Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Ayu Saraswati Ajak Biro Perjalanan Wisata Menjangkau Milenial

Lansekap Bisnis Berubah

Jumat, 6 Agustus 2021, 16:20 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali.com/ist/Ayu Saraswati Ajak Biro Perjalanan Wisata Menjangkau Milenial

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Untuk dapat bertahan di era pandemi Covid-19 seperti sekarang, pelaku perjalanan wisata di Bali didorong memperbanyak sinergi dengan pemilik properti pariwisata baik itu hotel, homestay hingga destinasi wisata. 

Menurut owner dan CEO Toya Yatra Travel Putu Astiti Saraswati, sinergi merupakan kunci utama bertahan di tengah-tengah pandemi. Meskipun data BPS Bali, pada triwulan II/2021, perekonomian mulai tumbuh positif positif 2,83% (yoy) meningkat dari -9,81% (yoy) pada triwulan sebelumnya, tetapi banyak pelaku usaha di lapangan masih kesulitan berbisnis. 

Khususnya, biro jasa perjalanan di Pulau Dewata yang kini sangat tertekan dengan adanya aturan bepergian seperti Peraturan Pembatasan Kegiataan Masyarakat (PPKM) dan penutupan perbatasan. 

Wanita yang akrab dipanggil Ayu ini memberikan solusi untuk mensiasati situasi serba berat seperti sekarang, skema kerja sama antara biro perjalanan dengan hotel dan daya tarik wisata perlu dirancang ulang dalam menghadapi pandemi yang berkepanjangan ini. Sinergi antar asosiasi pariwisata juga perlu dilakukan. Mantan sekretaris Asita untuk Asean Market ini menegaskan kerja sama bisa dikongkritkan dalam bentuk kampanye bersama. 

“Sinergi ini juga saling menguntungkan karena biro agen perjalanan dapat membuat kampanye sehingga saling menguntungkan. Ini menurut saya acara untuk bertahan karena tekanan sangat keras sekali bagi biro agen perjalanan wisata,” ujarnya salah satu kandidat Ketua Asita Bali 2021-2026, Jumat 6 Agustus 2021.

Mantan Wakil Bendara Asita Pusat 2009-2014 ini menekankan model ekonomi telah berubah drastis. Pandemi menjadi menyadarkan bahwa landsekap bisnis periode sekarang tidak seperti periode keemasan Bali dulu dimana pelancong akan datang dengan sendiri serta spending besar. Sekarang ini digitalisasi telah mempercepat penyampaian informasi serta penetrasi langsung kepada calon pelancong. Digitalisasi juga telah menyebabkan persaingan semakin ketat. 

Untuk dapat bertahan, biro perjalanan wisata menghadapi persaingan ketat dengan OTA. Efek yang muncul kemudian adalah, tipe pelancong berubah. Sekarang muncul namanya digital nomad tourism. Berwisata kini lebih mudah karena informasi melimpah dan dari sebuah gawai dapat langsung memesan. Transaksi pun telah berubah menjadi cashless. 

“Dunianya sudah berubah, lansekap bisnis juga berbeda. Sekarang anak muda semakin banyak berwisata dan mereka datang dengan mengandalkan kemudahan seperti OTA. Potensi seperti inilah yang mau tidak mau harus di grab oleh biro perjalanan wisata karena mereka memiliki potensi sangat besar kedepannya,” jelasnya. 

Ibu dua anak yang aktif berorganisas ini menekankan contoh kecil sinergi yang juga layak diterapkan saat ini adalah biro perjalanan wisata bekerja sama langsung dengan desa wisata. Biro perjalanan wisata yang membuatkan paket dan promosi. Model kerja sama seperti ini praktis langsung berdampak bagi kedua belah pihak. Diakui oleh owner Toya Devasya ini, situasi yang terjadi sekarang tidak bisa hanya mengeluh terus menerus. 

Akan lebih baik apabila sekarang adalah berubah dan beradaptasi. Karena situasinya sudah tidak sama lagi seperti dulu. Apabila dulu, mendapatkan margin besar sangat mudah, sekarang ini pun mendapatkan margin kecil tetap harus disyukuri. Untuk itulah, Ayu Saraswati mengajak agen biro perjalanan wisata untuk beradaptasi dengan situasi. Salah satu contohnya dengan memanfaatkan pasar domestik yang sangat besar karena penduduk Indonesia 240 juta lebih. 

Peluang yang sangat besar untuk program di Indonesia saja yang sudah di inisiasi oleh Kemenparekraf RI. Calon wisatawan domestic akan merasa lebih aman dan nyaman karena masyarakat di Bali tingkat kesadaran  dalam hal prokes mencapai 92% ini tertinggi di Indonesia. 

Salah satunya peluang yang sangat besar untuk program "Di Indonesia Saja" yang sudah di inisiasi oleh Kemenparekraf RI. Calon wisatawan domestic akan merasa lebih aman dan nyaman karena masyarakat di Bali tingkat kesadaran  dalam hal prokes mencapai 92% ini tertinggi di Indonesia.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/rls



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami