Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 31 Oktober 2026
Pameran Tunggal 'Suklu' di Gaya Fusion Art Space
Sayan
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Seniman I Wayan Sujana "Suklu" akan menggelar sejumlah karya seni rupa di Gaya Fusion Art Space, Sayan, Ubud, bertajuk Reading Objects. Pameran akan dibuka dengan happening art "Ritus Bambu", Sabtu 26 Juli pukul 18.30 wita. Pameran berlangsung hingga 26 Agustus 2008.
Suklu menyajikan karya mutakhir yang digarap melalui kontemplasi panjang dengan idiom agraris yang akrab dengan masyarakat kita. Karya instalasi Daun Melantun, misalnya menggunakan bahan bambu, atau Musim Kering yakni kerinduan akan daun-daun menghijau dan Merobek Menembus yang disajikan dalam karya bermaterikan metal.
Selain itu, ada karya dengan media kertas berjudul Jeda di Beijing yang dikerjakan saat mengikuti Beijing International Art Biennale, China, awal Juli lalu. Dalam karya ini Suklu merespons interaksi psikologis ketika dia mendatangi tempat-tempat baru seperti yang dilakukan di Venezia, Bangladesh atau Nepal beberapa waktu lalu.
Karya yang lain adalah Gerak Menjauh yang mengambil objek kacang tanah dari bahan metal dan fiberglass. Suklu yang juga dosen seni rupa ISI Denpasar ini seolah ingin mengingatkan perlunya jati diri. Kiasan ini bisa jadi berlaku bagi kondisi sekarang, misalnya banyak politisi yang melupakan konstituen setelah berkuasa, atau masyarakat mapan yang melupakan akar muasalnya.
Suklu yang terpilih menjadi peserta Art Olimpic 2008 dalam side event Olimpiade Beijing September mendatang itu selalu mementingkan konten dan konteks dalam karya-karyanya.
"Saya melihat bagaiamana penggerusan tata nilai yang terjadi di Bali akibat tidak adanya keseimbangan akibat industri pariwisata dan penegakan aturan tata ruang, yang menjadi perenungan kita bersama," kata Suklu di tengah persiapan pameran, Jumat (25/7).
Kritikus seni rupa Jean Couteau menilai melalui lambang-lambang tersebut Suklu menegaskan apa yang disiratkan oleh pepatah Indonesia sebagai "kacang lupa akan kulitnya". Ini menggugah kita bahwa masyarakat Bali sekarang ini telah lupa pada akar kulturnya untuk jatuh dalam cengkeraman kapitalisme global berikut akibat paradoksalnya.
'Pepatah ini, yang dengan sadar disikapi Suklu, jelaslah merupakan konsep dasar dari pameran ini," cetus Jean. Lebih jauh dari itu, di tengah dinamika global dan lokal saat ini, Suklu menyadari benar pentingnya memiliki suatu sikap kritis yang bertitik pijak pada kultur lokal demi menghindari alienasi.
Pada pameran ini kita dapat melacak kecenderungan Suklu untuk menimbang identitas ke-Bali-annya. Identitas itu tercermin dari pola stilistik dasar repetitif seri karya abstrak "geometris" yang memang menjadi bagian dari pekerjaan kreatifnya sejak beberapa tahun ini. Salah satu ciri yang paling menonjol dari estetika Bali, baik dalam musik, tarian maupun tentu saja di seni rupa, ialah pengulangan atau semi-pengulangan dari patron-patron "jadi" yang dikombinasikan satu sama lain secara "musikal", dengan irama sebagai benang merah keutuhannya.
Apa yang dicapainya secara visual ini ialah suatu keberhasilan mengangkat struktur dasar dari sistem rupa Bali . Akan tetapi, tidak berhenti sampai disitu saja, pencapaian ini terbukti mencerminkan pula kemampuan Suklu dalam mentransformasi unsur fundamen lokal menjadi bagian dari bahasa ucap global, sesuatu yang tidak mudah dicapai, terlebih lagi mengingat kecenderungan seniman kini untuk menelan begitu saja, baik bentuk maupun isi (ikon), dari apa yang diandaikan sebagai global. (Ayu/*)
Reporter: bbn/rob
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 6013 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4692 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2664 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2343 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2243 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan