kata pria yang tidak pernah fanatik pada satu jenis tema patung ini.
Untuk satu karya patungnya, Ritug mampu menyelesaikannya mulai 3 hari hinga satu minggu. Namun ada juga patung yang baru bisa diselesaikannya dalam waktu 4 tahun, yakni sebuah patung Dewi Saraswati dari kayu Eben, setinggi 2,7 meter.
"Semasih saya hidup, semasih saya bisa melihat, seni patung ini akan saya terus tekuni. Pesan saya, supaya ada generasi muda yang meneruskan seni ukir patung ini," pungkas Ritug. (bob)
Reporter: bbn/rob
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 6022 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4692 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2664 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2351 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2244 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan