Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 10 Agustus 2026
Tradisi Gebug Ende di Desa Adat Seraya Diyakini Mampu Turunkan Hujan
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Warga Desa Adat Seraya, Karangasem kembali melaksanakan tradisi Gebug Ende Sakral yang rutin digelar sekali dalam setahun usai aci penyineban Usaba Kaja atau Usaba Kapat di Pura Puseh dan Bale Agung yang jatuh pada Selasa (3/10/2023).
Dalam gelaran kali ini, seperti biasa peserta gebug ende terdiri dari dua orang pria dewasa. Bersenjatakan rotan berikut tameng (ende). Keduanya kemudian saling serang di bawah komando seorang "saye" atau wasit. Uniknya di sela - sela pertarungan peserta biasanya melakukan aksi tarian - tarian khas Gebug Ende untuk mengecoh lawannya.
Kelian Desa Adat Seraya, I Made Salin menuturkan, berdasarkan kepercayaan yang telah diwariskan secara turun temurun, tradisi gebug ende ini berkaitan dengan ritual untuk memohon hujan turun setelah dilanda kemarau panjang.
"Kepercayaan kami disini tradisi Gebug Ende ini juga diyakini mampu mengundang hujan. Setiap gelaran tradisi Gebug Ende akan dilaksanakan selama 3 hari, dimana setiap pelaksanaannya minimal ada 3 kali Gebug Ende, nah setelah ini kami tinggal menunggu turunnya hujan," kata Salin.
Seperti yang diketahui, kondisi wilayah Desa Adat Seraya berada di dekat garis pantai dengan lahan cenderung didominasi perbukitan dan sungai. Secara geografis Desa Seraya berada diketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut yang mebuatnya cukup sulit untuk bisa turun hujan.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/krs
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4466 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2255 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1566 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1014 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 949 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun