Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Keterkaitan Konsumsi Daging Sapi Pada Anak dan Stunting
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Beberapa waktu lalu, ramai topik soal konsumsi daging rendah dengan risiko stunting pada anak yang beredar di Twitter. Topik ini bermula saat akun @beritaKBR mengunggah cuplikan podcast bersama pengusaha makanan vegan.
Dalam cuplikan tersebut, narasumber membahas soal produksi burger dari daging sapi yang mengancam perubahan iklim. Unggahan itu menimbulkan kontra di kalangan warganet. Banyak yang menganggap argumen itu tidak relevan di Indonesia yang konsumsi dagingnya masih rendah atau under-consumed.
Kemudian banyak pula warganet yang menghubungkan rendahnya konsumsi daging sapi di Indonesia dengan stunting pada anak. Lantas benarkah hal ini?
Menurut Sitta Muftiya S. Gz, stunting pada anak bukanlah masalah kekurangan makan daging sapi semata. Sebab, salah satu pemicu stunting pada anak adalah kekurangan gizi, terutama protein.
Sumber makanan protein yang paling lengkap (bioavabilitas tinggi) adalah protein hewani seperti telur, ikan, daging ayam/unggas, sapi, kambing, dan sebagainya.
"Karena sumber makanan hewani ini harganya lumayan tinggi di pasaran, sehingga sulit dijangkau oleh kalangan ekonomi bawah. Jadi banyak kasus stunting itu terkait dg kondisi kemiskinan," ujar Sitta Muftiya saat dihubungi Suara.com melalu WhatsApp, Kamis (31/3/2022).
Ia menambahkan, mengenai pemilihan protein hewani tidak terbatas pada daging sapi saja. Pada masyarakat pesisir misalnya, bisa mengonsumsi hasil laut yang tak kalah kandungan proteinnya.
"Intinya pada kandungan protein yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak. Semua jenis makanan hewani juga sama-sama mengandung protein. Pada ikan dan hasil laut lainnya, justru selain tinggi kandungan protein juga kaya omega-3 sebagai nutrisi otak," jelasnya.
Sehingga, rendahnya konsumsi daging sapi tidak berkorelasi dengan stunting pada anak. Hal yang perlu digarisbawahi adalah asupan protein yang diterima anak.
Bolehkah Anak Menjalani Pola Makan Vegan?
Terkait dengan pola makan vegan, Sitta Muftiya sendiri menekankan bahwa para Ahli Gizi sudah sepakat kalau diet vegan tidak dianjurkan untuk anak, mengingat pentingnya asupan protein hewani untuk mencegah stunting.
Namun untuk pola makan vegan yang masih longgar penerapannya, seperti memperbolehkan minum susu atau telur, maka akan lebih baik daripada vegan murni (vegetarian).
Meski demikian, jika diterapkan untuk jangka panjang tidak memungkiri bisa berdampak pada kekurangan gizi karena sumber proteinnya sangat terbatas. Sebab meski pola makan vegan bisa menggunakan sumber protein nabati yang sangat banyak, bioavabilitas protein nabati jauh lebih rendah dari protein hewani.
"Bioavabilitas adalah kelengkapan asam amino suatu protein. Kelengkapan asam amino inilah yang menentukan kualitas suatu protein. Sehingga sulit sekali jika dalam masa pertumbuhan anak-anak hanya mengandalkan protein nabati. Karena biovabilitasnya rendah, sehingga anak masih belum tercukupi kebutuhan proteinnya," jelas Ahli Gizi alumni Univesitas MH. Thamrin Jakarta ini. (Sumber: Suara.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5906 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4631 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2595 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2240 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2210 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan