Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 28 Oktober 2026
Anggaran Layanan Lansia dan ODGJ di Tabanan Dipangkas
BERITABALI.COM, TABANAN.
Anggaran layanan lansia dan orang dengan gangguan jiwa atau ODGJ tahun ini kena pangkas.
Kepala Dinas Sosial Tabanan Nyoman Gede Gunawan mengatakan anggaran tersebut bukan dipangkas tetapi dikurangi. Ada beberapa post anggaran yang dikurangi seperti rehab kamar mandi yang klosetnya perlu dibenahi dan rehab gedung.
"Tidak banyak bukan dipangkas tetapi dikurangi untuk biaya makan dan minum tidak," ujarnya, Senin (26/10).
Pemkab Tabanan miliki Pondok Jompo Werdhi Santhi (untuk lansia) dan Pondok Laras Mandiri (untuk ODGJ) yang sekarang telah menjadi UPTD Pelayanan Sosial Kampung Investasi Hati.
Pondok ini berlamat di Banjar Wanasara, Desa Bongan, Kecamatan Tabanan. Tetapi karena defisit, tahun 2020 biaya operasional dipangkas. Sesuai KUA-PPAS 2020 anggaran di plot Rp 200 juta. Padahal dana ideal untuk doa pondok tersebut mencapai Rp 500 juta.
Gunawan menyebut, pondok digagas memang untuk merawat para lansia yang tinggal sendirian dirumah. Termasuk merawat ODGJ yang mana keluarga mempercayakan di pondok demi keamanan.
"Pengasuh kami sediakan, mereka menerima uang jasa seperti pegawai kontrak dengan jumlah Rp 1,1 juta setiap bulan,” imbuhnya.
Sementara itu, Kasubag TU UPTD Pelayanan Sosial Kampung Investasi Hati I Made Sujana mengungkapkan bahwa sesuai KUA-PPAS tahun 2020 anggaran di plot hanya Rp 200 juta untuk kedua pondok sehingga masing-masing pondok mendapat Rp 100 juta. Harusnya anggaran ideal yang diperlukan sebesar Rp 500 juta masing-masing pondok Rp 250 juta.
"Kalau hanya Rp 100 juta, operasional, minum makan hanya cukup 2 bulan, sebab sebagian digunakan untuk uang jasa pengasuh," ujarnya.
Menurutnya di dua pondok ada 10 pengasuh. Tugas mereka cukup berat karena tidak dapat libur. Mereka harus memasak, memandikan lansia yang tidak bisa bangun, bahkan parahnya membersihkan kotoran ketika ada lansia atau ODGJ yang membuang kotoranya tidak pada tempatnya.
"Mereka ini (pengasuh) sungguh-sungguh bekerja tidak ada istilahnya berbohong sebab tidak ada libur meski hari raya, dan hanya diberlakukan shift saja," ujarnya.
Dengan kondisi itu Sujana berharap anggaran bisa diperjuangkan sebab saat ini di pondok lansia merawat 9 lansia dan di pondok laras merawat 10 ODGJ. Namun apabila tidak bisa diganggu gugat mungkin akan mengandalkan donasi dari masyarakat.
"Pokoknya berharap agar bisa ditambah, jangan hanya di plot Rp 100 juta karena itu benar-benar belum cukup," harapnya.
Sementara di tahun 2019 ini anggaran yang didapat di pondok laras sebesar Rp 195 juta lebih dan pondok lansia Rp 218 juta namun masih gabung dengan jumlah pos anggaran di Dinas Sosial Tabanan.
Reporter: bbn/tab
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5944 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4658 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2631 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2285 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2224 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan