Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 Juli 2026
Ngendag Memacul, Ritual Memohon Ijin Mulai Mencangkul
Ritual Pertanian Masyarakat Bali (2)
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Guna mulai melakukan kegiatan mencangkul di Sawah, petani di Bali mengawali dengan ritual ngendag memacul. Ngendag memacul atau juga ada yang menyebut dengan ngeluku atau ngendagin merupakan ritual memohon ijin kepada ibu pertiwi untuk mulai mencangkul.
[pilihan-redaksi]
Peneliti dari Universitas Airlangga Ni Wayan Sartini dalam sebuah artikel ilmiah berjudul “Makna simbolik bahasa ritual pertanian masyarakat Bali” yang dipublikasikan dalam Jurnal Kajian Bali Volume 07, Nomor 02, tahun 2017 menuliskan bahwa Ngendagadalah kata kerja yang bermakna ‘memulai’.
Memacul artinya ‘mencangkul’. Ritual ngendag memacul adalah upacara untuk memulai mencangkul sawah dengan mencangkul tiga kali pengalapan ‘hulu sawah’ secara simbolis diiringi dengan mantra (wacana ritual) yang diucapkan oleh petani dan ditujukan kepada Dewi Sri yaitu ”Om Bhatari Sri wastu ya nama swaha”.
Wacana ritual ini bermakna permohonan dan pemujaan kepada Dewi Sri untuk meminta ijin memulai mencangkul. Saat memulai mencangkul (ngawit numbeg) petani akan mengucapkan mantra “ Om Ibu Pertiwi ngulun anedahasa, wredyastu ya namah swaha”. Tujuannya pemujaan kepada Ibu Pertiwi (tanah) dan permohonan agar diberikan keselamatan ketika memulai mencangkul sawah.
Upakara atau ritual ngendag memacul dengan mantra dan sarananya adalah simbol bahwa masyarakat petani Bali menghormati ciptaan Tuhan sehingga dalam kegiatan tersebut diawali dengan mantra meminta ijin kepada Dewi Sri sebagai dewi padi.
Dalam mitos-mitos budaya, sampai saat ini Dewi Sri diyakini sebagai asal mula tanaman padi (Suaka, 2013).
Dalam mantra memulai mencangkul pun (ngawit numbeg) mantra yang diucapkan tersebut sebagi simbol pemujaan dan permohonan ijin kepada Ibu Pertiwi (tanah) agar diberikan keselamatan dalam pekerjaan.
Ideologi yang tampak dari ritual dan mantra ngendag memacul adalah penerapan Tri Hita karana yakni hubungan manusia dengan Tuhan Yang Mahakuasa (parahyangan).
[pilihan-redaksi2]
Peneliti dari Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar yang terdiri dari I Made Krisna Dinata, I Nyoman Sueca, dan Ni Nyoman Mariani dalam sebuah artikel ilmiah berjudul “Nilai Pendidikan Agama Hindu Dalam Upacara Ngusaba Padi di Pura Subak Uma Utu, Desa Adat Babahan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan” yang dipublikasikan dalam Jurnal Penelitian Agama Hindu, Volume 2, Nomor 1 tahun 2018 menuliskan ritual ngeluku atau ngendagin dilakukan setelah ritual mapag toya dan dilakukan saat matahari terbit.
Ritual ini menggunakan sejajen segehan serta nasi kepel, kojongan yang isinya sirih dan tembakau. Ritual ini mengisyaratkan kepada krama Subak bahwa hari itu sudah mulai memasuki proses penggemburan tanah di sawah.
Penggemburan tanah merupakan suatu hal yang lumrah dilakukan saat areal persawahan akan ditanami bibit padi. Setelah itu keesokan harinya dilanjutkan dengan menyelesaikan tempat pembibitan padi tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan menghaturkan sesajen yang berisikan peras, benang dan daun dadab yang di tumbuk, lalu direndam bersamaan dengan bibit ini selama 3 hari.
Teks-teks ritual tersebut menunjukkan konsep yang dianut oleh masyarakat petani di Bali yaitu konsep Tri Hita Karana yaitu adanya tiga macam hubungan yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam lingkungannya.
Para petani sadar betapa sawah yang akan dikerjakannnya adalah ciptaan Tuhan sehingga memohon agar pekerjaan tersebut dapat dilakukan tanpa halangan dan hambatan. [bbn/Jurnal Kajian Bali-Jurnal Penelitian Agama Hindu/mul]
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3895 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2918 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2048 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2010 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1808 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun