Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 15 Agustus 2026
Australia Bantu Pemusnahan Unggas di Jembrana
Tukadaya
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Pemerintah Australia melalui Food Agriculture Organization (FAO) Australia, ikut membantu Pemkab Jembrana dalam pemusnahan unggas di Desa Dangin Tukadaya. Bantuan yang diberikan berupa gas beracun CO 2, yang dipakai untuk memusnahkan unggas (stamping out).
Hari ini (15/08), upaya pemusnahan unggas massal di Desa Dangin Tukad aya Jembrana masih terus dilakukan. Berbeda dengan hari sebelumnya, hari ini dicoba sebuah metode baru, yakni membunuh ayam dengan gas beracun CO 2. Gas ini digunakan untuk mempermudah proses pemusnahan dan meminimalkan kontak dengan unggas.
Pemusnahan dengan metode gas beracun ini merupakan yang pertama kalinya dilakukan di Indonesia.
Unggas yang berhasil ditangkap tidak disembelih seperti yang dilakukan sebelumnya. Unggas yang berhasil ditangkap dimasukkan ke dalam kantong plastik, dan kemudian diisi Gas CO 2.
“Metode ini sangat efektif, karena dengan waktu yang sangat singkat, yakni sekitar 70 detik, puluhan ayam - ayam ini langsung mati,†kata Dirkeswan Deptan Dirjen Peternakan Pusat, drh. H. Musny Suatmodjo ,MM.MSC.
Usai diracun gas CO 2, unggas yang mati tersebut kemudian dibakar dalam sebuah insenerator (gus)
Reporter: bbn/ctg
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4527 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2340 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 1986 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1604 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1046 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun