Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 13 Agustus 2026
Rusia Ultimatum AS Cs Tahan Diri Demi Cegah 'Perang Nuklir'
BERITABALI.COM, DUNIA.
Rusia mewanti-wanti Amerika Serikat dan sekutu, termasuk Ukraina, menahan diri soal potensi perang senjata nuklir.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyerukan negara Barat agar benar-benar menahan diri mengenai prediksi dan pembahasan "isu yang sangat sensitif" ini.
"Untuk meminimalisir risiko nuklir, penting dalam praktiknya untuk tetap berkomitmen pada dalil tidak dapat diterimanya perang nuklir, yang disepakati negara-negara yang meneken lima pernyataan bersama soal nuklir pada 3 Januari 2022 lalu," kata Lavrov kepada kantor berita Rusia, TASS, pada Selasa (27/12).
"Sesuai dengan logika yang ditetapkan dalam dokumen, setiap konfrontasi militer antara kekuatan nuklir harus dicegah, karena penuh dengan malapetaka," paparnya lagi.
Lavrov menuturkan Rusia mendukung pembentukan arsitektur keamanan internasional yang diperbarui dan lebih stabil berdasarkan kepastian dan stabilitas strategis global, serta mengamati prinsip-prinsip kesetaraan. Hal itu diutarakan Lavrov setelah Ukraina diduga mengirim sejumlah drone mendekati pangkalan militer Rusia di Saratov yang berjarak ratusan kilometer dari perbatasan.
Kementerian Pertahanan Rusia memaparkan drone itu terbang di dekat pangkalan udara Engels, rumah bagi sebagian jet pengebom strategis jarak jauh yang dipakai Moskow untuk menyerang Ukraina selama invasi berlangsung. Meski begitu, Lavrov tidak menanggapi soal insiden itu.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengangkat isu soal peluang negosiasi antara Rusia dan setiap pihak yang berkaitan dengan perang di Ukraina, termasuk AS. Lavrov mengatakan gagasan penting dari Washington mengenai kontak diplomatik penuh antara Rusia dan AS belum bisa diterima.
"Sekarang sulit untuk mengatakan sesuatu tentang pelaksanaan komunikasi bilateral penuh melalui kementerian luar negeri," katanya.
"Tidak ada ide signifikan dari Amerika tentang masalah ini. Kami di berbagai tingkatan, termasuk yang tertinggi, telah berulang kali menekankan bahwa kami tidak menghindar dari dialog yang konstruktif," ujarnya lagi.
Pernyataan Lavrov itu muncul setelah Presiden Vladimir Putin untuk pertama kalinya memaparkan Rusia siap berdialog mengakhiri perang di Ukraina. Ia malah menyalahkan Ukraina dan Barat yang menutup diri untuk bernegosiasi dengan Rusia.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4502 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2313 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 1938 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1588 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1031 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun