Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Jumat, 30 Oktober 2026
Wagub Cok Ace dan Putri Koster Terlibat "Perang Tipat Bantal" di Desa Adat Kerobokan
Jumat, 2 Agustus 2019,
10:18 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, BADUNG.
Beritabali.com, Kerobokan. Wakil Gubernur Bali Cokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) dan Istri Gubernur Putri Suastini Koster terlibat "Perang" Tipat Bantal atau yang disebut 'Mesiat Ketipat Bantal'.
[pilihan-redaksi]
Kegiatan tersebut merupakan serangkaian Karya Agung Mamungkah, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa, Ngusaba Nini, Tawur Balik Sumpah Utama, Pedudusan Agung lan Segara Kerthi di Pura Desa dan Pura Puseh Desa Adat Kerobokan Badung yang dilaksanakan Kamis (1/8/2019) sore.
Kegiatan tersebut merupakan serangkaian Karya Agung Mamungkah, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa, Ngusaba Nini, Tawur Balik Sumpah Utama, Pedudusan Agung lan Segara Kerthi di Pura Desa dan Pura Puseh Desa Adat Kerobokan Badung yang dilaksanakan Kamis (1/8/2019) sore.
Ribuan krama Desa Adat Kerobokan, Badung tumpah ruah menyaksikan Perang Tipat Bantal yang baru digelar kembali sejak dilaksanakan pada tahun 1979 silam ini. Cok Ace dalam sambutan singkatnya menyambut positif digelarnya kembali tradisi perang tipat bantal ini.
Bahkan Wagub juga turut “perang” melawan Putri Suastini Koster. Wagub bersama 50 anggota timnya sebagai “bantal (purusa-lelaki) melawan Putri Koster dengan timnya beranggotakan 50 orang yang berperan sebagai tipat (pradana-perempuan). Diiringi tabuh, kedua tim saling lempar bantal dan tipat dari jarak cukup dekat sekitar 10 meter.

Ribuan warga bersorak girang menyaksikan aksi perdana tersebut. Perang Tipat Bantal kali ini menurut Pemucuk Karya Agung Drs. A.A. Ngurah Gede Sujaya, M.Pd. dan Jero Bendesa Desa Adat Kerobokan A.A. Putu Sutarja,S.H. melibatkan perwakilan dari 50 banjar yang ada.
Masing-masing banjar diwakili 10 anggotanya. Mengingat banyaknya peserta, perang ini digelar dalam lima sesi masing-masing dengan kekuatan 100 orang.
“Yang lempar bantal 50 orang dan 50 lainnya melempar tipat,” jelas A.A. Putu Sutarja.
Dijelaskan ukuran tipat maupun bantal sudah ditentukan agar tidak terlalu besar agar tidak membahayakan bila sampai kena. Menurutnya, “wasit” dalam perang ini lebih menitikberatkan rasa bhakti, ngayah, saling asah asih dan asuh.
"Tak boleh ada dendam. Juga tak boleh ada peserta yang minum alkohol. Tipat dan bantal juga harus beradu di atas. Tak boleh ke bawah. Jadi ada jarak dan tipat maupun bantal yang sudah jatuh tak boleh dipakai kembali. Perang otomatis selesai ketika tipat dan bantal habis," ungkapnya.

A.A Sutarja menambahkan tujuan kegiatan ini juga sebagai wujud rasa syukur kepada Dewi Sri yang telah memberi nasi (beras) kepada umatnya. “Pertemuan tipat dan bantal diharapkan akan menghasilkan rasa dan bibit yang bagus,” tambahnya.
Sebelum perang tipat bantal ini dimulai, krama adat yang hadir melakukan persembahyangan bersama dan mengucapkan semangat yel yel “krama desa masikian, desa kerobokan degdeg, jagad bali sukerta”.
Karya Agung di Desa Adat Kerobokan ini dilaksanakan berkaitan telah selesainya pemugaran fisik di pura. Karya Agung ini dilaksanakan sebagai wujud rasa Stiti Bhakti dan Angayubagia (Puji syukur dan bhakti) kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) atas Penciptaan Alam Semesta ini dan atas segala anugerah yang telah dilimpahkan kepada umat manusia dalam kehidupan ini.
[pilihan-redaksi2]
Selain itu, upacara untuk menyucikan seluruh bangunan (pelinggih) pada tempat suci atau Pura dan lingkungan Pura yang terdiri dari Tri Mandala yakni Utama Mandala, Madya Mandala dan Nista Mandala, dimana sebelumnya bahan bangunannya terdiri dari unsur yang belum suci, termasuk sentuhan para tukang (undagi) yang perlu disucikan.
Selain itu, upacara untuk menyucikan seluruh bangunan (pelinggih) pada tempat suci atau Pura dan lingkungan Pura yang terdiri dari Tri Mandala yakni Utama Mandala, Madya Mandala dan Nista Mandala, dimana sebelumnya bahan bangunannya terdiri dari unsur yang belum suci, termasuk sentuhan para tukang (undagi) yang perlu disucikan.
Rangkaian upacara Karya Agung ini telah dimulai pada Buda Kliwon Gumbreg, 19 Juni lalu dengan “matur piuning dan pewintenan panitia karya” dan Puncak Karya pada tanggal 29 Juli 2019. Nyineb akan dilaksanakan pada Anggara Pon Langkir (6/8/2019). Seluruh rangkaian karya akan berakhir pada 9 Agustus nanti yakni Nyegara Gunung dan Bulan Pitung Dina. (bbn/rls/rob)
Berita Badung Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5994 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4677 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2656 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2316 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2235 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026