Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 14 Agustus 2026
Xi Jinping Belajar dari Keruntuhan Soviet: Militer Harus Loyal
BERITABALI.COM, DUNIA.
Presiden China, Xi Jinping, belajar satu hal besar dari keruntuhan Uni Soviet. Pelajaran mahal itu adalah loyalitas kekuatan militer dalam pemerintahan komunis.
Ini terungkap dalam dokumenter yang disiarkan media pemerintah China CCTV dengan judul 'Pursuit of Light.' Dokumenter ini terinspirasi dari salah satu prinsip Xi Jinping, yakni "negara yang kuat harus memiliki militer yang kuat."
Dokumenter ini juga mengangkat keinginan Xi untuk mengembalikan "semangat pasukan merah" di militer China di tengah perubahan kondisi geopolitik.
Xi diketahui mencoba menggabungkan Partai Komunis China (PKC) ke militer menggunakan filosofi "partai mengontrol senjata."
Seorang pengamat dalam dokumenter tersebut menilai kegagalan Uni Soviet menerapkan edukasi politik di dalam militernya menyebabkan keruntuhan negara itu.
"Sistem komando dari atas ke bawah dan terpadu adalah keharusan militer. Keputusan Partai Komunis Soviet untuk menghapus edukasi politik merupakan salah satu faktor kunci yang berujung pada keruntuhannya," kata pengamat militer Akademi Sains Militer (AMS) China, Jiang Tiejun, dikutip dari South China Morning Post.
"Pelajaran dari runtuhnya rezim Soviet dan partainya memperingatkan kami bahwa kepemimpinan mutlak partai terhadap militer merupakan isu fundamental, yang seharusnya diperkuat, bukan dilonggarkan," lanjutnya.
Sementara itu, pengamat politik yang berbasis di Chile Chen Daoyin berpendapat bahwa penting bagi partai komunis untuk menguasai militer suatu negara.
"Pelajaran yang diambil dari runtuhnya Uni Soviet adalah gerakannya untuk mengubah militer Soviet menjadi militer nasional, bukan militer partai," tutur Chen.
Xi 'Gaungkan' Kesetiaan Militer
Sementara itu, sejak Xi menjabat pada 2012, ia berkali-kali menegaskan kepada militer China untuk pentingnya "waspada" dan "setia."
Namun, profesor ilmu politik di Universitas Shanghai, Ni Lexiong, menilai apapun yang dilakukan Xi dan PKC menunjukkan militer China masih kekurangan kesetiaan.
Baca juga:
Dua Perempuan Tewas Jadi Tumbal Pesugihan
"Semua yang ditegaskan dan dipromosikan partai menunjukkan itu [militer] masih kekurangan [kesetiaan], mengingat partai menghadapi tekanan yang semakin meningkat dari masalah domestik yang muncul akibat pandemi dan tantangan global imbas perang di Ukraina," kata Ni.
"Desakan Xi untuk kesetiaan Tentara Pembebasan China [PLA] menunjukkan bahwa militer masih perlu meningkatkan moralitas mereka, yang terpengaruh akibat kampanye anti-korupsi Xi di militer dalam beberapa tahun terakhir," lanjutnya.
Kampanye tersebut menyingkirkan ratusan jenderal PLA, termasuk dua mantan Kepala Komisi Militer Pusat (CMC) dan beberapa jenderal top lainnya.
Sementara itu, pengamat lain dari AMS, Shen Zhihua, menilai kedudukan Xi saat ini sebagai sekretaris jenderal PKC dan kepala CMC merupakan langkah penting untuk meningkatkan kontrol PKC ke militer.
"Memegang dua posisi penting bakal memastikan PLA mengikuti partai selamanya," kata Shen.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4519 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2334 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 1982 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1601 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1041 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun