Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Terdapat 4 Alasan Penyebab Kemunculan Tukang Suun Anak di Pasar Badung
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Terdapat 4 alasan yang menjadi penyebab kemunculan tukang sun anak di Pasar Badung. Keempat alasan tersebut yaitu kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan orangtua, keinginan individual, dan rendahnya pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap upaya meminimalisasi pekerja anak.
[pilihan-redaksi]
Hal tersebut terungkap dalam sebuah artikel ilmiah berjudul “Tukang Suun Anak-Anak : Bentuk Eksploitasi Orangtua Terhadap Anak (Studi Kasus di Pasar Badung, Denpasar-Bali)” yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Sosiologi (Sorot), volume 1 nomor 1 tahun 2016. Artikel ditulis oleh Putu Fania Pebriani, Ni Luh Nyoman Kebayantini, dan Ketut Sudhana Astika dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana.
Putu Fania Pebriani dan kawan-kawan menuliskan bahawa kemiskinan pada keluarga tukang suun anak-anak disebabkan oleh sumber daya alam yang kurang mendukung di daerah asalnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga tukang suun anak-anak berasal dari desa Tianyar Tengah (wilayah Pedahan), kecamatan Kubu, Karangasem dimana wilayah tersebut merupakan daerah dengan tingkat kesejahteraan hidup di bawah rata-rata dengan sumber daya alam yang sangat kering dan kurang memadai.
Rendahnya tingkat pendidikan orangtua tukang suun anak-anak juga turut memicu munculnya pola pikir dari orangtua yang masih menganggap remeh dampak negatif yang akan dialami oleh anak apabila bekerja di usia dini.
[pilihan-redaksi2]
Orangtua beranggapan bahwa mempekerjakan anak di usia dini merupakan hal yang dianggap wajar dan baik karena dapat menjadikan anak sebagai pribadi yang mandiri dalam meraih penghasilan.
Pada sisi lain, menjadi tukang suun untuk membantu orangtua merupakan cara yang dilakukan oleh tukang suun anak-anak untuk menghormati orang tuanya.
Keinginan individual anak untuk bekerja sebagai tukang suun muncul karena adanya perasaan bangga bisa memperoleh uang secara mandiri, takut dicap sebagai anak yang malas dan durhaka oleh orangtua, masih tergantung dengan orangtua, ajakan dari teman-temannya, trauma duduk di bangku sekolah, dan untuk menghindari perlakuan tidak menyenangkan dari tetangga di rumah kontrakannya.
Keberadaan tukang suun anak-anak yang bekerja di Pasar Badung juga dipengaruhi oleh minimnya pemahaman masyarakat dan orang tua tukang suun anak-anak tentang peraturan anak-anak yang terpaksa bekerja dan hak-hak anak yang termuat dalam Undang-Undang Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002 termasuk juga mengenai sanksi yang termuat didalamnya.
Selain itu, masih eksisnya keberadaan tukang suun anak-anak juga dipengaruhi oeh adanya sikap apatis orangorang yang berada di Pasar Badung tentang adanya larangan mempekerjakan anak-anak di usia dini yang termuat dalam papan pengumuman yang dipasang di setiap sudut pasar. [bbn/Sorot/mul]
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5921 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4640 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2611 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2267 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2216 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan