Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 28 Oktober 2026
Raup Untung Rp50 Juta dan Bisa ke Jepang dari Usaha Porang
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Agustinus Adil (49) tak menyangka tanaman porang bisa membawanya ke Jepang. Petani asal Kampung Lendo, Desa Gunung Baru, Kecamatan Kota Komba Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur ini pada 2020 lalu, selama 9 bulan belajar cara pengolahan porang ke sejumlah perusahaan di negeri sakura.
Agustinus bercerita, awalnya dia menanam 30 tanaman porang. Bibit porang diambil langsung dari hutan.
Saat itu orang belum begitu tertarik menanam tanaman porang. Tanaman ini menjadi tanaman liar yang tersebar di hutan dan kebun milik warga.
Hal ini karena saat itu belum diketahui manfaat tanaman porang. Sampai akhirnya banyak pembeli yang mencari untuk diekspor ke luar negeri.
"Saya terus tekun dan fokus menanam tanaman porang di kebun. Saya hanya mengembangkan tanaman porang secara mandiri. Hingga awal 2020, seorang Pastor Paroki Mbata, Romo Bernardus Palus, melirik tanaman porang saya dengan melihat langsung di kebun," kata Agus, lewat sambungan telepon kepada Kompas.com, Rabu (14/4/2021).
Pastor Palus lalu memberi tahu relasinya di Jakarta, yang akhirnya tertarik membeli dan memesan tanaman porang Agustinus. Pastor Palus juga menawari Agustinus magang di Jepang.
"Awalnya, saya tak menduga ditawarkan oleh imam itu untuk magang di Jepang 2020. Akhirnya saya memutuskan untuk menerima tawaran itu untuk belajar langsung cara mengolah bahan-bahan porang untuk berbagai keperluan produk makanan, minuman di Jepang. Segala administrasi, seperti paspor untuk ke Jepang diurus oleh imam itu. Maret 2020, saya berangkat ke Jepang," ujar dia.
Raup untung
Setelah pulang dari Jepang, Agustinus langsung mempraktikkan ilmu yang dia dapatkan.
Yaitu cara menanam porang yang baik dan mampu menghasilkan tanaman yang berkualitas. Misalnya, Agustinus belajar bahwa menanam porang dengan sistem terasering hasilnya lebih bagus.
Begitu juga dengan pemupukan yang lebih baik dilakukan secara alamiah dari daun-daun kering. Hal lain adalah porang ditanam di tanah gembur. Jika tidak, isi porang tidak berkembang.
Bebatuan kecil dan akar kayu harus dikeluarkan dari tanah. Jarak tanam antara benih itu sekitar 60 sentimeter. Baiknya tidak mencampur tanaman porang dengan tumbuhan lain, karena jika berimpit dengan tumbuhan lain berpotensi tidak berkembang.
Tanaman kemiri tidak boleh ada di kebun porang. Sebab menurut dia bisa menyebabkan tanaman porang tidak berkembang karena penuh dengan akar. Kuncinya agar porang berkualitas, kata Agustinus, jangan memberi pupuk kimia atau menyemprot dengan obat-obatan kimia.
"Dulu saya jual ke Jawa. Hasil penjualannya saya memperoleh uang dari Rp30 juta sampai Rp50 juta. Ada seorang petani di Lendo yang mengikuti apa yang saya lakukan memperoleh uang Rp70 juta," ujar Agustinus.
Saat ini Agustinus juga aktif mengajarkan para petani di desanya cara menanam porang hingga memiliki kualitas dan nilai jual yang tinggi.(sumber: kompas.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5934 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4649 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2618 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2275 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan