Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Rabu, 29 Juli 2026
Penjajah Jepang Takluk, Belanda Kembali ke Bali Lewat NICA
Rabu, 17 Agustus 2016,
08:05 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Babak baru perjuangan kemerdekaan RI di Bali dimulai pada 2 Maret 1946. Hari itu, tentara Sekutu yang diboncengi pasukan NICA (Netherlands India Civil Administration) mendarat di Sanur. Begitu mendarat, pasukan sekutu langsung menyebar ke seluruh Bali dipimpin pasukan Australia.
Mereka berkonvoi mengendarai truk berbendera sekutu menuju tempat tawanan Jepang dan tangsi militer Jepang di seluruh Bali. Semua tentara Jepang yang berstatus tawanan perang diperintahkan naik truk dan dibawa pergi.
Setelah tugasnya menahan sisa pasukan Jepang selesai, pasukan NICA tetap tinggal di Bali. Mereka menguasai tangsi dan markas militer yang sebelumnya dipakai Jepang. Bendera pimpinan sekutu, Australia, lambat laun diganti dengan bendera Belanda.
Tak lama kemudian beredar pengumuman kekuasaan di Indonesia dikembalikan kepada Belanda melalui NICA. Dengan pengumuman itu jelas sudah Belanda ingin kembali menjajah Nusantara.
Sikap Belanda yang tidak mau mengakui kemerdekaan Indonesia membuat perang tidak terhindarkan. Pertempuran mulai meletus di banyak tempat di tanah air termasuk di Bali.
Dalam Biografi Drs. I Nyoman Sirna MPH, "Sang Guru, Sebuah Memoar Tentang Perjuangan dan Pengabdian", yang ditulis Indrawati Muninjaya, Nyoman Sirna menuturkan, pertempuran sporadis terjadi di Bali menentang Belanda, mencapai puncaknya pada Puputan Margarana 20 November 1946 di Tabanan. Pada pertempuran itu, hampir seratus orang anggota pasukan Kepala Divisi Sunda Kecil, Kolonel Gusti Ngurah Rai Gugur. Di Pihak Belanda, dilaporkan 400 tentara NICA tewas.
Sejak itu, tidak ada lagi perlawanan besar-besaran menentang Belanda di Bali. Namun para pemuda tetap berjuang meski dengan skala kecil dan sporadis. Mereka berusaha tetap memelihara semangat proklamasi kemerdekaan Indonesia. Setiap sore, Nyoman Sirna dan pasukannya rutin berkumpul di rumah Nyoman untuk bertukar informasi.
Dengan ditandatanganinya Konferensi Meja Bundar pada 27 Desember 1949 di Den Haag Belanda dan adanya kesepakatan para pemimpin di Jakarta, keadaan Indonesia mulai relatif aman. Belanda secara resmi mengakui kemerdekaan Indonesia. Sejak itu, warga mulai dapat beraktifitas seperti biasa. [bbn/rst/psk]
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/psk
Berita Terpopuler
01
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3883 Kali
02
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2808 Kali
03
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2033 Kali
04
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 1983 Kali
05
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1802 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Sabtu, 18 Juli 2026
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Selasa, 16 Juni 2026
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Senin, 25 Mei 2026
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Senin, 18 Mei 2026
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026