Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 25 Juli 2026
Mengenal Gamofobia Ketakutan untuk Menjalin Hubungan
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Seperti halnya fobia pada umumnya, gamofobia ditandai dengan ketakutan yang sebenarnya tidak sebanding dengan ancaman yang ada.
Ketakutan ini terjadi secara terus menerus, berulang setidaknya selama enam bulan.
Apa itu Gamofobia?
Dilansir dari laman very well mind Gamofobia adalah fobia atau ketakutan seseorang dalam menjalin hubungan, membuat komitmen, atau menikah.
Tentu saja keadaan ini membuat orang tersebut kesulitan menjalin hubungan dengan orang lain. Bahkan, ketakutan ini muncul hanya dengan memikirkannya saja. Tentu saja rasanya pasti cukup menyiksa, karena perasaan ingin bersama orang yang kita sayang bisa muncul kapan saja.
Ciri-ciri Gamofobia
Seseorang dengan gamofobia umumnya akan memilih untuk menjauhkan diri dari orang lain sebelum akhirnya benar-benar menyukainya. Mereka cenderung menghindari berkencan bahkan pada seseorang yang disayanginya.
Selain melalui perasaan, ciri-ciri gamofobia juga dapat dilihat secara fisik seperti berikut:
- Mudah berkeringat
- Sering merasakan tubuh gemetar
- Detak jantung lebih cepat dari nafas
- Hiperventilasi
Beberapa orang dengan gamofobia mungkin masih mampu menjalin hubungan dengan orang lain. Namun, ketika mereka memasuki tahapan lebih serius, ketakutan dan kecemasan itu tiba-tiba datang kembali.
Penyebab Gamofobia
Seperti fobia lainnya, gamofobia seringkali merupakan hasil dari beberapa faktor pemicu yang berbeda. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kecemasan ini muncul karena tuntutan sosial atau kewajiban finansial yang harus mereka penuhi dalam sebuah hubungan.
1. Pengalaman Buruk
Traumatis masih menjadi salah satu faktor terbesar muculnya gamofobia. Anak-anak yang tumbuh dalam rumah tangga dengan orang tua tidak bahagia, selalu bertengkar, atau bahkan mengalami kekerasan dalam rumah tangga umumnya menderita gamofobia karena takut menghadapi situasi yang sama.
Toxic relationship juga menjadi salah satu alasan kuat seseorang ketakutan menjalin hubungan romansa yang baru.
2. Gaya Pengasuhan
Anak-anak yang diasuh dengan penuh kasih sayang pada umumnya akan merasa lebih aman dan nyaman. Sementara itu, mereka yang merasa kurang kasih sayang, umumnya akan lebih waspada ketika akan bertemu dengan orang baru.
Sekali lagi perlu diingat bahwa gaya pengasuhan di masa kecil akan memiliki dampak besar di kehidupan dewasa
3. Genetika dan Pengaruh Keluarga
Sebagian penelitian juga menyebutkan bahwa genetika berperan dalam munculnya gamofobia dan kondisi kecemasan lainnya. Sifat-sifat yang diwariskan dapat membuat seseorang lebih rentan pada ketakutan. Terutama sifat-sifat yang dipelajari sendiri dalam lingkup keluarga. (Sumber : Suara.com)
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3828 Kali
Penembakan di Klub Malam Canggu, Dua Orang Terluka, Pelaku Diburu
Dibaca: 1490 Kali
Positif Ekstasi, Kanit Reskrim Polsek Kuta Ditahan Propam Polda Bali
Dibaca: 1470 Kali
Menhub Setuju Bandara Letkol Wisnu Dikembangkan di Bali Utara
Dibaca: 1423 Kali
Risiko terhadap Momentum Digital Indonesia
Dibaca: 1319 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun