Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 26 Oktober 2026
Warga Lokal Terpinggirkan, Isu Geopolitik di Bali Mengemuka
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Isu geopolitik di Bali kian mengemuka di tengah derasnya arus wisatawan dan warga negara asing (WNA) yang dinilai mulai mengubah wajah Pulau Dewata.
Fenomena warga lokal yang merasa menjadi “asing” di tanah sendiri hingga maraknya penguasaan lahan oleh asing kini tidak hanya menjadi perbincangan publik, tetapi juga dikaji secara akademik di tingkat nasional.
Isu sensitif tersebut diangkat oleh tiga mahasiswa Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), yakni Zulfiqar Syauqi, Josephine Alexandra Tandean, dan Desak Nyoman Savitri Indiraswari. Ketiganya sukses meraih juara 1 dalam ajang Indonesia Foreign Policy Review (IFPR) yang diselenggarakan Universitas Indonesia (UI), Senin (19/1/2026).
Prestasi tersebut diraih setelah tim UNAIR mengungguli ratusan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dengan gagasan kritis mengenai dinamika geopolitik pariwisata di Bali.
“Saya dan tim datang tanpa ekspektasi apapun, kemenangan ini menjadi suatu momen luar biasa bagi kami. Kami bangga sekaligus tidak berekspektasi bisa sampai di tahap ini. Melawan peserta dari berbagai kampus di Indonesia dengan berbagai gagasan yang luar biasa menjadi salah satu tantangan bagi kami,” ungkapnya.
Zulfiqar menjelaskan, riset yang mereka ajukan berangkat dari realitas Bali sebagai destinasi wisata global yang sangat bergantung pada kehadiran turis dan investor asing. Ketergantungan tersebut, menurutnya, memicu persoalan baru terkait kepemilikan tanah dan ruang hidup masyarakat lokal.
“Kami menyoroti semakin banyak tanah di Bali yang WNA kuasai akibat adanya praktik Nominee agreement (pinjam nama) dan sewa jangka panjang. Perebutan ruang hidup tidak hanya oleh aktor negara saja, tapi masyarakat grassroots juga merasakan. Geopolitik bukan cuma ada di panggung negara tapi juga ada di masyarakat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, adanya celah hukum dalam regulasi kepemilikan hunian bagi orang asing menjadi faktor penting yang mendorong maraknya praktik manipulasi hukum. Kondisi ini membuka ruang bagi WNA untuk menguasai lahan di Bali dengan berbagai skema.
“Dalam hal ini muncul segregasi sosial yang membuat warga lokal merasa asing untuk memasuki wilayah tertentu seperti Ubud dan Canggu yang banyak dikuasai asing. Akhirnya, transformasi ini mempertegas pergeseran geopolitik pariwisata di Bali dari ‘Tourism for Bali” menjadi “Bali for Tourism’,” jelasnya.
Meski mengangkat isu kompleks dan sensitif, Zulfiqar menyebut proses kompetisi berjalan relatif lancar. Tantangan utama justru datang dari pengaturan waktu di tengah kesibukan masing-masing anggota tim serta proses wawancara dengan 10 narasumber asal Bali yang menjadi basis riset mereka.
“Kedepannya paper ilmiah yang kami lombakan ini akan publikasi dalam jurnal ilmiah. Sehingga bukan hanya memenangkan kompetisi, namun juga menambah publikasi ilmiah kami. Semoga hasil riset ini dapat memberikan manfaat dan perspektif baru dalam pengambilan kebijakan terhadap kepemilikan tanah oleh WNA di Bali,” pungkasnya. (sumber: unair.ac.id)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5880 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4617 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2583 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2228 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2206 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan