Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Lecehkan Sulinggih, Puskor Hindunesia Laporkan AWK ke Polda Bali

Selasa, 21 Januari 2020, 11:20 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali.com/file

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Pusat Koordinasi Hindu Indonesia, Selasa (21/1/2020) melaporkan warga yang juga senator Bali Arya Wedakarna ke Polda Bali atas laporan melecehkan dan menghina sulinggih atau pendeta Hindu.

"PuskorHindunesia hari ini melaporkan kasus pelecehan dan penghinaan sulinggih yang dilakukan Arya Wedakarna saat darmawacana 22 Desember 2019 lalu. Kami tekankan bahwa kami selaku umat Hindu sangat merasa dilecehkan oleh ucapannya, dimana dia yang mengaku tokoh Hindu tapi malah menyumpah sulinggih agar cepat mati atau madak pang enggal mati," ujar pelapor yang juga Ketua Puskor Hindunesia, Ida Bagus Susena, saat ditemui di Polda Bali.    

Menurutnya ini sudah merupakan pelecehan simbol Hindu karena sulinggih juga merupakan simbol Hindu yang disucikan.

"Dia (AWK) harusnya ikut menjaga kesucian para sulinggih, tapi dia (AWK) yang mengaku tokoh ternyata tidak memiliki etika dan tidak memiliki kewarasan. Orang Hindu dalam berucap berkata harus menjaga etika. Etika dan susila itu wajib jadi pedoman. Ketika ini dilecehkan, kita komponen Hindu bergerak,"ujar Susena.

Terkait pernyataannya tentang gelar "Surya" dan penghinaan sulinggih di Bali yang menjadi polemik dan dianggap memprovokasi, Arya Wedakarna (AWK) sebelumnya telah memberikan klarifikasi. 

"Terus terang saja perbedaan pandangan antara Sarwa Sedaka dan Tri Sedaka itu masih ada, dan rakyat kecil masih takut menyuarakan. Sebagai Ksatria tentu harus membela para Sulinggihnya, termasuk mensejajarkan kesulinggihan di semua tingkatan," sebutnya saat memberi klarifikasi kepada Beritabali.com.

Tri Sedaka adalah pendeta Hindu dari Warga Brahmana Siwa (Pedanda Siwa), Warga Brahmana Bhoda (Pedanda Bhoda) serta dari Warga Bhujangga Waisnawa (Jero Gede). Sementara Sarwa Sedaka, yaitu pandita atau pendeta Hindu dari berbagai kelompok warga yang ada di Bali    Terkait polemik penyebutan "Surya" untuk kelompok tertentu di Bali, menurutnya, penyebutan "Surya" adalah hanya untuk para Dwijati, bukan untuk Walaka (warga biasa), karena di Hindu hanya dikenal dengan sistem "Warna". 

"Bagi kami gelar "Surya" itu khusus bagi Brahmana Embas apapun sorohnya," ujarnya. 

Secara internal sebagai Penglingsir Tegeh Kori, pihaknya selalu menyebut para Pandita sulinggih dengan Surya.   

"Jadi jelas gelar “Surya” bukan monopoli satu kelompok. Intinya tidak boleh ada yang memonopoli kebenaran di Bali," tandasnya.

Pernyataan Wedakarna yang menimbulkan pro dan kontra di masyarakat tersebut disampaikan saat ia diundang oleh Griya Bhujangga untuk memberi Dharma Wacana dan itu disampaikan di hadapan para pemangku Hindu se-Bali. 

Apa yang disampaikan, menurut Senator Bali kontroversial ini, dinilai sebagai sesuatu yang biasa saja dan apa adanya. Ia menegaskan memang ada yang perlu diluruskan agar tidak ada persepsi yang keliru terhadap posisi kesulinggihan di Bali.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/tim



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami