Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 30 Oktober 2026
Petugas Kembali Temukan Jerat, TNBB Terus Perketat Patroli Hutan
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Dalam kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB), patroli hutan terus diperkuat setelah ditemukan rusa timor mati akibat jeratan.
Pada Senin, 9 Oktober 2023, petugas pengelola berhasil menemukan satu jerat hewan yang diduga dipasang oleh pelaku perburuan liar. Lokasi temuan jerat berdekatan dengan jalur sumber air satwa di hutan Sumbersari, Kecamatan Melaya, meski masih jauh dari tempat ditemukannya rusa timor sebelumnya.
Meskipun jeratan telah ditemukan, terduga pelaku perburuan liar yang menyebabkan rusa timor mengalami luka dan kemudian mati masih belum tertangkap. Mereka tampaknya masih leluasa bergerak, meski tindakan mereka menyebabkan kematian satwa di TNBB.
"Pasca penemuan rusa timor di Sumbersari pekan lalu, kami terus memperketat patroli hutan dengan harapan dapat menemukan jerat dan mengungkap pelakunya," ungkap Ali Purwanto, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Jembrana, saat dihubungi pada Rabu, 11 Oktober 2023.
Ali Purwanto menjelaskan bahwa patroli difokuskan pada jalur menuju sumber air di TNBB, terutama dalam kondisi musim kemarau seperti sekarang. Hewan-hewan di taman nasional ini cenderung mencari air untuk minum. Akhirnya, bersama petugas patroli lainnya, mereka berhasil menemukan satu jerat di wilayah Sumbersari, Kecamatan Melaya, yang berada di dalam kawasan hutan TNBB.
"Lokasi ini cukup jauh dari lokasi ditemukannya rusa timor sebelumnya. Jerat ini lebih dekat ke pantai Selat Bali," tambahnya.
Mengenai jeratan yang sebelumnya mengenai rusa timor, Ali menyatakan kemungkinan tidak serupa. Jerat yang ditemukan ini didesain untuk menangkap satwa biawak atau ayam hutan.
Terlebih lagi, jeratan sebelumnya menggunakan tali sling yang mengikat kaki rusa, namun akhirnya putus. Hal ini mengingat tenaga rusa yang begitu kuat.
"Kemungkinan besar bukan untuk rusa. Model jerat ini lebih ditujukan untuk satwa biawak, ayam hutan, dan hewan kecil lainnya. Kalau untuk rusa, biasanya kurang efektif," terangnya.
Dengan temuan ini, Ali menyatakan bahwa pihaknya akan terus memperketat patroli hutan secara rutin. Apalagi sekarang mereka mendapat dukungan dari Jaringan Satwa Indonesia (JSI) dengan melibatkan anjing pelacak dalam kegiatan patroli. Harapannya, jeratan satwa dapat ditemukan dan di masa depan, tidak akan ada lagi satwa yang terperangkap jeratan.
"Selama ini, jeratan yang kami temukan biasanya mengenai berbagai jenis satwa, mulai dari burung, ayam hutan, biawak, bahkan rusa. Kami berharap dengan patroli rutin ini, para pemburu liar tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk beraksi," harapnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/jbr
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5990 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4674 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2653 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2313 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2234 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan