Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Selasa, 27 Oktober 2026
Penjajah Jepang Takluk, Belanda Kembali ke Bali Lewat NICA
Rabu, 17 Agustus 2016,
08:05 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Babak baru perjuangan kemerdekaan RI di Bali dimulai pada 2 Maret 1946. Hari itu, tentara Sekutu yang diboncengi pasukan NICA (Netherlands India Civil Administration) mendarat di Sanur. Begitu mendarat, pasukan sekutu langsung menyebar ke seluruh Bali dipimpin pasukan Australia.
Mereka berkonvoi mengendarai truk berbendera sekutu menuju tempat tawanan Jepang dan tangsi militer Jepang di seluruh Bali. Semua tentara Jepang yang berstatus tawanan perang diperintahkan naik truk dan dibawa pergi.
Setelah tugasnya menahan sisa pasukan Jepang selesai, pasukan NICA tetap tinggal di Bali. Mereka menguasai tangsi dan markas militer yang sebelumnya dipakai Jepang. Bendera pimpinan sekutu, Australia, lambat laun diganti dengan bendera Belanda.
Tak lama kemudian beredar pengumuman kekuasaan di Indonesia dikembalikan kepada Belanda melalui NICA. Dengan pengumuman itu jelas sudah Belanda ingin kembali menjajah Nusantara.
Sikap Belanda yang tidak mau mengakui kemerdekaan Indonesia membuat perang tidak terhindarkan. Pertempuran mulai meletus di banyak tempat di tanah air termasuk di Bali.
Dalam Biografi Drs. I Nyoman Sirna MPH, "Sang Guru, Sebuah Memoar Tentang Perjuangan dan Pengabdian", yang ditulis Indrawati Muninjaya, Nyoman Sirna menuturkan, pertempuran sporadis terjadi di Bali menentang Belanda, mencapai puncaknya pada Puputan Margarana 20 November 1946 di Tabanan. Pada pertempuran itu, hampir seratus orang anggota pasukan Kepala Divisi Sunda Kecil, Kolonel Gusti Ngurah Rai Gugur. Di Pihak Belanda, dilaporkan 400 tentara NICA tewas.
Sejak itu, tidak ada lagi perlawanan besar-besaran menentang Belanda di Bali. Namun para pemuda tetap berjuang meski dengan skala kecil dan sporadis. Mereka berusaha tetap memelihara semangat proklamasi kemerdekaan Indonesia. Setiap sore, Nyoman Sirna dan pasukannya rutin berkumpul di rumah Nyoman untuk bertukar informasi.
Dengan ditandatanganinya Konferensi Meja Bundar pada 27 Desember 1949 di Den Haag Belanda dan adanya kesepakatan para pemimpin di Jakarta, keadaan Indonesia mulai relatif aman. Belanda secara resmi mengakui kemerdekaan Indonesia. Sejak itu, warga mulai dapat beraktifitas seperti biasa. [bbn/rst/psk]
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/psk
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5926 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4648 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2613 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2270 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026