Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Selasa, 27 Oktober 2026
"Lilin Kecil" Untuk Sunari yang Kian Redup Terkubur Globalisasi
Kamis, 4 Juli 2019,
10:56 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Budayawan Anak Agung Gde Raka menuturkan workshop Pembuatan Sunari dapat diibaratkan sebagai lilin kecil untuk sunari sebagai lokal genius Bali.
[pilihan-redaksi]
“Pindekan ini masih ada, sedangkan sunari ini sudah langka,” tuturnya saat pelaksanaan Workshop Pembuatan Kincir Angin atau Sunari sebagai rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41 adalah sebuah lilin kecil untuk menyinari keberadaan sunari yang kian redup terkubur globalisasi.
“Pindekan ini masih ada, sedangkan sunari ini sudah langka,” tuturnya saat pelaksanaan Workshop Pembuatan Kincir Angin atau Sunari sebagai rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41 adalah sebuah lilin kecil untuk menyinari keberadaan sunari yang kian redup terkubur globalisasi.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu sore (3/7) bertempat di Kalangan Ayodya, Taman Budaya, Denpasar cukup banyak menyedot perhatian masyarakat Bali. Mengundang Ida Bagus Panji Yasa seorang seniman sunari sebagai pembicara dan Anak Agung Gde Raka sebagai moderator membuat acara ini semakin hidup.

Sebagai moderator Raka cukup pandai dalam menggiring masyarakat untuk bertanya agar lebih memahami esensi sunari. Workshop yang dimulai pada pukul 14.00 wita ini memang erat kaitannya dengan tema PKB yakni Bayu Pramana. “Tema bayu itu kan angin berarti kita memberdayakan sumber daya angin dan salah satunya dengan kegiatan ini,” jelas Raka.
Sunari yang merupakan kincir angin bernafas Bali berfungsi sebagai media kegiatan keagamaan Hindu dalam upacara memungkah. Saat generasi seniman sunari terancam tiada, acara ini pun diharapkan dapat membangkitkan sunari sebagai kearifan lokal Bali. Sehingga bagi Raka, sudah saatnya sepuh seperti dirinya dan Ida Bagus Panji Yasa untuk ‘jemput bola’ mengingatkan anak muda.
“Sebagai orang tua kita mengingatkan putra-putri kita, di tengah-tengah remaja disibukkan dengan gadget ingatkan dia dengan tradisi,” tutur Raka.

[pilihan-redaksi2]
Panji yang menjadi narasumber turut mendemonstrasikan pembuatan sunari kepada peserta workshop. Salah satu peserta workshop yakni Anak Agung Ketut Diatmika berujar, dirinya memang mengincar untuk hadir dalam workshop ini.
Panji yang menjadi narasumber turut mendemonstrasikan pembuatan sunari kepada peserta workshop. Salah satu peserta workshop yakni Anak Agung Ketut Diatmika berujar, dirinya memang mengincar untuk hadir dalam workshop ini.
“Sebagai orang Bali yang tinggal di rantauan, saya memiliki kewajiban untuk menjaga kebudayaan Bali dimana pun saya tinggal,” ucap Diatmika.
Pria yang tinggal di Ibu Kota Jakarta ini pun kerap kali dipercaya berdharma wacana untuk umat Hindu di Jakarta. Diatmika pun mengharapkan dengan adanya workshop ini dapat membangun kesadaran bersama menjaga kelestarian sunari dan kearifan lokal Bali lainnya. (bbn/rls/rob)
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5917 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4639 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2604 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2260 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2215 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026