Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 31 Oktober 2026
Puluhan Ular Piton Muncul di Danau Buyan, Diduga Akibat Habitat Terganggu
BERITABALI.COM, BULELENG.
Populasi ular piton atau reticulatus phyton di Bali terbilang cukup banyak dan tersebar merata di berbagai daerah. Meski demikian, hewan melata ini tergolong penakut dan cenderung bersembunyi.
Diduga, maraknya kemunculan ular piton di kawasan Danau Buyan, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng, disebabkan karena habitatnya mulai terganggu atau memasuki musim kawin.
Hal tersebut disampaikan Partisipan Komunitas Reptile Bali, Nanda saat dihubungi BeritaBali.com pada Selasa (8/7).
Nanda menyebut, melihat jumlah piton yang ditemukan warga mencapai 28 ekor, sangat tidak mungkin apabila hal ini disebabkan karena pelepasliaran oleh oknum. Mengingat jumlahnya cukup banyak.
Untuk itu, ia menduga kawasan Danau Buyan memang menjadi habitat alami ular piton. Ular-ular tersebut mulai banyak terlihat karena salah satunya disebabkan habitat yang terganggu, sehingga mereka keluar untuk mencari tempat persembunyian yang lebih aman.
"Ular ini memang hewan penjelajah, tetapi sesungguhnya mereka ini adalah hewan penakut. Mereka tidak akan pernah memunculkan diri. Cenderung bersembunyi. Ketika ada hal yang membuat mereka tidak nyaman, atau situasinya mulai ramai, mereka akan keluar dan mencari tempat sembunyi yang lain. Mereka juga tidak menetap di satu tempat dalam jangka waktu yang lama," terangnya.
Selain karena habitat terganggu, pertengahan tahun ini menurut Nanda, merupakan musim kawin bagi ular piton. Hewan ini akan bertelur setahun sekali dengan jumlah mencapai 30 hingga 40 butir, tergantung ukurannya.
Nanda pun mengimbau pemerintah dan masyarakat di sekitar Danau Buyan untuk tidak membunuh ular piton yang ditemukan, selama tidak membahayakan warga atau hewan ternak. Ia menyarankan agar ular-ular tersebut lebih baik dievakuasi ke tempat yang lebih aman dan jauh dari permukiman.
Warga dapat meminta bantuan proses evakuasi kepada BKSDA Bali, Damkar, atau komunitas reptil setempat. "Lebih baik ditangkap, tapi tidak dibunuh, lalu dipindahkan ke alam yang tempat yang lebih aman," tandasnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rat
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 6022 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4696 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2664 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2352 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2244 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan